Irjen Pol Asep Safrudin resmi mendapat penugasan baru sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri dalam daftar mutasi yang tertuang pada Surat Telegram Kapolri Komjen Suyudi Ario Seto. Keputusan itu muncul sehari setelah Suyudi dilantik sebagai Kapolri, dan menempatkan Asep di salah satu posisi paling strategis di Mabes Polri. Pengangkatan ini ikut memunculkan pembicaraan publik karena Asep memiliki hubungan keluarga dengan mantan Kapolri Jenderal Sutarman, sosok yang kariernya juga pernah melejit hingga pucuk pimpinan Polri.
Sebelum bergeser ke Bareskrim, Asep bertugas sebagai Kapolda Kepulauan Riau. Pergantian jabatan itu menjadi bagian dari perombakan besar di lingkungan pejabat utama Mabes Polri. Selain Asep, daftar mutasi juga memuat sejumlah nama lain di posisi penting, mulai dari Irwasum Polri, Kabaintelkam, Kabaharkam, Kalemdiklat, hingga Kadiv Propam, Kadiv TIK, dan beberapa jabatan staf khusus lainnya. Perubahan ini menunjukkan adanya penyegaran di tubuh kepolisian pada level strategis.
Dalam kariernya, Asep dikenal memiliki pengalaman menangani persoalan keamanan yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. Reputasi itu membuat namanya dinilai cocok untuk memimpin fungsi reserse yang menuntut kecepatan analisis dan kemampuan membaca pola kejahatan modern. Di Kepulauan Riau, wilayah yang berbatasan dekat dengan Malaysia, ia juga disebut mendorong kerja sama kepolisian lintas negara untuk menghadapi tindak kriminal yang melintasi batas wilayah. Langkah tersebut menjadi salah satu capaian yang menonjol selama masa tugasnya di provinsi kepulauan itu.
Kedekatan Asep dengan Jenderal Sutarman bukan hanya karena hubungan keluarga. Keduanya sama-sama pernah memimpin Kepulauan Riau sebelum naik ke jabatan yang lebih tinggi di Polri. Bedanya, Sutarman memegang posisi itu lebih lama, yakni sebagai Kapolda Kepri pertama pada periode 2005 sampai 2008, sedangkan Asep hanya sekitar satu tahun. Sutarman sendiri kemudian dikenal luas di publik, terutama sejak masa Presiden Abdurrahman Wahid, dan memiliki rekam jejak yang dianggap bersih dari pelanggaran.
Nama Sutarman juga lekat dengan sejumlah catatan unik dalam kariernya. Ia bahkan empat kali berturut-turut menggantikan posisi yang sebelumnya ditinggalkan Jenderal Timur Pradopo. Setelah menjabat Kabareskrim, ia kemudian dipercaya menjadi Kapolri. Pada tahap akhir pengabdiannya, Sutarman sempat mendapat tawaran menjadi duta besar, namun memilih pensiun dan fokus pada kegiatan pertanian.
Kesamaan jalur karier inilah yang membuat penunjukan Asep ke kursi Kabareskrim menarik perhatian. Sama seperti Sutarman, ia kini memegang jabatan yang pernah menjadi batu loncatan sebelum seseorang menduduki posisi tertinggi di kepolisian. Namun, apakah jejak itu akan berlanjut sampai ke kursi Kapolri, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Dalam catatan yang beredar, Asep tercantum berpangkat Irjen Pol dan didampingi istri, drg Detta Dwi Ariyani Novita.








Discussion about this post