Ziarah Kebangsaan dan Pertemuan Tokoh di Yogyakarta: Jaga Persatuan di Tengah Dinamika Global
YOGYAKARTA – Rangkaian ziarah kebangsaan yang digelar oleh jemaah Dzikir Nurul Wathon di Yogyakarta berlanjut dengan sebuah pertemuan penuh nuansa kebangsaan. Acara ini bertempat di Media Corner Avocado, kawasan Alun-alun Selatan, Yogyakarta, pada Minggu (30/5/2026). Pertemuan tersebut dihadiri oleh puluhan anggota rombongan yang sebelumnya telah melaksanakan ziarah ke makam Panglima Besar Jenderal Sudirman di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara.
Dalam kesempatan yang berharga ini, ulama kharismatik sekaligus pendiri Jamaah Dzikir Nurul Wathon, KH Fathulloh Suyuti Toha, turut menyampaikan pesan pentingnya menjaga persatuan bangsa. Pesan ini disampaikan di tengah situasi global yang terus berubah dan menghadirkan berbagai dinamika baru.
Pertemuan Tokoh Lintas Generasi dan Lintas Agama
Sekitar 30 anggota rombongan hadir dalam kegiatan yang berlangsung khidmat. Mayoritas dari mereka mengenakan pakaian bernuansa putih dan hitam serta dilengkapi dengan peci, menunjukkan keseriusan dan kekhidmatan acara. Rombongan Jamaah Dzikir Nurul Wathon dipimpin langsung oleh Dewan Pembina Mayjen TNI (Purn) Herianto Syahputra. Majelis Dzikir Nurul Wathon sendiri dikenal sering kali menggelar acara dzikir dan doa bersama secara serentak di berbagai penjuru Indonesia, memperkuat ikatan spiritual dan kebangsaan.
Kehadiran KH Suyuti Toha menjadi sorotan tersendiri dalam pertemuan tersebut. Pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul Huda, yang berlokasi di Banyuwangi, hadir bersama sejumlah tokoh terkemuka dari berbagai daerah di Indonesia.
Tuan rumah kegiatan, AM Putut Prabantoro, mengungkapkan rasa harunya atas kehadiran KH Suyuti Toha di kediamannya. “Ini merupakan kejutan besar namun membahagiakan. Saya tidak pernah menduga kyai besar kharismatik akan hadir di rumah saya,” ujar Putut Prabantoro, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (3/5/2026). Ia menambahkan, “Saya merasa terhormat dan sekaligus tersanjung. Ini anugerah sangat besar bagi saya.” Putut Prabantoro sendiri dikenal sebagai alumnus PPSA XXI dan mantan pengajar (Taprof) Bidang Ideologi di Lemhannas RI.
AM Putut Prabantoro memiliki rekam jejak yang panjang sebagai pegiat kebangsaan yang melintasi batas agama dan perdamaian. Berkat aktivitasnya tersebut, Pendiri dan Penasihat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) ini telah beberapa kali berkesempatan bertemu dengan tokoh-tokoh dunia seperti Paus Fransiskus dan Paus Leo XIV.
Pertemuan antara AM Putut Prabantoro dan KH Suyuti Toha terjalin berkat inisiatif Mayjen TNI (Purn) Herianto Syahputra yang berperan sebagai perantara untuk memperkenalkan kedua tokoh penting ini. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan langsung terasa sejak awal pertemuan. Keakraban semakin terjalin erat ketika terungkap bahwa Putut dan KH Suyuti memiliki seorang sahabat dekat yang sama, yaitu Pastor Paroki Gereja Katolik St. Paulus Kraksaan, Probolinggo, Rm. Fadjar Tedjo Soekarno Pr.
Momen kebersamaan tersebut kemudian berlanjut dengan sebuah panggilan video yang secara istimewa mempertemukan ketiganya secara langsung, mempererat tali silaturahmi mereka. Nama Rm. Fadjar sendiri pernah menjadi perhatian publik pada Agustus 2024 ketika ia memasangkan udeng khas Banyuwangi kepada Paus Fransiskus dalam sebuah audiensi bersama organisasi pemuda lintas agama di Vatikan. Tindakan ini menjadi simbol persaudaraan dan keberagaman yang mendapatkan apresiasi luas dari berbagai kalangan.
Menyoroti Tantangan Geopolitik Dunia dan Pentingnya Persatuan
Dalam dialog yang berlangsung dengan penuh kehangatan, KH Suyuti Toha secara khusus menyoroti situasi geopolitik dunia yang menurut pandangannya berpotensi besar memengaruhi kondisi Indonesia. Beliau menilai bahwa berbagai dinamika internasional yang terjadi saat ini dapat membawa dampak signifikan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dari sisi perekonomian, perdagangan, maupun berbagai kepentingan strategis lainnya.
Oleh karena itu, KH Suyuti Toha menekankan kembali betapa pentingnya menjaga persatuan sebagai fondasi utama bangsa Indonesia. “Persatuan itu sangat mahal. Sebagai bangsa yang memiliki latar belakang keberagaman, persatuan harus dipegang kuat dan tidak boleh luntur. Sekali lengah atau menganggap remeh persatuan, negara kita akan hancur,” ujar KH Suyuti Toha dengan tegas. Beliau menambahkan bahwa seluruh elemen masyarakat perlu terus memperkuat rasa kebersamaan agar Indonesia tetap mampu menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul di masa depan dengan kokoh.
Mendukung Stabilitas Nasional untuk Kemajuan Bangsa
Selain itu, KH Suyuti Toha juga mengajak seluruh masyarakat untuk secara aktif menjaga stabilitas nasional. Hal ini dapat diwujudkan dengan memberikan dukungan penuh terhadap berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menjalankan program-program pembangunan. Beliau menilai bahwa kondisi bangsa yang saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan membutuhkan kerja sama yang solid dari seluruh elemen masyarakat.
“Pemerintah harus didukung dan dibantu agar kita semua dapat keluar dari kondisi yang sulit. Jangan malah kita bertentangan satu sama lain yang membuka peluang organisasi tanpa bentuk itu masuk untuk mengacaukan negara. Saya menandai kelompok kiri mulai bergerak. NKRI harus dijaga. TNI harus dibantu dalam melaksanakan tugasnya,” tegas KH Suyuti Toha. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan dan solidaritas nasional dalam menghadapi potensi ancaman disintegrasi.
Nurul Wathon Tegaskan Komitmen Berkelanjutan untuk Bangsa
Pada kesempatan yang sama, KH Suyuti Toha juga menegaskan komitmen kuat dari Jamaah Dzikir Nurul Wathon untuk terus berkontribusi dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan. Menurut beliau, dukungan terhadap bangsa dan negara harus dilakukan secara berkelanjutan dan tanpa bergantung pada kepentingan-kepentingan tertentu.
“Tidak hanya pemerintah Presiden Prabowo, tetapi juga pemerintah-pemerintah berikutnya. Kita harus membaktikan diri untuk bangsa dan negara. Nurul Wathon akan terus berjalan dan tidak boleh meminta dukungan dari pemerintah,” ujarnya, menunjukkan semangat pengabdian yang murni demi kemajuan bangsa.
Pertemuan yang penuh makna ini ditutup dengan sesi diskusi kebangsaan yang melibatkan seluruh peserta. Diskusi ini menjadi ajang silaturahmi antarpeserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Yogyakarta, Surakarta, hingga berbagai wilayah di Jawa Timur. Pesan utama yang mengemuka dalam forum tersebut adalah pentingnya menjaga persatuan sebagai modal utama Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.









Discussion about this post