Presiden Rusia Vladimir Putin menetapkan rencana pembentukan zona keamanan di wilayah Ukraina yang berbatasan langsung dengan Rusia. Area yang disebut Kremlin membentang 660 kilometer itu, menurut Putin, tidak akan dibahas sebagai bagian dari kemungkinan perundingan damai dengan Kyiv. Pernyataan tersebut ia sampaikan saat meninjau pos komando militer Rusia pada Jumat, 16 Oktober 2026, di tengah perang yang sudah berlangsung sejak Februari 2022.
Dalam kunjungan itu, Putin tampil dengan seragam militer dan menegaskan bahwa pasukannya tengah menjalankan tugas untuk mendorong mundur ancaman dari sisi perbatasan. Ia menyebut militer Rusia tidak hanya diminta mengusir lawan dari wilayahnya, tetapi juga membentuk kawasan penyangga di sisi Ukraina. Menurut dia, target itu sedang dikerjakan dan masuk dalam kepentingan strategis jangka panjang Rusia.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kemudian menjelaskan bahwa zona keamanan yang dimaksud mencakup bentangan sepanjang 660 kilometer. Ia mengatakan sekitar 70 persen dari area yang dituju sudah berada di bawah kendali pasukan Rusia. Meski begitu, Peskov tidak menguraikan seberapa jauh kawasan itu akan masuk ke wilayah Ukraina, sehingga angka tersebut merujuk pada panjang area sasaran, bukan kedalaman penetrasi militer dari garis perbatasan.
Reuters melaporkan, penguasaan yang diincar Rusia berkaitan dengan Provinsi Sumy dan Kharkiv. Dua wilayah itu sama-sama berada di utara dan timur laut Ukraina serta berdekatan dengan Rusia. Sumy berbatasan langsung dengan Kursk, sedangkan Kharkiv dikenal sebagai kawasan industri penting dan sudah lama menjadi salah satu titik tempur utama sejak invasi dimulai.
Langkah Moskow ini memperlihatkan bahwa perang tidak lagi hanya soal mempertahankan wilayah yang sudah diduduki Rusia, tetapi juga soal memperluas kendali dengan dalih keamanan perbatasan. Rusia sebelumnya telah mengklaim aneksasi atas Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson pada 2022, meski klaim itu tidak diterima Ukraina maupun mayoritas negara di dunia. Hingga kini, Moskow belum menyatakan aneksasi resmi terhadap Sumy dan Kharkiv.
Putin menghubungkan keputusan tersebut dengan serangan Ukraina ke Kursk pada 2024 hingga 2025. Operasi lintas batas yang dimulai pada Agustus 2024 itu sempat membuat pasukan Ukraina masuk ke wilayah Rusia dan menguasai sejumlah area untuk sementara. Kyiv saat itu berupaya mengganggu fokus militer Rusia sekaligus memperkuat posisi tawar dalam pembicaraan damai. Namun, Rusia kemudian melancarkan serangan balasan untuk merebut kembali kawasan yang sempat hilang.
Selain zona keamanan, Putin juga menyampaikan perkembangan operasi Rusia di Donetsk dan Zaporizhzhia. Ia mengatakan masih ada sedikit lebih dari 10 persen wilayah Donetsk yang belum dikuasai, sementara di Zaporizhzhia sekitar 16,5 persen masih di luar kendali pasukannya. Seluruh angka itu merupakan klaim dari pihak Rusia dan belum bisa diverifikasi secara independen. Dengan penegasan terbaru ini, peluang kompromi dalam perundingan damai tampak semakin sempit, karena Moskow menempatkan zona penyangga sebagai syarat yang tidak bisa ditawar.










Discussion about this post