Sejarah dan Potensi Desa Bolopleret
Desa Bolopleret yang terletak di Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, memiliki kisah unik mengenai asal-usul namanya. Nama desa ini berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu “bolo” yang berarti teman atau kawan, serta “pleret” yang merujuk pada bendungan air. Masyarakat desa dikenal memiliki hubungan sosial yang erat dan hidup berdampingan dengan baik, sehingga nama Bolopleret diharapkan menjadi doa agar kehidupan masyarakat selalu dipenuhi rasa kebersamaan, tenteram, dan makmur.
Lokasi Desa Bolopleret berjarak sekitar 16 kilometer dari Pusat Kota Solo, dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 35 menit menggunakan kendaraan bermotor. Sejak awal abad ke-20, desa ini telah berdiri sebagai pemerintahan desa. Berdasarkan catatan pemerintahan desa, beberapa tokoh pernah memimpin Bolopleret dari masa ke masa. Beberapa di antaranya adalah:
- Kepala Desa I: Karto Suwiryo
- Kepala Desa II: Sudadi
- Kepala Desa III: H. Sutarno
- Kepala Desa IV: Wasito
- Kepala Desa V: Catur Joko Nugroho, SE.
Catur Joko Nugroho tercatat menjabat hingga beberapa periode berikutnya sebagai Kepala Desa Bolopleret. Perjalanan pemerintahan tersebut menjadi bagian dari perkembangan desa dalam membangun fasilitas, perekonomian, serta kehidupan sosial masyarakat.
Prasasti Diposuwiryo di Dukuh Ngerni
Selain cerita asal-usul nama, Desa Bolopleret juga memiliki peninggalan sejarah berupa sebuah batu yang dikenal sebagai Prasasti Diposuwiryo. Prasasti ini berada di Dukuh Ngerni, Desa Bolopleret, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Benda bersejarah ini memiliki bentuk seperti kubus dengan ciri khas berupa cekungan berbentuk kubus di bagian tengahnya.
Prasasti Diposuwiryo ditemukan saat kegiatan pemetaan wilayah Desa Bolopleret pada tahun 1984. Saat ini, prasasti tersebut ditempatkan di lahan berpagar dengan ukuran sekitar 2 meter x 1 meter. Di lokasi tersebut juga terdapat papan nama bertuliskan “Eyang Diposuwiryo” dan “Nyai Gadung Mlati”. Menurut cerita masyarakat sekitar, batu tersebut diyakini dibawa oleh Eyang Diposuwiryo dan kemudian dititipkan kepada warga setempat.
Keberadaan prasasti ini menjadi salah satu bukti bahwa Bolopleret memiliki jejak sejarah yang masih dijaga oleh masyarakat. Upaya mengenalkan Prasasti Diposuwiryo semakin berkembang dengan pemanfaatan teknologi. Tim II KKN Universitas Diponegoro pernah melakukan pendataan lokasi bersejarah tersebut dan membantu mengenalkan keberadaannya melalui platform digital seperti Google Maps. Langkah ini bertujuan agar peninggalan budaya lokal lebih mudah diketahui masyarakat luas, terutama generasi muda.
Potensi Kuliner Melalui BUMDes
Selain memiliki potensi sejarah, Desa Bolopleret juga mengembangkan sektor ekonomi masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dadi Mulyo. Salah satu usaha yang dikembangkan adalah angkringan desa yang menyediakan berbagai makanan dan minuman khas. Angkringan tersebut menghadirkan menu seperti jajanan lokal, gorengan, pecel, soto, hingga aneka minuman segar.
Usaha ini menjadi bagian dari upaya BUMDes untuk merangkul pelaku UMKM lokal sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat. Angkringan BUMDes Dadi Mulyo mulai dikembangkan pada 2024 dan diharapkan dapat menjadi pusat aktivitas ekonomi baru bagi warga Bolopleret.







Discussion about this post