JAKARTA — Pelatih tim nasional Italia, Gennaro Gattuso, menanggapi kekhawatiran terkait atmosfer pertandingan saat timnya menghadapi Bosnia dalam laga final playoff menuju Piala Dunia FIFA 2026. Ia memastikan bahwa tekanan dari penonton tidak akan menjadi faktor penentu hasil pertandingan.
Italia akan bertandang ke Stadion Bilino Polje, Zenica pada Rabu (1/4/2026) dini hari WIB setelah sebelumnya berhasil melaju ke babak final dengan mengalahkan Irlandia Utara di semifinal playoff Jalur A. Laga ini sangat penting bagi Gli Azzurri untuk kembali tampil di putaran final Piala Dunia, setelah terakhir kali mencapai ajang tersebut pada 2014.
Gattuso menegaskan bahwa timnya tidak perlu khawatir terhadap faktor eksternal seperti kondisi stadion atau dukungan suporter tuan rumah. Ia menilai bahwa fokus utama adalah pada performa di lapangan.
“Kami memiliki rasa hormat yang besar kepada Bosnia atas apa yang mereka tunjukkan di lapangan. Tapi soal penggemar, mereka tidak mencetak gol. Itu tidak pernah terjadi pada saya,” ujar Gattuso kepada wartawan.
Persiapan tim juga sempat mengalami sedikit gangguan akibat cuaca buruk di Bosnia. Namun, Italia tetap melakukan latihan di Florence pada Senin pagi sebelum berangkat ke lokasi pertandingan. Meski begitu, Gattuso menilai kondisi lapangan tidak bisa dijadikan alasan untuk mengurangi kompetitifitas.
“Jika lapangannya buruk, itu buruk bagi kedua tim. Pertandingan tetap harus dimainkan,” tambahnya.
Perbaikan Performa
Gattuso mengambil alih kursi pelatih Italia menggantikan Luciano Spalletti setelah kekalahan dari Norwegia mengganggu peluang mereka lolos ke Piala Dunia. Meskipun performa Italia saat menghadapi Irlandia Utara belum sepenuhnya meyakinkan, Gattuso melihat perkembangan signifikan dalam tim sejak ia mengambil alih.
“Secara taktik malam itu kami memang membuat kesalahan. Tapi tujuh bulan lalu kami bukan tim seperti sekarang,” kata dia.
Ia menyebut bahwa sebelumnya, Italia sering kesulitan menghadapi tekanan lawan dan mudah kebobolan. Kini, ia lebih memilih tim yang solid meski permainan tidak selalu atraktif.
“Mungkin kami tidak bermain ultra-ofensif dan mungkin kurang brilian, tapi saya lebih menyukai tim yang kokoh dan tidak terlalu menderita, meskipun itu berarti kurang indah,” ujarnya.
Italia terakhir kali menjuarai Piala Dunia pada 2006, ketika Gattuso masih menjadi pemain. Ia berharap semangat yang sama bisa kembali ditunjukkan oleh skuad saat ini.
“Kami akan bermain dengan keinginan dan agresivitas. Dalam sejarah sepak bola kami, itu adalah aspek yang paling penting,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan Italia pada masa lalu tidak hanya ditentukan oleh kualitas, tetapi juga daya juang. Menurutnya, Italia menjadi juara karena daya saing dan kemampuan untuk bertahan dalam tekanan.
Gattuso pun berharap para pemainnya mampu mewujudkan target lolos ke Piala Dunia. “Saya bangga kepada mereka. Saya senang dengan mereka, bahkan jika situasi berjalan sulit. Saya harap tidak.”
Ketika ditanya mengenai kemungkinan hasil buruk, Gattuso memilih tidak banyak berandai-andai. Jika terjadi, tentu akan menjadi kekecewaan besar. Namun, ia menegaskan akan bertanggung jawab sebagai pelatih.










Discussion about this post