Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Kecamatan Mendoyo, Jembrana
Pembangunan jembatan Perintis Garuda di dua titik wilayah Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, akhirnya dimulai dengan peletakan batu pertama. Acara tersebut digelar pada Senin 30 Maret 2026. Salah satu jembatan yang dibangun melalui program TNI AD adalah Jembatan Nusamara di Desa Yehembang Kangin, Bali.
Jembatan gantung yang menjadi akses utama bagi 19 keluarga warga setempat ini sebelumnya rusak parah akibat terjangan air bah sejak tahun 2021. Dengan pembangunan baru, jembatan sepanjang 85 meter ini diharapkan menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk meningkatkan akses ekonomi dan pendidikan.
Selama ini, ketika terjadi banjir, warga kesulitan beraktivitas. Siswa yang tinggal di sisi utara jembatan seringkali harus diliburkan untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan. Selain itu, pembangunan jembatan juga dilakukan di lokasi lain, yaitu Banjar Sekar Kejula Kelod, Desa Yehembang Kauh, yang akan memiliki panjang bentang sekitar 30 meter.
Peletakan batu pertama dipimpin langsung oleh Dandim 1617/Jembrana, Letkol Inf. Sy. Gafur Thalib, yang juga dihadiri oleh jajaran Forkompinda. Menurut Letkol Inf Gafur, kedua jembatan ini merupakan bagian dari program pemerintah pusat untuk meningkatkan konektivitas antar wilayah, khususnya di daerah yang sebelumnya hanya mengandalkan jembatan darurat seperti berbahan bambu.
Dia berharap, program ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan infrastruktur. Jembatan ini diharapkan dapat memperlancar mobilitas warga, meningkatkan aktivitas ekonomi, serta mempermudah akses terhadap pendidikan dan layanan publik.
Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan TNI merupakan langkah taktis untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di daerah yang sulit dijangkau. Sinergi antara Pemkab Jembrana dan TNI menunjukkan kehadiran negara di tengah masyarakat. Jembatan Garuda ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga jembatan harapan bagi warga untuk akses ekonomi yang lebih baik.
Menurut Wabup Ipat, sejak tahun 2022, akses jembatan ini terputus akibat bencana banjir bandang. Dengan adanya groundbreaking program ini, diharapkan akses bagi 19 KK yang terdampak bisa kembali pulih. Ia juga menyebutkan bahwa banyak siswa sekolah harus tinggal kos di sebelah karena putusnya akses jembatan.
Terpisah, Perbekel Desa Yehembang Kangin, I Gede Suardika, mengakui antusiasme warga ketika mendengar informasi pembangunan jembatan melalui program Jembatan Perintis Garuda. Jembatan yang dulunya menjadi akses utama warga tersebut hancur diterjang air bah pada akhir 2021 lalu dan belum dilakukan perbaikan.
Suardika menjelaskan bahwa jembatan yang dibangun masih dalam bentuk jembatan gantung. Sumber anggarannya berasal dari pemerintah pusat melalui TNI. Diinginkan, warga setempat bisa terbantu dan memanfaatkan akses jembatan ini ke depannya.
Untuk diketahui, sejak putus di tahun 2021 lalu, Jembatan Nusamara tersebut berdampak terhadap satu Banjar adat di wilayah tersebut. Warga yang tinggal di sisi utara jembatan sekitar 21 KK. Mereka tidak berani melintas ketika terjadi air bah. Terlebih lagi, siswa terpaksa diliburkan jika air bah terjadi karena sangat berisiko.
Mereka yang tinggal di Utara jembatan maupun di selatan jembatan. Khusus untuk di utara jembatan, jumlah warga yang terdampak sekitar 21 KK. Mereka yang di Utara (jembatan) terkenal akses menuju sekolah terutama. Sementara yang di selatan jembatan terkendala akses menuju kebunnya.
Ketika air bah terjadi beberapa hari, stok pangan warga setempat sudah melakukan antisipasi. Yakni dengan menyetok bahan makanan serta memanfaatkan hasil sumber daya alam di sekitar seperti sayuran dan lainnya. Mereka sudah mengetahui polanya dengan cara stok makanan.










Discussion about this post