Sarwendah mengungkap sisi lain dari upayanya menjaga hubungan anak-anak dengan Ruben Onsu. Dalam keterangannya, ia menegaskan tidak pernah menutup akses komunikasi maupun pertemuan antara anak dan ayah mereka. Bahkan, ia mengaku justru berkali-kali yang mendorong anak-anak agar mau bertemu Ruben. Pengakuan itu disampaikan saat berbicara dalam tayangan YouTube Cumi-cumi, Selasa 6 Oktober 2026.
Menurut Sarwendah, ajakan itu bukan dilakukan sekali dua kali. Ia mengaku sering mengatakan kepada anak-anak agar mau bertatap muka dengan Ruben, karena baginya relasi anak dengan orang tua tetap perlu dijaga. Namun, niat tersebut ternyata tidak selalu dipandang tepat. Sarwendah mengatakan dirinya kemudian mendapat teguran dari psikolog anak karena dorongan yang dinilai terlalu kuat.
Ia menjelaskan, dari hasil asesmen psikologis muncul dugaan bahwa anak-anak justru menangkap pesan yang keliru. Saat terus diminta bertemu ayahnya, anak bisa merasa seolah-olah sedang disingkirkan atau bahkan diusir oleh ibunya sendiri. Karena itulah, ia diminta untuk tidak memaksa. Sarwendah menilai masukan itu penting, sebab psikolog melihat adanya kesan emosional yang mungkin tidak disadari dalam cara penyampaian kepada anak.
Di sisi lain, Sarwendah menyayangkan minimnya inisiatif dari pihak Ruben Onsu. Ia mengatakan upaya mendekatkan anak dengan ayahnya tidak semestinya hanya dibebankan kepada dirinya. Menurut dia, jika memang ada keinginan bertemu, seharusnya ada juga usaha langsung dari pihak Ruben, baik kepada anak-anak maupun kepadanya. Ia menegaskan, selama ini tidak ada kontak yang masuk dari Ruben kepada dirinya terkait hal itu.
Sarwendah juga menuturkan bahwa dirinya sudah berusaha menurunkan ego pribadi demi kepentingan anak. Ia bahkan mengajak Ruben untuk sama-sama bersikap sebagai orang dewasa dan mengesampingkan masalah masing-masing. Dalam pandangannya, hubungan orang tua dengan anak tidak boleh kalah oleh persoalan emosional antarorang dewasa. Namun, ia mengaku ajakan itu tidak mendapat respons yang diharapkannya.
Ia menutup pernyataannya dengan penegasan bahwa keinginan anak semestinya menjadi prioritas. Baginya, orang dewasa tidak seharusnya bersikap egois ketika menyangkut kebutuhan psikologis anak. Sementara itu, kuasa hukum Sarwendah menyebut persoalan ini sudah dikonsultasikan ke sejumlah lembaga, termasuk KPAI, PPA, dan Komnas Anak. Mereka juga membuka ruang dialog dengan pengacara Ruben Onsu, Minola Sebayang, agar bisa menemukan solusi terbaik dengan tetap mengutamakan kondisi anak-anak di tengah proses hukum yang masih berjalan.








Discussion about this post