klikkepri.com
No Result
View All Result
  • Login
SUBSCRIBE
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
    • Lokal
    • BP Batam
    • Batam
    • Anambas
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
    • Edukatif
    • Olahraga
    • Bisnis
    • Otomotif
    • Nasional
    • Lifestyle
    • Sepak Bola
    • Serba Serbi
    • Tech
    • Index
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
    • Lokal
    • BP Batam
    • Batam
    • Anambas
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
    • Edukatif
    • Olahraga
    • Bisnis
    • Otomotif
    • Nasional
    • Lifestyle
    • Sepak Bola
    • Serba Serbi
    • Tech
    • Index
No Result
View All Result
klikkepri.com
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
Home Politik

Dandhy Laksono Nobar Film Pesta Babi, Soroti Kegagalan Negara Beri Keadilan di Papua

Redaksi by Redaksi
22 Mei 2026 - 11:23
Reading Time: 3 mins read
0
Dandhy Laksono Nobar Film Pesta Babi, Soroti Kegagalan Negara Beri Keadilan di Papua

Kegiatan Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi” di Papua

Koalisi Masyarakat Sipil menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Pesta Babi” yang mengangkat isu eksploitasi alam di Papua. Film ini disutradai oleh Dandhy Dwi Laksono, yang hadir langsung sebagai pembicara dalam forum diskusi. Acara ini menarik perhatian sejumlah tokoh dan aktivis nasional, seperti Sudirman Said, Todung Mulya Lubis, Lukman Hakim Saifuddin, hingga Beka Ulung Hapsara.

Dalam diskusi tersebut, Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said, menyampaikan bahwa terjadi pergeseran orientasi kekuasaan yang semakin menjauh dari kepentingan rakyat. Ia menilai kebijakan publik dan penunjukan pejabat kini lebih berorientasi pada elektoral dibanding pelayanan masyarakat.

“Ada gejala akut, negara semula alat pembagi kemakmuran pencipta keadilan, direduksi jadi mesin elektoral,” ujar Sudirman, Kamis (21/5). Ia juga mengkritik arah penggunaan anggaran negara yang dinilainya tidak lagi merata kepada masyarakat. Menurutnya, kerusakan alam di Papua terjadi atas nama pembangunan.

“Kenapa ada perusakan alam Papua seperti di film ‘Pesta Babi’? APBN dibagi, tapi tidak untuk seluruh rakyat. Pejabat ditunjuk, tidak untuk melayani rakyat,” tegas Sudirman.

Ia menilai banyak institusi formal seperti DPR dan partai politik tidak lagi responsif terhadap kritik publik. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat sipil dan generasi muda untuk memperkuat konsolidasi.

“Kita terima? Jangan sampai. Bukan dengan melawan, tapi mengorganisasi diri, mempersiapkan diri. DPR lumpuh, partai lumpuh, itu wake up call buat masyarakat sipil bangkit dan bersatu. Lewat forum ini, waktunya menata diri,” tegasnya.

Biaya Politik dan Eksploitasi Sumber Daya Alam

Sementara itu, mantan Direktur Eksekutif Perludem, Annisa Nur Agustyati, menyoroti tingginya biaya politik yang mendorong praktik eksploitasi sumber daya alam demi kepentingan elite dan penyandang dana politik.

Buy JNews
ADVERTISEMENT

“Kita bisa melihat secara elektoral, bagaimana elite politik mendapatkan pendanaan. Karena besarnya ongkos politik kita, cara-cara eksploitatif-ekstraktif dilakukan. Dana politik dari pengusaha yang tidak gratis itu dikembalikan servisnya oleh politisi kepada yang membiayai,” ungkap Annisa.

Ia menilai dampak dari relasi antara kekuasaan politik dan modal paling terasa di daerah kaya sumber daya alam seperti Papua.

“Alih-alih mendapatkan keadilan distribusi kemakmuran, rakyat Papua justru dihadapkan pada militerisme dan eksploitasi ugal-ugalan,” tuturnya.

Pendekatan Keamanan di Papua

Dalam kesempatan yang sama, aktivis hukum senior, Todung Mulya Lubis, menilai pendekatan keamanan yang dominan di Papua mencerminkan kegagalan negara dalam memperlakukan masyarakat secara adil dan manusiawi.

“Militer hari ini ada di mana-mana. Dari Presiden ke presiden, benih kolonialisme kuat terasa di Papua. Kita kerap lupa, Papua adalah bagian dari Indonesia,” bebernya.

Sedangkan, mantan Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, juga menyoroti ketimpangan yang terus terjadi di Papua di tengah eksploitasi sumber daya alam yang berkelanjutan.

“SDA hilang entah ke mana, meninggalkan mereka dalam ketimpangan. Belum cukup juga, terus dieksploitasi. Saya kira kita harus bisa berkata ‘cukup’ atas penderitaan Papua,” ucap Beka.

Kritik terhadap Pembangunan yang Merusak Lingkungan

Di sisi lain, arsitek dan pemikir perkotaan Marco Kusumawijaya mengkritik praktik pembangunan yang justru merusak lingkungan dan mengatasnamakan kepentingan publik. Ia mengajak masyarakat untuk menyatakan penolakan secara terbuka.

“Orang-orang itu melakukan atas nama kita. Maka, kita harus nyatakan kita tidak butuh hal-hal itu. Nyatakan sekeras-kerasnya. Kalau tidak, kita malu sebagai orang Indonesia,” ujar Marco.

Penutup: Fungsi Negara sebagai Distributor Keadilan

Menutup diskusi, mantan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan pentingnya mengembalikan fungsi negara sebagai pihak yang mendistribusikan keadilan. Ia menegaskan hubungan manusia dengan alam perlu diluruskan kembali.

“Kita ini pada hakikatnya hanya ketitipan saja untuk memelihara-merawat alam, bukan menguasai-memiliki,” pungkasnya.

ShareTweetSend
Redaksi

Redaksi

Related Posts

Rojab Asyari Lepas Foto Wapres Gibran dari Ruang Kerja, Sebut Bentuk Protes atas Putusan MK
Politik

Rojab Asyari Lepas Foto Wapres Gibran dari Ruang Kerja, Sebut Bentuk Protes atas Putusan MK

8 Oktober 2026 - 12:55
Ray Rangkuti: Jika Gibran Terganjal Putusan MK, Prabowo Berpeluang Pilih Pengganti dari Lingkar Koalisi
Politik

Ray Rangkuti: Jika Gibran Terganjal Putusan MK, Prabowo Berpeluang Pilih Pengganti dari Lingkar Koalisi

7 Oktober 2026 - 14:55
Chandra Nilai Putusan MK Bisa Jadi Pintu Uji Pemakzulan Gibran di DPR
Politik

Chandra Nilai Putusan MK Bisa Jadi Pintu Uji Pemakzulan Gibran di DPR

7 Oktober 2026 - 10:55
MK: Gibran Tak Penuhi Syarat Pendidikan untuk Pilpres 2029
Politik

MK: Gibran Tak Penuhi Syarat Pendidikan untuk Pilpres 2029

7 Oktober 2026 - 06:55
Rocky Gerung Minta Bakom RI Bantu Pulihkan Reputasinya di Publik
Politik

Rocky Gerung Minta Bakom RI Bantu Pulihkan Reputasinya di Publik

7 Oktober 2026 - 04:55
Komdigi Dukung Integrasi Sistem Usai UU Satu Data Indonesia Ditetapkan
Politik

Komdigi Dukung Integrasi Sistem Usai UU Satu Data Indonesia Ditetapkan

7 Oktober 2026 - 04:55
Next Post
Harga Emas Antam di Pegadaian dan BELM Hari Ini, Kamis 21 Mei 2026

Harga Emas Antam di Pegadaian dan BELM Hari Ini, Kamis 21 Mei 2026

Harga saham turun 60%, kekayaan konglomerat Indonesia merosot Rp230 triliun

Harga saham turun 60%, kekayaan konglomerat Indonesia merosot Rp230 triliun

Discussion about this post

klikkepri.com

Klik Kepri Merupakan Portal Berita yang menyajikan informasi Indeks berita terkini dan terbaru hari ini dari peristiwa, kecelakaan, kriminal, hukum, berita unik, Politik, dan liputan khusus di Indonesia

Copyright© 2026 | Klikkepri.com

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Teknologi
  • Batam
  • Anambas
  • Bintan
  • Lingga
  • Natuna
  • Tanjung Pinang
  • Karimun
  • Disclamer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Subscription
  • Category
    • Lifestyle
    • Health
    • Travel
    • Opini
    • Tech
    • World
  • Landing Page
  • Buy JNews
  • Support Forum
  • Pre-sale Question
  • Contact Us

Copyright© 2026 | Klikkepri.com