Kiper Rayo Vallecano, Emil Audero, mengungkap alasan di balik keputusannya membela Timnas Indonesia setelah sempat menolak tawaran sebelumnya. Dalam wawancara dengan Gianluca di Marzio, penjaga gawang berdarah Indonesia-Italia itu menyebut dukungan keluarga dan keinginannya mencoba pengalaman baru di luar Eropa menjadi faktor penting yang mengubah pandangannya. Ia juga menilai gairah sepak bola Indonesia makin besar setelah keberhasilan tim meraih FIFA ASEAN Cup 2026.
Emil mendapat sorotan besar saat menjadi salah satu tokoh utama keberhasilan Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Di partai final melawan Thailand, ia tampil menentukan dalam adu penalti lewat penyelamatan atas eksekusi Nattapong Sayriya. Aksi itu disambut meriah oleh sekitar 70 ribu penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang menyaksikan langsung lahirnya gelar besar pertama Indonesia setelah penantian panjang.
Trofi tersebut menjadi pencapaian bersejarah bagi Timnas Indonesia karena memutus puasa gelar selama 35 tahun. Sebelum kemenangan di turnamen itu, terakhir kali Indonesia mengangkat trofi adalah pada SEA Games 1991. Bagi Emil sendiri, gelar tersebut juga punya arti khusus karena menjadi trofi pertamanya bersama tim nasional.
Berbicara soal latar belakangnya, Emil menjelaskan bahwa ia lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, tetapi tumbuh besar di Italia sehingga sangat dekat dengan budaya Negeri Pizza. Ia berasal dari keluarga campuran: ayahnya orang Indonesia dan ibunya orang Italia. Ia bahkan menyebut pernah mendapat komentar soal logat bicaranya yang terdengar seperti aksen Piedmont.
Emil juga mengaku sempat menerima ajakan membela Indonesia ketika masih memperkuat Inter Milan. Namun saat itu ia belum bisa langsung menerima karena kondisi keluarga. “Saya menolak karena situasi keluarga,” ujarnya. Setelah itu, keadaan berubah dan dukungan dari keluarga membuatnya meninjau ulang keputusan tersebut.
Perubahan sikap itu akhirnya membawanya bergabung dengan skuad Garuda. Emil mengatakan dirinya ingin merasakan tantangan baru di luar sepak bola Eropa. “Saya perlu mencoba pengalaman baru dan melihat sepak bola di luar Eropa,” katanya. Setelah resmi bergabung, ia mengaku tidak menyesal sedikit pun.
Menurut Emil, pengalaman bersama Timnas Indonesia memberinya banyak pelajaran, baik sebagai pesepak bola maupun secara pribadi. Ia juga menyinggung sambutan publik yang begitu besar, sampai-sampai tim harus mengubah rencana menjelang final karena banyaknya suporter yang ingin berfoto dan meminta tanda tangan. Baginya, antusiasme itu menjadi bukti bahwa sepak bola Indonesia punya energi besar untuk terus berkembang.










Discussion about this post