Kondisi Siswa SMK yang Meninggal Dunia di Samarinda Mengundang Perhatian Komisi X DPR

Komisi X DPR mengungkapkan kekhawatiran terhadap kisah seorang siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, Mandala Rizky Syaputra (16), yang diduga meninggal dunia akibat penggunaan sepatu sekolah yang tidak sesuai ukuran. Kejadian ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan tidak hanya berada dalam ranah akademik, tetapi juga berkaitan langsung dengan aspek kesehatan dan kondisi sosial-ekonomi keluarga.
Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, menyampaikan bahwa peristiwa ini menjadi alarm keras bagi sistem pendidikan nasional. Menurutnya, penting untuk memperhatikan kesejahteraan peserta didik secara menyeluruh.
“Peristiwa meninggalnya siswa SMK di Samarinda menjadi pengingat keras bahwa persoalan pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan beririsan langsung dengan aspek kesehatan dan kondisi sosial-ekonomi keluarga,” ujar Lalu saat dihubungi.
Ia menambahkan, dugaan penggunaan sepatu yang kekecilan berkontribusi pada kondisi medis Mandala. Hal ini perlu ditelusuri lebih lanjut secara medis.
“Dugaan bahwa penggunaan sepatu yang sudah kekecilan berkontribusi pada pembengkakan hingga berujung fatal tentu perlu ditelusuri secara medis secara menyeluruh,” katanya.
Meski demikian, ia menilai kasus ini tidak semata soal penyebab langsung, melainkan menunjukkan persoalan yang lebih dalam terkait kerentanan ekonomi dan keterbatasan akses layanan kesehatan.
“Namun, di luar aspek penyebab langsung, kasus ini menegaskan adanya kerentanan yang lebih dalam, yaitu keterbatasan ekonomi yang membuat kebutuhan dasar siswa tidak terpenuhi secara layak, serta kemungkinan keterlambatan akses layanan kesehatan yang seharusnya bisa mencegah kondisi memburuk,” jelasnya.
Menurut Lalu, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga harus memiliki sistem yang mampu mendeteksi kondisi kesehatan dan sosial siswa sejak dini.
“Kami memandang peristiwa ini sebagai alarm penting bagi sistem pendidikan nasional untuk lebih peka terhadap kesejahteraan peserta didik secara utuh,” ujar Lalu.
Sekolah Harus Memiliki Mekanisme Deteksi Dini

“Sekolah tidak cukup hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga harus memiliki mekanisme deteksi dini terhadap kondisi kesehatan dan sosial siswa, termasuk memastikan tidak ada peserta didik yang mengalami keterbatasan perlengkapan dasar,” sambung dia.
Politikus PKB itu juga mendorong pemerintah memperkuat intervensi lintas sektor guna mencegah kejadian serupa terulang, mulai dari bantuan perlengkapan sekolah hingga layanan kesehatan berbasis sekolah.
“Negara, melalui sinergi kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, harus terus memperkuat intervensi, seperti bantuan perlengkapan sekolah, layanan kesehatan berbasis sekolah (UKS) serta integrasi dengan program perlindungan sosial,” tutur Lalu.
Ia menegaskan, Komisi X akan terus mendorong kebijakan yang menjamin seluruh anak mendapatkan lingkungan belajar yang layak.
“Kami Komisi X selalu mendorong terhadap penguatan kebijakan yang memastikan setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan manusiawi, sehingga kasus serupa tidak kembali terulang,” pungkasnya.
Latar Belakang Keluarga Mandala
Sebelumnya, seorang siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, Mandala Rizky Syaputra (16), meninggal dunia setelah mengalami sakit yang disertai pembengkakan pada kaki. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan penggunaan sepatu sekolah yang sudah tidak sesuai ukuran.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena memperlihatkan kombinasi masalah kesehatan, keterbatasan ekonomi, dan akses layanan yang tidak optimal.
Mandala merupakan anak yatim yang tinggal bersama kakak dan tiga adiknya. Ibunya, Ratnasari, bekerja sebagai penjual risoles keliling.
Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, menjelaskan kondisi keluarga yang terbatas membuat kebutuhan dasar, termasuk perlengkapan sekolah, sulit terpenuhi.
“Sepatu itu tetap dipakai setiap hari. Bahkan diganjal dengan foam agar tidak terlalu keras, tapi justru menyebabkan kakinya bengkak,” ujar Rina.
Sejak kelas 1 SMK, Mandala menggunakan sepatu ukuran 43. Namun saat naik kelas, ukuran kakinya bertambah menjadi 45. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar seperti sepatu sekolah tidak terpenuhi secara layak.









Discussion about this post