Dunia hiburan Indonesia kehilangan salah satu aktor seniornya. Yadi Timo, yang memiliki nama lahir Yadi Mulyadi, meninggal dunia pada Jumat, 16 Oktober 2026, saat usianya 66 tahun. Kepergian ini memantik duka dari keluarga, rekan sesama artis, hingga sahabat dekat yang selama ini mengenalnya sebagai sosok hangat di lingkungan kerja maupun pertemanan.
Salah satu ungkapan paling emosional datang dari sutradara sekaligus pelatih akting Eka Dimitri Sitorus, yang akrab disapa Bang Eka. Melalui unggahan di akun Instagram @saktiactorstudio pada hari yang sama, ia membagikan isi pesan terakhirnya dengan Yadi yang dikirim pada Rabu, 14 Oktober 2026. Bang Eka juga mengenang pertemuan terakhir mereka di Sakti Actor Studio, tempat yang kini justru terasa menjadi titik perpisahan yang tak disadari saat itu.
Dalam unggahannya, Bang Eka menumpahkan rasa kehilangan yang sulit dibendung. Ia menulis bahwa kunjungan Yadi ke studionya ternyata menjadi momen terakhir yang mereka bagi bersama. “Mo, kalau mau pergi selamanya kayak gini, harusnya lu jangan mampir ke Sakti Actor Studio! Sakitnya nusuk dalam banget tau!” tulisnya. Kalimat itu menggambarkan betapa beratnya ia menerima kabar duka tersebut.
Bang Eka juga menegaskan bahwa percakapan mereka pada Rabu itu berlangsung seperti biasa, tanpa tanda-tanda akan menjadi komunikasi terakhir. Bahkan, ia masih teringat jelas pertemuan pada Sabtu di pekan sebelumnya, yang kini berubah makna setelah Yadi tiada. “Gue nggak kepikiran sedikit pun kalau chat Rabu kemarin, bakal jadi chat terakhir kita,” tulisnya. Ia menambahkan bahwa dirinya tak pernah membayangkan pertemuan hari Sabtu pekan lalu menjadi tatap muka terakhir mereka.
Rasa kehilangan itu makin dalam ketika Bang Eka mengingat kebiasaan kecil yang selama ini mewarnai hubungan mereka. Ia menyebut buku yang sempat dibawa pulang Yadi, kebiasaan sahabatnya mengingatkan dirinya untuk makan pepaya, serta janji membawa mangga dari Indramayu. Dalam pesannya, Bang Eka seolah sedang memungut kembali potongan rutinitas yang kini tak mungkin terulang. Ia juga menyebut nama Gita, Eno, dan Aviv, seraya mempertanyakan siapa yang kini akan mengurus mereka, termasuk dirinya sendiri.
Di luar kabar duka tersebut, Yadi Timo meninggalkan jejak panjang di dunia seni peran. Lahir pada 12 Februari 1960, ia pernah menimba ilmu di Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Kesenian Jakarta. Sepanjang kariernya, ia tampil dalam puluhan sinetron, di antaranya Lorong Waktu, Kisah Sedih di Hari Minggu, Liontin, Anak Cucu Adam, Benci Bilang Cinta, Buku Harian Nayla, Safa dan Marwah, serta Putri yang Ditukar. Di layar lebar, ia juga bermain dalam Petualangan Sherina, Petualangan 100 Jam, Rindu Kami PadaMu, Brownies, Banyu Biru, dan Marley.
Kepergian Yadi tidak hanya menutup perjalanan seorang aktor produktif, tetapi juga meninggalkan kenangan personal bagi orang-orang yang pernah bekerja dan bersahabat dengannya. Bagi Bang Eka, percakapan singkat pada Rabu kemarin kini berubah menjadi pengingat paling pahit tentang perpisahan yang datang terlalu cepat.









Discussion about this post