Ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha dari Kepala Dinas Perikanan Kota Palangka Raya
Kepala Dinas Perikanan Kota Palangka Raya, Ir. Indriarti Ritadewi, M.AB beserta seluruh jajaran mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah/2026 Masehi. Dalam perayaan ini, mereka menekankan bahwa spirit kurban harus diwujudkan dalam bentuk pengabdian terhadap alam dan sesama manusia.
Makna dan Sejarah Idul Adha
Idul Adha merupakan tradisi tahunan yang dirayakan oleh umat Islam. Perayaan ini memiliki makna dan sejarah penting dalam konteks kurban. Penyembelihan hewan kurban merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan. Kata “Adha” berasal dari bahasa Arab yang berarti hewan sembelihan.
Dalam perayaan Hari Raya Idul Adha, umat Islam melaksanakan penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan kepada Allah SWT. Di Indonesia, perayaan ini juga dikenal dengan nama lain seperti Lebaran Qurban dan Lebaran Haji. Hal ini disebabkan oleh kaitannya dengan ibadah haji yang dilakukan pada bulan Dzulhijjah, di mana orang-orang dari seluruh dunia datang ke Makkah al-Mukarramah untuk menjalankan ibadah haji.
Selain berkaitan dengan hewan sembelihan, kata Adha juga terkait dengan sejarahnya. Sejarah hari raya Idul Adha bisa ditelusuri hingga zaman Nabi Ibrahim AS dan anaknya, Nabi Ismail AS. Cerita ini dimulai ketika Nabi Ibrahim AS mendapatkan ilham saat tidur bahwa beliau harus menyembelih Nabi Ismail AS pada tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah).
Menurut tafsir Ibnu Katsir, Nabi Ismail AS adalah anak pertama dari Nabi Ibrahim setelah beliau sempat menunggu selama puluhan tahun. Akhirnya, Nabi Ibrahim AS yakin bahwa ilham dalam mimpi tersebut adalah benar dari Allah S.W.T pada tanggal 9 Dzulhijjah dan menceritakan mimpinya kepada putranya tersebut.
Kisah mengenai mimpi Nabi Ibrahim AS dan dialog beliau dengan putranya tersebut tercantum dalam surat As-shaffat ayat 102 yang berbunyi:
Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Dengan persetujuan tersebut, tekad Nabi Ibrahim a.s telah bulat untuk mengorbankan putranya. Namun, atas kehendak Allah S.W.T, tubuh Nabi Ismail AS diselamatkan dan diganti dengan kambing gibas.
Cerita mengenai penggantian ini tertuang dalam al quran surat as-shaffat ayat 104-107 yang berbunyi:
Artinya: Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! (104) Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (106). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (107).
Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s adalah nenek moyang bangsa Arab. Oleh sebab itu, tradisi penyembelihan hewan kurban ini dipraktikan turun menurun hingga pada zaman Nabi Muhammad S.A.W meskipun hanya sekadar fisiknya saja (tanpa hakikat Idul Adha itu sendiri).
Ketika itu, masyarakat jahiliyyah akan menyembelih hewan kurban untuk berhala-berhala mereka, meletakkan daging hewan kurban disekitarnya dan memercikkan darah hasil penyembelihan ke berhala-berhala tersebut. Hingga kemudian turunlah ayat al quran surat al-Hajj ayat 37 yang berbunyi:
Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah sama sekali, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya atas kamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat ini kemudian didukung dengan beberapa hadits secara langsung mengindikasikan bahwa penerimaan Allah S.W.T atas hambanya didasarkan pada keikhlasan hamba tersebut dan bukan berdasarkan besar kecilnya fisik yang dikorbankan.









Discussion about this post