Militer Israel meminta pemerintah menunda rencana serangan ke Iran sampai pemilihan parlemen pada 27 Oktober selesai. Kekhawatiran utama para pejabat pertahanan adalah pecahnya perang justru dapat mengganggu proses pemungutan suara dan memunculkan tuduhan bahwa operasi militer dipakai untuk kepentingan politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Isu ini muncul di tengah laporan bahwa Amerika Serikat tengah menyiapkan opsi operasi militer terhadap Iran. Washington juga disebut membuka pembahasan mengenai kemungkinan Israel menyerang kelompok Houthi di Yaman, setelah insiden di Arab Saudi kembali memanaskan situasi keamanan kawasan.
Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, menilai serangan ke Iran dalam tiga pekan ke depan berisiko memicu balasan cepat dari Teheran. Intelijen militer memperkirakan Iran akan merespons dengan rudal yang diarahkan ke wilayah Israel. Jika skenario itu terjadi, pemilu dinilai bisa terdorong mundur karena situasi keamanan tidak lagi memungkinkan.
Selain soal eskalasi, kalangan militer juga cemas publik menilai langkah tersebut bukan semata kebutuhan pertahanan. Kepercayaan warga terhadap aparat keamanan Israel disebut belum sepenuhnya pulih sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Karena itu, jika perang meletus sebelum hari pencoblosan, IDF khawatir akan dipersepsikan membantu Netanyahu mempertahankan kekuasaan.
Laporan intelijen Israel juga menyebut Iran terus menambah stok rudal balistik dan memperluas fasilitas produksinya. Meski demikian, para jenderal menilai stabilitas politik domestik tetap harus dijaga sebelum mengambil keputusan militer besar. Dengan kata lain, mereka menimbang bukan hanya ancaman dari luar, tetapi juga dampaknya terhadap situasi dalam negeri.
Di sisi lain, Departemen Pertahanan AS dilaporkan telah menyusun skenario serangan cepat selama tiga hari ke sejumlah target di Iran. Dalam rencana itu, tiga kapal induk Amerika disiapkan di Timur Tengah untuk membidik pangkalan drone, gudang rudal, dan instalasi energi Teheran. Penyusunan opsi tersebut disebut dilakukan bersama IDF melalui koordinasi intensif.
Pembahasan lain menyangkut kemungkinan Israel menyerang sasaran Houthi di Yaman. Opsi ini mencuat setelah kelompok tersebut meluncurkan serangan rudal ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang menewaskan 12 orang. Zamir sendiri mengingatkan AS bahwa serangan ke Yaman berpotensi memperluas konflik regional dan membuka peluang keterlibatan langsung Iran. Sementara itu, pernyataan publik Presiden AS Donald Trump justru berbeda dengan dugaan adanya persiapan operasi militer di Pentagon. Dalam unggahan di Truth Social, yang dikutip The Jerusalem Post pada Minggu (11/10/2026), Trump mengatakan,










Discussion about this post