Karo — Polisi mengungkap motif di balik pembunuhan Wakil Rektor II Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Indonesia Kabanjahe, Aspira Surbakti. Dua orang berinisial AD dan RS kini ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik menyimpulkan keduanya diduga datang untuk mencuri di rumah korban, bukan karena persoalan asmara.
Kapolres Karo AKBP Febriandi Haloho menjelaskan, dari hasil pemeriksaan sementara, kedua tersangka disebut sudah mengamati kebiasaan korban selama kurang lebih dua bulan sebelum kejadian. Dari pengintaian itu, mereka diduga mengetahui bahwa korban tinggal sendirian dan memiliki barang-barang bernilai tinggi serta kendaraan mewah.
“Kedua pelaku itu merencanakan pencurian dengan memata-matai aktivitas korban selama dua bulan terakhir. Mereka tahu korban tinggal seorang diri dan memiliki barang serta kendaraan mewah,” kata Febriandi di Kabanjahe, Selasa. Ia menambahkan, AD dan RS pernah bekerja sebagai buruh bangunan di kompleks perumahan tempat korban tinggal sehingga memahami kondisi lingkungan setempat.
Polisi juga memeriksa rangkaian pergerakan keduanya sebelum peristiwa maut itu terjadi. Berdasarkan penyidikan, AD dan RS berangkat dari Medan menuju Kabanjahe dengan kendaraan travel. Setibanya di lokasi, mereka diduga masuk ke rumah korban sekitar pukul 04.00 WIB melalui bagian belakang dan memanfaatkan atap kaca untuk menyusup ke dalam rumah.
Namun, aksi tersebut diduga diketahui oleh korban. Situasi itu kemudian berubah menjadi serangan yang berujung pada tewasnya Aspira Surbakti. Setelah korban meninggal, kedua tersangka diduga membawa kabur uang tunai Rp30 juta, sejumlah perhiasan seperti anting dan jam tangan, serta satu mobil milik korban yang kemudian dibawa ke Medan.
Dalam pengembangan perkara, tim gabungan Polres Karo, Tim Jatanras Polda Sumatera Utara, dan Polrestabes Medan menangkap AD dan RS di kawasan Jermal, Kota Medan. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti, termasuk mobil milik korban, perhiasan, dan sisa uang tunai yang diduga berasal dari hasil kejahatan.
Febriandi mengatakan sebagian uang hasil pencurian sempat dipakai untuk membeli telepon seluler dan kebutuhan pribadi. Hingga kini, penyidik belum menemukan tanda bahwa pembunuhan itu berkaitan dengan motif asmara. Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi di media sosial dan segera melapor bila menemukan hal mencurigakan melalui Call Center 110 Polres Karo.
Sumber: news.republika.co.id










Discussion about this post