Komunitas Pendaki U-50 Plus Indonesia: Wadah bagi Pecinta Alam yang Aktif di Usia Lanjut
Komunitas Pendaki U-50 Plus Indonesia hadir sebagai wadah bagi para pecinta alam berusia lanjut yang tetap aktif dalam mendaki gunung. Kehadiran komunitas ini memberikan ruang bagi anggotanya untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan menjaga kesehatan melalui aktivitas luar ruangan.
Pada suatu kegiatan kopdar yang digelar di Warkop Graha Raya, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, para anggota komunitas tampak berkumpul dan saling berinteraksi satu sama lain. Mereka saling berbincang dan bertukar cerita mengenai pengalaman mereka saat menyusuri berbagai gunung sambil menikmati momen kebersamaan dalam suasana akrab dan penuh kehangatan.
Ketua Komunitas Pendaki U-50 Plus Indonesia, Sigit Panji, menjelaskan bahwa pemilihan Facebook sebagai media awal bukan tanpa alasan. “Karena usia-usia kita di atas 50 gitu, itu metode yang kita familiar itu Facebook,” ujar Sigit Panji, saat berbicara di Pondok Aren, Tangsel, Minggu (3/5/2025).
Seiring berjalannya waktu, komunitas ini berkembang pesat. Dari yang awalnya sekadar grup kecil, kini jumlah anggotanya mencapai puluhan ribu. “Jadi kita bikin dari grup Facebook, mengiring dengan berjalannya waktu, kita ini sudah mencapai anggota dari Facebook saja itu sudah 63.000,” katanya.
Selain di Facebook, komunitas ini juga berkembang melalui WhatsApp Group dengan jumlah anggota sekitar seribu orang. Meskipun tidak memiliki sistem pendaftaran resmi, komunitas ini tetap berjalan dengan basis data sederhana dari dua platform tersebut.
Sebaran Anggota yang Luas
Anggota komunitas ini tersebar cukup luas, tidak hanya di Indonesia. “Anggota tersebar itu ada di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Ada juga sebagian yang di luar negeri, jadi pekerja migran yang bekerja di Hongkong, Taiwan,” jelasnya.
Komunitas ini kini telah memasuki tahun kedua sejak berdiri. Rentang usia anggotanya juga beragam, mulai dari 45 hingga 70 tahun, bahkan ada yang mendekati 80 tahun meski jumlahnya sangat sedikit. Awalnya, konsep “50+” digunakan sebagai penanda usia minimal. Namun seiring kebutuhan dan antusiasme, batasan tersebut menjadi lebih fleksibel.
“50 plus itu hanya sebagai tanda baca, Jadi 50 up, tapi kalau di bawah 50, karena banyak permintaan, akhirnya kita buka juga, minimal 45 bisa bergabung,” ujarnya.
Perbedaan dengan Pendaki Muda
Perbedaan utama komunitas ini dengan pendaki muda terletak pada tujuan dan pendekatan. Menurutnya, pendakian di usia matang lebih menekankan kesehatan dan kebersamaan. “Kita ini ranahnya hanya sebagai jaga kesehatan, stabilitas, perhatian hati,” katanya.
Ia menyinggung perbedaan kondisi fisik dengan masa muda. “Dulu waktu masih muda tenaga ada, duit nggak ada. Tapi sekarang duit ada tapi tenaganya sudah nggak ada,” ujarnya sambil tertawa.
Meski demikian, semangat mendaki tetap terjaga. Komunitas ini tidak lagi mengejar prestasi ekstrem, tetapi lebih pada pengalaman bersama. “Pendakiannya ya terkoordinir secara kelompok-kelompok aja,” tambahnya.
Kegiatan Sosial dan Lingkungan
Selain mendaki, Sigit mengatakan komunitas ini juga aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan. “Kita juga ada kegiatan sosial, pernah kirim bantuan bencana, bersih-bersih gunung, dan penanaman pohon,” jelasnya.
Kegiatan pendakian dilakukan secara rutin dengan skala besar maupun kecil. Beberapa gunung yang pernah didaki bersama antara lain Gunung Ceremai, Gunung Klamet, Gunung Sindoro, hingga Gunung Tawang. Dalam satu pendakian, jumlah peserta bisa sangat besar. “Terakhir kita pendakian ke Gunung Sunding itu sampai 150 orang,” ungkapnya.
Manajemen Kelompok yang Efisien
Kondisi ini membuat manajemen kelompok menjadi tantangan tersendiri. Meski usia tidak lagi muda, kemampuan manajemen tetap menjadi kunci. “Kita punya manajemen waktu, manajemen fisik, manajemen logistik. Walaupun fisik tidak seperti dulu, tapi mental masih ada,” katanya.
Untuk menjaga keberlanjutan komunitas, kegiatan dilakukan secara swadaya. “Kalau trip kita buka pendaftaran, ada biaya untuk navigasi, porter, dan transportasi. Tidak ada biaya lain-lain,” jelasnya.
Harapan dari komunitas ini adalah agar tetap menjadi ruang bagi para pendaki usia matang untuk tetap aktif dan sehat. “Harapannya mudah-mudahan komunitas ini tetap hidup dan jadi wadah bagi kawan-kawan,” tutupnya.










Discussion about this post