klikkepri.com
No Result
View All Result
  • Login
SUBSCRIBE
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
    • Lokal
    • BP Batam
    • Batam
    • Anambas
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
    • Edukatif
    • Olahraga
    • Bisnis
    • Otomotif
    • Nasional
    • Lifestyle
    • Sepak Bola
    • Serba Serbi
    • Tech
    • Index
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
    • Lokal
    • BP Batam
    • Batam
    • Anambas
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
    • Edukatif
    • Olahraga
    • Bisnis
    • Otomotif
    • Nasional
    • Lifestyle
    • Sepak Bola
    • Serba Serbi
    • Tech
    • Index
No Result
View All Result
klikkepri.com
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
Home Opini

Opini: Merdeka sebagai Manusia Indonesia di Tengah Ancaman Populisme

Redaksi by Redaksi
5 Juni 2026 - 03:55
Reading Time: 5 mins read
0
Opini: Merdeka sebagai Manusia Indonesia di Tengah Ancaman Populisme

Membongkar Penjajahan Gaya Baru: Pelajaran dari Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer untuk Manusia Indonesia Merdeka

Kemerdekaan, bagi banyak orang, identik dengan terbebasnya suatu bangsa dari cengkeraman penjajahan bangsa asing. Sejarah bangsa Indonesia dipenuhi dengan kisah perjuangan gigih para pahlawan yang berdiri tegak membela rakyat kecil dari tirani kolonial. Mereka adalah sosok-sosok yang berani bersuara, berpikir kritis, menolak tunduk pada kekuasaan yang menindas, dan sulit diajak berkompromi demi harga diri sebuah bangsa. Para pejuang ini menjadi corong kebenaran di tengah disinformasi penjajah, ada yang mengusung semangat revolusioner, ada pula yang memilih jalur humanis dan reflektif.

Namun, di era modern ini, makna kemerdekaan dan sosok manusia Indonesia merdeka yang dibutuhkan justru sedikit berbeda. Bukan lagi melawan penjajah asing secara fisik, melainkan menghadapi struktur kepemimpinan yang cenderung populis. Penindasan kini hadir dalam bentuk yang lebih halus, seperti praktik kekuasaan yang membungkam suara kritis, memelihara ketakutan di tengah masyarakat, memanfaatkan penderitaan rakyat untuk kepentingan politik, serta mengontrol aspirasi publik melalui janji-janji populis yang seringkali jauh dari realitas. Inilah yang disebut sebagai wajah penjajahan gaya baru pasca-kolonial.

Politik kontemporer kerap kali tidak lagi mengedepankan gagasan dan argumentasi rasional. Sebaliknya, ia lebih mengandalkan gimik, kedekatan emosional, dan pencitraan semata untuk membangun legitimasi kekuasaan. Rakyat tidak lagi diajak untuk memahami persoalan secara kritis, melainkan lebih diarahkan untuk merasakan optimisme, kedekatan, dan kesederhanaan narasi yang dibangun oleh penguasa. Dalam kondisi seperti ini, demokrasi berisiko berubah menjadi panggung pertunjukan politik, sementara persoalan-persoalan struktural yang mendasar justru tersamarkan di balik euforia simbolik. Oleh karena itu, kita sangat membutuhkan sosok manusia Indonesia merdeka yang mampu membongkar mentalitas bangsa di balik fenomena tersebut.

Untuk memahami bagaimana menjadi manusia Indonesia merdeka di tengah tantangan zaman, dua tokoh berpengaruh dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dapat dijadikan teladan: Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer.

Pemikiran Tan Malaka: Membebaskan Diri dari Logika Mistik

Tan Malaka, dengan nama asli Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka, adalah seorang revolusioner, pemikir, dan pejuang kemerdekaan yang mendedikasikan hidupnya untuk cita-cita Indonesia merdeka dan berdaulat. Ia dikenal sebagai tokoh yang gigih menentang kolonialisme, rela hidup dalam pengasingan di berbagai negara demi memperjuangkan keadilan sosial bagi rakyat kecil.

Bagi Tan Malaka, hambatan terbesar menuju Indonesia Merdeka bukanlah kekuatan fisik penjajah, melainkan alam pikiran bangsa Indonesia yang masih terbelenggu oleh logika mistik. Logika ini membuat masyarakat cenderung menerima nasib tanpa usaha, karena segala sesuatu dianggap telah ditentukan oleh kekuatan gaib. Ia sangat berambisi membebaskan bangsa Indonesia dari keterbelakangan ini.

Menurut Tan Malaka, logika mistik adalah bentuk pemikiran yang stagnan, karena tidak membuka ruang bagi pertanyaan, eksperimen, atau pembuktian. Ia melihat logika mistik sebagai warisan kolonial dan feodal yang sengaja dipelihara untuk melemahkan daya kritis rakyat. Akibatnya, masyarakat Indonesia terbiasa berpikir pasrah, irasional, dan terlalu bergantung pada kekuatan eksternal. Padahal, kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan yang mereka alami adalah buah dari sistem kolonial dan feodal yang menindas.

Buy JNews
ADVERTISEMENT

Pembebasan dari logika mistik dan gagasan-gagasan yang bergantung pada kekuatan gaib sangat krusial agar manusia Indonesia dapat berpikir kritis dalam menghadapi penjajah dan tidak larut dalam romantisme yang tidak produktif. Dalam konteks inilah lahir karyanya yang berjudul Madilog. Melalui akronim Madilog – Materialisme, Dialektika, dan Logika – Tan Malaka menawarkan cara berpikir baru untuk menggantikan logika mistik.

  • Materialisme: Pemahaman ini menekankan bahwa yang ada adalah materi, dan segala sesuatu berasal dari materi. Materi ada terlebih dahulu sebelum menentukan sebuah ide. Materialisme memandang realitas secara nyata menggunakan ilmu pengetahuan, bukan melalui kacamata mitos. Tan Malaka mengkritik masyarakat Indonesia yang enggan bersikap kritis dan hanya menggantungkan diri pada agama dan kepercayaan yang diyakini membawa kebahagiaan akhirat. Materialisme dalam Madilog berfungsi sebagai alat untuk membuka wawasan rakyat tentang kenyataan sosial yang objektif, sehingga mereka mampu melihat bahwa penindasan yang dialami bukanlah takdir, melainkan hasil dari sistem kolonial yang perlu diubah. Tan Malaka menolak pandangan idealis yang seringkali mengedepankan cita-cita tanpa memperhatikan kondisi nyata masyarakat.
  • Dialektika: Merupakan metode berpikir yang menekankan bahwa perubahan sosial terjadi melalui proses kontradiksi antara elemen-elemen yang bertentangan. Setiap tahapan perubahan dimulai dari tesis (keadaan awal), dihadapkan dengan antitesis (oposisi atau konflik), hingga mencapai sintesis (penyelesaian konflik yang melahirkan tatanan baru). Tan Malaka memandang dialektika sebagai alat untuk memahami bahwa perubahan dalam masyarakat selalu terjadi melalui kontradiksi antara kelas penindas (penjajah) dan kelas tertindas (rakyat Indonesia). Dialektika membantu membangun kesadaran bahwa perubahan politik hanya mungkin terjadi jika rakyat sadar akan posisi dan hak mereka.
  • Logika: Digunakan untuk membentuk cara berpikir yang rasional, yang mampu menolak segala bentuk irasionalitas dan dogma yang dipaksakan oleh penjajah. Tan Malaka percaya bahwa hanya dengan cara berpikir logis dan terstruktur, rakyat Indonesia dapat memahami dan melawan penjajahan. Logika menjadi pondasi penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis di kalangan rakyat agar mereka tidak mudah terpengaruh oleh ideologi kolonial yang menyesatkan.

Pemikiran Pramoedya Ananta Toer: Membebaskan Diri dari Mentalitas Terjajah

Tokoh kedua yang pemikirannya patut digali adalah Pramoedya Ananta Toer. Pendekatannya cenderung humanis dan reflektif. Jika Tan Malaka mendorong pergeseran dari logika mistik ke cara berpikir materialis, dialektis, dan logis, maka Pramoedya Ananta Toer menekankan pentingnya membebaskan manusia Indonesia dari mentalitas bangsa terjajah yang cenderung tunduk pada kekuasaan. Mentalitas inilah, menurut Pram, yang telah meninabobohkan daya kritis dan semangat juang untuk keluar dari penindasan.

Kritik Pram dapat ditemukan dalam berbagai novelnya, salah satunya Bumi Manusia. Dalam novel ini, Pram merefleksikan bahwa kecenderungan mengagungkan kekuasaan adalah hal yang lumrah terjadi karena lahir dari sikap tunduk, takut, dan silau terhadap kekuasaan, sehingga apapun yang dikehendaki penguasa diterima begitu saja.

Salah satu kutipan dalam Bumi Manusia menggambarkan kritik Pram melalui tokoh Minke: “Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali buta huruf pula?” Kutipan ini menunjukkan bagaimana budaya feodal membuat manusia kehilangan martabatnya di hadapan kekuasaan. Selain itu, tergambar pula rasa inferior bangsa pribumi di hadapan bangsa Eropa: “Begitu berhadapan dengan seorang Eropa, orang-orang pribumi itu seakan kehilangan harga dirinya.”

Pramoedya memperlihatkan bagaimana kolonialisme membentuk mentalitas bangsa terjajah: silau terhadap kekuasaan, takut melawan, dan merasa diri lebih rendah. Namun, berhadapan dengan gambaran mentalitas buruk tersebut, Pram juga menawarkan perlawanan melalui tokoh Minke. Ketika ia dipaksa menghadap bupati dengan ritual merangkak dan menyembah, muncul penolakan dalam batinnya. Baginya, ini adalah bentuk penghinaan terhadap martabat manusia yang bertentangan dengan pendidikan modern yang ia terima.

Intinya, Pramoedya Ananta Toer melalui karyanya hendak menyampaikan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui kekerasan atau kebijakan politik semata. Kekuasaan juga bekerja melalui pembentukan mentalitas masyarakat, yang membuat rakyat terbiasa tunduk, mengagungkan penguasa, dan kehilangan keberanian untuk bersikap kritis terhadap kekuasaan.

Membaca Populisme dan Krisis Manusia Indonesia yang Merdeka

Dari pemikiran Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer, kita dapat memahami bahwa kemerdekaan manusia Indonesia tidak cukup hanya diartikan sebagai terbebas dari penjajahan fisik. Tan Malaka melihat bahwa penjajahan juga bekerja melalui cara berpikir yang membuat rakyat kehilangan daya kritisnya. Melalui Madilog, ia berusaha membebaskan manusia Indonesia dari logika mistik agar mampu melihat realitas sosial secara rasional dan memahami bahwa ketidakadilan bukanlah takdir, melainkan hasil dari struktur sosial dan politik yang dapat diubah.

Sementara itu, Pramoedya Ananta Toer membongkar warisan mentalitas feodal yang membuat rakyat terbiasa tunduk, takut, silau terhadap kekuasaan, dan kehilangan keberanian untuk menjaga martabatnya di depan penguasa. Jika Tan mengkritik ketidakmampuan rakyat untuk membaca realitas secara rasional, maka Pramoedya mengkritik kebiasaan masyarakat yang terlalu mudah mengagungkan penguasa.

Dalam sintesis pemikiran keduanya, manusia Indonesia yang merdeka adalah manusia yang tidak mudah dikuasai oleh rasa takut, euforia, maupun simbol-simbol kekuasaan. Ia adalah individu yang mampu berpikir kritis terhadap realitas sosial, sekaligus menjaga martabatnya sebagai warga negara yang sadar akan hak dan kepentingannya.

ShareTweetSend
Redaksi

Redaksi

Related Posts

Rezeki Tak Pernah Putus! 8 Weton Ini Dikabarkan Selalu Makmur dan Kaya Seumur Hidup
Opini

Rezeki Tak Pernah Putus! 8 Weton Ini Dikabarkan Selalu Makmur dan Kaya Seumur Hidup

30 Juli 2026 - 23:55
Pesan di HUT Bhayangkara, Sujiwo: Kerja Baik Tetap Dihujat, Polisi Harus Sabar
Opini

Pesan di HUT Bhayangkara, Sujiwo: Kerja Baik Tetap Dihujat, Polisi Harus Sabar

20 Juli 2026 - 15:53
Patahan Generasi
Opini

Patahan Generasi

19 Juli 2026 - 10:59
Menggugat Kehadiran dan Peran Homeless Media
Opini

Menggugat Kehadiran dan Peran Homeless Media

9 Juli 2026 - 07:47
5 momen paling dinantikan di akhir Reborn Rookie
Opini

5 momen paling dinantikan di akhir Reborn Rookie

8 Juli 2026 - 07:42
9 zodiak beruntung, ramalan cinta 2 Juli, Cancer menghadapi tekanan hubungan
Opini

9 zodiak beruntung, ramalan cinta 2 Juli, Cancer menghadapi tekanan hubungan

8 Juli 2026 - 02:53
Next Post
Pembelaan Camat Ogah Tanda Tangan Berkas: Permohonan Maaf Usai Viral

Pembelaan Camat Ogah Tanda Tangan Berkas: Permohonan Maaf Usai Viral

Posko SPMB Pangkalpinang: Adukan Kendala Anda

Discussion about this post

klikkepri.com

Klik Kepri Merupakan Portal Berita yang menyajikan informasi Indeks berita terkini dan terbaru hari ini dari peristiwa, kecelakaan, kriminal, hukum, berita unik, Politik, dan liputan khusus di Indonesia

Copyright© 2026 | Klikkepri.com

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Teknologi
  • Batam
  • Anambas
  • Bintan
  • Lingga
  • Natuna
  • Tanjung Pinang
  • Karimun
  • Disclamer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Subscription
  • Category
    • Lifestyle
    • Health
    • Travel
    • Opini
    • Tech
    • World
  • Landing Page
  • Buy JNews
  • Support Forum
  • Pre-sale Question
  • Contact Us

Copyright© 2026 | Klikkepri.com