Prabowo Subianto memasuki usia 75 tahun pada 17 Oktober 2026, setelah menempuh lintasan hidup yang jarang lurus: masa kecil di berbagai negara, pendidikan militer, karier panjang di TNI, masuk ke bisnis, membangun partai, berkali-kali ikut pemilihan presiden, lalu akhirnya memenangkan kontestasi nasional dan menjadi Presiden Republik Indonesia.
Ia lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951. Prabowo adalah putra ekonom dan politikus Soemitro Djojohadikusumo serta Dora Marie Sigar. Sejak kecil, kehidupannya banyak berpindah mengikuti keluarga. Catatan Komisi Pemilihan Umum untuk Pilpres 2024 menunjukkan, pendidikan dasarnya ditempuh di Singapura, lalu berlanjut di Malaysia, Swiss, dan Inggris.
Jejak sekolahnya dimulai di The Dean School, Singapura, pada 1957-1960, kemudian Glenealy Junior School pada 1960-1962. Saat usianya sekitar 11 tahun, ia belajar di Victoria Institution, Kuala Lumpur, pada 1962-1964. Setelah itu, Prabowo pindah ke American International School of Zurich, Swiss, pada 1964-1966, dan menamatkan pendidikan menengah atas di The American School in London, Inggris, pada 1966-1968. Sekembalinya ke Indonesia, ia tidak memilih jalur sipil, melainkan masuk dunia kemiliteran.
Pada 1970, ketika berusia sekitar 18 tahun, Prabowo menempuh pendidikan di Akademi Militer Nasional Magelang. Empat tahun kemudian ia lulus dan mulai bertugas sebagai perwira TNI Angkatan Darat. Kariernya bergerak dari satu penugasan ke penugasan lain, dimulai sebagai Komandan Peleton Para Komando Grup-1 Kopassandha pada 1976, lalu naik menjadi Komandan Kompi Para Komando Grup-1 Kopassandha setahun sesudahnya. Pada dekade 1980-an, ia memegang sejumlah posisi penting, termasuk Wakil Komandan Detasemen 81 Kopassus, Wakil Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad, hingga Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad. Setelah itu, ia juga pernah memimpin atau menduduki jabatan di Brigade Infanteri Lintas Udara 17/Kujang I/Kostrad, Grup-3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus, Wakil Komandan Kopassus, dan Komandan Kopassus.
Karier militernya mencapai titik tertinggi saat ia berusia 44 tahun. Pada 1996, Prabowo diangkat sebagai Komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat mayor jenderal. Dua tahun kemudian, pada Maret 1998, ia menduduki posisi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, jabatan tertinggi dalam perjalanan militernya. Namun, situasi politik yang berubah setelah mundurnya Presiden Soeharto membuat langkahnya di militer berakhir pada 1998. Ia sempat dipindahkan menjadi Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI sebelum menuntaskan pengabdian militernya pada Agustus 1998.
Setelah keluar dari militer, Prabowo beralih ke bisnis dan mengembangkan usaha di perkebunan, pertambangan, kelapa sawit, serta batu bara. Pada 2004, saat berusia sekitar 52 tahun, ia ikut konvensi calon presiden Partai Golkar, tetapi tidak terpilih. Empat tahun kemudian, pada 2008, ia menjadi salah satu tokoh yang mendirikan Partai Gerindra, partai yang kemudian menjadi basis utama langkah politiknya.
Jalan menuju kursi presiden tidak singkat. Prabowo mula-mula tampil sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2009 mendampingi Megawati Soekarnoputri, namun kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Pada Pilpres 2014, ia maju sebagai calon presiden bersama Hatta Rajasa dan kembali gagal setelah KPU menetapkan kemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pada Pilpres 2019, ia berpasangan dengan Sandiaga Uno dan lagi-lagi belum berhasil. Situasi berubah setelah itu: pada Oktober 2019, Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan. Jabatan itu dipegang hingga 2024, dengan fokus pada penguatan sumber daya manusia pertahanan, modernisasi alutsista, dan perluasan kerja sama pertahanan. Pada 2022, Gerindra kembali mengusungnya sebagai calon presiden bersama Gibran Rakabuming Raka, dan pada Pilpres 2024 Prabowo akhirnya menang.










Discussion about this post