Daniel Mutaqien Syafiuddin Didorong Pimpin Golkar Jawa Barat
Di tengah ketidakpastian jadwal musyawarah daerah (musda) yang terus tertunda, kader muda Partai Golkar Jawa Barat, Daniel Mutaqien Syafiuddin, muncul sebagai figur potensial yang didorong untuk maju dalam perebutan kursi Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Barat. Dukungan terhadap Daniel datang dari berbagai kalangan, salah satunya adalah Ketua Satkar Ulama Jawa Barat, M. Sahrul Fadli.
Sahrul Fadli secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Daniel Mutaqien. Ia berpendapat bahwa Partai Golkar Jawa Barat saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memiliki popularitas, tetapi juga mampu menunjukkan kesinambungan sejarah perjuangan partai. Menurutnya, Daniel Mutaqien adalah representasi dari kebutuhan tersebut.
“Kang Daniel memiliki nasab perjuangan yang jelas. Ia mampu menjaga marwah partai sekaligus merangkul aspirasi umat dan ulama,” ujar M. Sahrul Fadli pada Senin, 30 Maret 2026. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Daniel dipandang memiliki akar yang kuat dalam tradisi dan nilai-nilai yang dipegang oleh partai serta relevan dengan aspirasi masyarakat luas, khususnya kalangan ulama.
Dukungan yang diberikan oleh Sahrul Fadli kepada Daniel Mutaqien didasarkan pada tiga aspek krusial yang dianggap penting untuk kepemimpinan di Partai Golkar Jawa Barat:
- Energi Muda: Sahrul Fadli melihat Daniel sebagai representasi generasi muda yang memiliki semangat, inovasi, dan keberanian untuk membawa perubahan. Energi muda ini dinilai penting untuk menyegarkan kembali partai dan merespons tantangan zaman yang terus berkembang.
- Rekam Jejak Politik: Daniel Mutaqien tidak hanya dikenal sebagai kader muda, tetapi juga telah memiliki pengalaman dalam kancah politik. Pengalaman ini memberinya pemahaman mendalam tentang dinamika politik serta kemampuan untuk menjalankan roda organisasi partai secara efektif.
- Keluarga yang Lekat dengan Sejarah Golkar Jawa Barat: Latar belakang keluarga Daniel Mutaqien menjadi salah satu modal sosial yang kuat. Ia adalah putra dari almarhum Irianto MS Syafiuddin, yang akrab disapa Yance, salah satu tokoh legendaris dan sangat berpengaruh di Partai Golkar Jawa Barat. Keterikatan ini dinilai dapat membantu membangun kembali soliditas partai dan memanfaatkan warisan perjuangan yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.
Daniel sendiri dikenal sebagai putra dari almarhum Yance, yang kiprahnya dalam Partai Golkar di Jawa Barat tidak diragukan lagi. Keterikatan ini, menurut pandangan Sahrul Fadli, bukan sekadar nama besar, melainkan sebuah modal sosial yang sangat berharga dalam upaya memulihkan dan memperkuat kembali fondasi serta soliditas partai di Jawa Barat.
“Dalam pandangan kami di Satkar Ulama, memimpin Jawa Barat memerlukan kombinasi antara fathanah (kecerdasan) dan ittisal (ketersambungan) dengan sejarah perjuangan para pendahulu. Kang Daniel memiliki nasab perjuangan yang jelas dari almarhum Pak Yance dan Ibu Anna Sophanah. Beliau adalah sosok yang mampu menjaga marwah partai sekaligus merangkul aspirasi umat dan ulama dengan gaya komunikasi yang santun namun tegas,” jelas Sahrul Fadli.
Pernyataan ini menekankan pentingnya dua elemen kunci: kecerdasan dalam memimpin dan keterhubungan dengan akar sejarah serta perjuangan partai. Daniel dinilai mampu memadukan kedua aspek ini, menjadikannya kandidat yang kuat untuk meneruskan estafet kepemimpinan. Kemampuannya dalam menjaga marwah partai sekaligus merangkul berbagai elemen masyarakat, termasuk umat dan ulama, dengan gaya komunikasi yang baik, menjadi nilai tambah yang signifikan.
Perspektif Manajemen Strategis: Teori Kesinambungan
Lebih jauh, dari perspektif manajemen strategis, Sahrul Fadli menyoroti pentingnya penerapan Teori Kesinambungan dalam memilih pemimpin masa depan. Teori ini menekankan bahwa pemimpin yang ideal adalah mereka yang telah terlibat aktif dan memiliki pemahaman mendalam mengenai struktur dan operasional organisasi sebelumnya.
“Kepemimpinan baru tidak boleh memutus rantai keberhasilan pendahulunya. Kita butuh sosok yang sudah ‘berdarah-darah’ di lapangan, mengerti cetak biru perjuangan kita, dan paham keberlanjutan program yang telah diletakkan pimpinan terdahulu agar organisasi tidak mulai dari nol lagi,” tegas Sahrul Fadli.
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa transisi kepemimpinan haruslah bersifat evolusioner, bukan revolusioner yang dapat mengganggu stabilitas dan progresivitas partai. Sosok seperti Daniel Mutaqien, yang tumbuh dalam lingkungan partai dan memiliki pemahaman tentang sejarah serta program-program yang telah berjalan, dianggap mampu melanjutkan warisan positif dan mengembangkan partai tanpa harus melakukan pemutusan total dengan masa lalu. Hal ini penting agar Golkar Jawa Barat dapat terus bergerak maju dan tidak kehilangan momentum perjuangan.
Dorongan kepada Daniel Mutaqien Syafiuddin untuk maju sebagai calon Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat ini mencerminkan adanya harapan untuk regenerasi kepemimpinan yang tetap mengakar pada sejarah dan nilai-nilai partai, sembari membawa semangat baru untuk menghadapi tantangan masa depan.










Discussion about this post