Penolakan Ketua Parlemen Lebanon terhadap Negosiasi Damai dengan Israel
Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, menyatakan penolakan keras terhadap negosiasi perdamaian antara negaranya dan Israel. Dalam pernyataannya pada Senin (4/5/2026), Berri menegaskan bahwa negosiasi damai tidak boleh berlanjut sebelum Israel menghentikan serangan terhadap Lebanon. Sikap yang diambil oleh Berri ini sejalan dengan Hizbullah, yang dikabarkan memiliki hubungan dekat dengannya. Hizbullah telah lama menolak segala bentuk negosiasi damai antara Lebanon dan Israel karena dianggap sebagai tanda kalah terhadap Israel.
Dalam pernyataannya, Berri juga menolak kesepakatan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel. Ia menilai bahwa kesepakatan tersebut hanya mampu mengakhiri konflik secara sementara. Bahkan, meskipun ada gencatan senjata, Israel masih melakukan serangan terhadap Lebanon. Oleh karena itu, Berri meminta Israel untuk mengakhiri perang secara permanen agar negosiasi dapat berjalan lebih efektif.
Proses Negosiasi Damai Antara Lebanon dan Israel Masih Berlangsung
Proses negosiasi damai antara Lebanon dan Israel saat ini masih berlangsung. Negosiasi terakhir dilakukan di Washington DC, Amerika Serikat, pada 24 April lalu. Hasil dari negosiasi tersebut adalah perpanjangan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel selama tiga minggu.
Presiden AS, Donald Trump, dalam unggahannya di Truth Social, menyebutkan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang selama tiga minggu. Ia juga meminta Hizbullah untuk mematuhi gencatan senjata yang sudah disepakati. Trump berjanji akan melindungi Lebanon dari ancaman Hizbullah yang sering membuat kekacauan.
Benjamin Netanyahu Minta AS Batasi Waktu Negosiasi
Pada 29 April pekan lalu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, meminta AS, yang berperan sebagai mediator, untuk membatasi waktu negosiasi damai antara Israel dan Lebanon. Permintaan ini disampaikan Netanyahu saat ia menelepon Trump. Dalam percakapan tersebut, Netanyahu meminta Trump untuk membatasi durasi negosiasi selama dua atau tiga minggu. Pembatasan waktu ini bertujuan agar proses negosiasi berjalan lebih cepat dan efektif. Jika tidak ada tenggat waktu, negosiasi bisa terlalu lama dan konflik antara kedua negara akan semakin rumit.

Netanyahu Ingin Memperluas Operasi Militer jika Negosiasi Lalai
Netanyahu menambahkan bahwa jika negosiasi damai berjalan lambat dan melebihi batas waktu, ia akan memerintahkan pasukannya untuk memperluas operasi militer di Lebanon. Terlebih, saat ini Hizbullah masih melakukan perlawanan meski sudah ada gencatan senjata. Namun, rencana ini berpotensi ditolak oleh AS. Sebab, Trump sebelumnya telah memperingatkan Israel untuk membatasi aktivitas militer di Lebanon selama gencatan senjata berlangsung. Langkah ini dilakukan agar proses gencatan senjata berjalan lancar dan perdamaian bisa segera tercapai.

Sebagai informasi, Israel hingga saat ini masih melakukan serangan ke Lebanon, khususnya ke wilayah Lebanon selatan. Tujuan mereka adalah untuk membasmi Hizbullah yang bermarkas di sana. Beberapa waktu lalu, Israel juga mengklaim bahwa gencatan senjata yang sedang berlangsung tidak melibatkan Lebanon selatan. Oleh karena itu, mereka berdalih bahwa serangan yang dilakukan ke wilayah itu tidak melanggar aturan gencatan senjata.










Discussion about this post