JAKARTA – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali memberikan penghargaan tertinggi kepada dua Satuan Tugas (satgas) Korps Marinir yang menunjukkan prestasi luar biasa di Papua. Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan prajurit Baret Ungu dalam menjalankan operasi pengamanan perbatasan.
Marinir tidak hanya berhasil melumpuhkan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), tetapi juga merebut puluhan markas kelompok bersenjata. Salah satu satuan yang menerima penghargaan adalah Satgas Pengamanan Perbatasan RI–PNG Mobile Batalyon Infanteri (Yonif) 10 Marinir Gobang IV yang dipimpin oleh Letkol Mar Aris Moko.
Dalam siaran pers Dispenal di Jakarta, Kamis (7/5/2026), disebutkan bahwa Satgas Yonif 10 Marinir Gobang IV yang bertugas di Provinsi Papua Barat Daya mencatatkan pencapaian signifikan. Mereka berhasil menguasai 56 markas OPM yang tersebar di berbagai titik strategis, termasuk Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Bintuni, dalam rangkaian beberapa operasi.
Prajurit Marinir juga berhasil melumpuhkan 10 anggota kelompok separatis bersenjata, serta mengamankan 4 pucuk senjata api, 13 pucuk senapan, amunisi, 146 senjata tradisional, 11 unit HP, 2 unit HT Motorolla, 2 buku agenda organisasi OPM, 24 buah power system, aksesoris Bintang Kejora, dan perlengkapan logistik lainnya.
Keberhasilan ini menunjukkan kapabilitas tempur tinggi serta efektivitas operasi yang dilaksanakan oleh Korps Marinir dalam menghadapi medan operasi yang kompleks dan berisiko tinggi. Selain keberhasilan operasi tempur, Satgas Gobang IV juga menonjol dalam pendekatan teritorial yang humanis.
Berbagai kegiatan sosial dilakukan secara konsisten, seperti pelayanan kesehatan gratis, jumat berkah, makan bersama, pembangunan fasilitas ibadah, hingga pemasangan lampu tenaga surya di wilayah terpencil. Pendekatan ini efektif dalam membangun kepercayaan masyarakat serta memperkuat kehadiran negara di daerah rawan konflik.
Hal itu terbukti dengan dianugerahinya komandan satgas dengan gelar “Apan Mana (Kepala Ular/Panglima Perang)” oleh para Kepala Adat Aifat Raya. “Capaian tersebut merupakan wujud nyata profesionalisme prajurit yang mampu mengombinasikan kekuatan militer dan pendekatan sosial secara seimbang,” kata Panglima Korps Marinir, Letjen Mar Endi Supardi.
Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB)
Sebelum menerima penghargaan tertinggi dari KSAL, sejumlah prajurit yang tergabung dalam Satgas Yonif 10 Marinir Gobang IV telah memperoleh apresiasi dari Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Bentuk apresiasi berupa kenaikan pangkat luar biasa (KPLB), sekolah, serta kesempatan tugas di luar negeri, atas keberanian dan torehan mereka dalam tugas operasi di Papua.
Apresiasi berjenjang diberikan oleh pimpinan TNI, TNI AL, dan Korps Marinir mulai dari penghargaan di tingkat satuan, kenaikan pangkat luar biasa, hingga penganugerahan penghargaan tertinggi oleh KSAL. Keberhasilan ini sekaligus menegaskan bahwa strategi TNI AL dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua dilakukan melalui kombinasi ketegasan operasi tempur dan pendekatan sosial yang humanis.
Strategi Kombinasi Operasi Tempur dan Pendekatan Sosial
Korps Marinir telah membuktikan kemampuannya dalam menjalankan operasi pengamanan perbatasan dengan cara yang efektif dan berkelanjutan. Dalam hal ini, pendekatan teritorial menjadi salah satu faktor utama yang mendukung keberhasilan operasi. Dengan melibatkan masyarakat setempat, Korps Marinir berhasil menciptakan lingkungan yang lebih aman dan stabil di wilayah Papua.
Beberapa langkah yang diambil oleh satgas antara lain:
- Pemberian layanan kesehatan gratis untuk masyarakat lokal
- Pelaksanaan kegiatan jumat berkah dan makan bersama
- Pembangunan fasilitas ibadah sebagai bentuk dukungan terhadap kehidupan spiritual masyarakat
- Pemasangan lampu tenaga surya di wilayah terpencil untuk meningkatkan kenyamanan hidup masyarakat
Seluruh upaya ini menunjukkan bahwa Korps Marinir tidak hanya fokus pada aspek militer, tetapi juga berkomitmen untuk membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat setempat. Hal ini menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua.








Discussion about this post