Pada tahun 2026, sektor komoditas di Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dalam situasi ekonomi global yang dinamis. Kenaikan harga energi dan komoditas seperti hidrokarbon serta logam dapat memberikan peluang bagi sejumlah subsektor. Namun, di balik peluang tersebut, masih ada tantangan yang harus dihadapi, termasuk risiko kebijakan dan ketidakpastian regulasi.
Peluang dan Tantangan di Sektor Komoditas
Menurut Ker Liang Chan, Associate Director dari Corporate Ratings S&P Global Ratings, sektor komoditas Indonesia berpotensi mendapatkan manfaat dari kondisi saat ini. Kenaikan harga hidrokarbon dan logam bisa mengimbangi beban biaya yang meningkat. Namun, risiko terkait kebijakan dan regulasi tetap menjadi perhatian utama, khususnya untuk subsektor seperti minyak sawit, logam, dan pertambangan.
Liang Chan menyoroti bahwa pemangkasan kuota produksi pada beberapa komoditas tambang seperti nikel dan batubara termal dalam RKAB 2026 dapat berdampak negatif pada unit-unit ekonomi, terutama operator kecil. Selain itu, penegakan hukum yang lebih ketat terhadap praktik lingkungan dan penambangan ilegal juga bisa mengurangi sentimen investasi, terutama dalam situasi ketidakpastian.
Kondisi Pendanaan Domestik yang Stabil
Secara keseluruhan, kondisi pendanaan domestik diharapkan tetap mendukung aktivitas bisnis pada tahun 2026. Meskipun rupiah melemah, sebagian besar perusahaan tampak mampu menyerap depresiasi moderat dengan dampak yang terbatas pada margin dan pembayaran utang. Hal ini mencerminkan pergeseran menuju pendanaan domestik dalam beberapa tahun terakhir, yang mengurangi ketergantungan pada utang asing dan meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal.
Tekanan Kredit pada Perusahaan Non-Jasa Keuangan
Di sisi lain, Yogie Perdana, Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-2 PEFINDO, menyampaikan bahwa perusahaan non-keuangan Indonesia menghadapi konvergensi tekanan kredit pada tahun 2026. Beberapa tekanan meliputi pelebaran spread kredit, tantangan refinancing sebesar Rp 121 triliun, serta kompresi margin. Namun, Martin Pandiangan, Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-1 PEFINDO, menilai bahwa sektor komoditas seperti CPO, hulu minyak dan gas, serta pertambangan emas akan diuntungkan oleh dinamika geopolitik dan depresiasi rupiah.
Tantangan di Sektor Hilir
Sebaliknya, sektor hilir seperti logam dan petrokimia diperkirakan akan menghadapi tantangan struktural. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan bahan baku, biaya energi yang lebih tinggi, dan volatilitas permintaan industri. Sementara itu, sektor pertambangan batubara dan nikel, telekomunikasi, serta barang konsumsi pokok diperkirakan akan mengalami dampak netral.
Fokus pada Integrasi dan Efisiensi Operasional
Martin menambahkan bahwa peningkatan fokus pada integrasi hilir dan efisiensi operasional di antara BUMN dapat mendukung posisi strategis yang lebih kuat. Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan ketahanan bisnis, perolehan nilai, serta stabilitas keuangan dan nilai tukar.
Namun, risiko keuangan dan struktural tetap menjadi perhatian. Misalnya, peningkatan leverage dari belanja modal yang didanai utang dan kelayakan ekonomi proyek-proyek kompleks bisa menjadi tantangan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas keuangan.










Discussion about this post