Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan akan mengambil tindakan keras terhadap Iran bila dugaan keterlibatan Teheran dalam insiden pesawat Flydubai rute Dubai-Tel Aviv terbukti benar. Pernyataan itu ia sampaikan di Gedung Putih pada Kamis (1/10/2026), saat menjawab pertanyaan wartawan sebelum berangkat ke Texas. Insiden tersebut membuat pesawat nomor FZ1073 mendarat darurat di Arab Saudi setelah kopilotnya diduga berupaya menjatuhkan pesawat.
Pesawat itu membawa 180 penumpang, dan sebagian besar di antaranya adalah warga Israel yang sedang dalam perjalanan pulang. Di tengah penyelidikan yang masih berjalan, aparat Israel bersama otoritas Uni Emirat Arab (UEA) telah membentuk pemeriksaan bersama untuk menelusuri motif pelaku dan kemungkinan ada tidaknya jaringan di belakang aksi tersebut.
Trump mengatakan pihaknya sedang mencermati temuan awal yang mengarah pada Iran. Ia menegaskan AS tidak akan tinggal diam jika dugaan itu menguat. “Oh, mereka (Iran) akan dihantam sangat keras, jangan khawatir,” ujarnya, seperti dikutip The Straits Times. Ucapan itu juga muncul ketika Washington sedang menambah kehadiran militer di kawasan Timur Tengah, termasuk pengiriman rudal Patriot dan kapal induk USS Theodore Roosevelt beserta gugus tempurnya.
Namun, sikap Israel belum sekeras pernyataan Trump. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memilih menunggu hasil penyelidikan dan menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Teheran berada di balik peristiwa tersebut. Seorang pejabat Israel, mengutip The Jerusalem Post, mengatakan kopilot diduga bertindak sendiri dan tidak mewakili pihak lain, meski proses penelusuran tetap berlangsung.
Dalam penilaian awal Israel, kopilot berkebangsaan Oman itu diduga mengalami radikalisasi sebelum melakukan aksinya. Pemerintah Israel juga mulai meninjau ulang prosedur penerbangan setelah insiden itu memperlihatkan bagaimana seorang pilot asal Oman bisa lolos ke wilayah udara mereka. Di sisi lain, otoritas Israel menyiapkan penerbangan evakuasi bagi warganya yang masih tertahan di UEA.
Kronologi kejadian menunjukkan situasi di dalam kokpit berubah drastis saat pesawat mendekati wilayah udara Yordania. Kopilot diduga menyerang Kapten Smit Machchhar dengan pisau, lalu terjadi perebutan kendali yang membuat pesawat menukik tajam ribuan meter dalam waktu kurang dari satu menit. Dalam kondisi terluka, kapten berhasil membuka pintu kokpit agar penumpang dapat membantu, sebelum sejumlah penumpang melumpuhkan pelaku dan kru cadangan mengambil alih kendali hingga pesawat mendarat di Bandara Tabuk, Arab Saudi.
Setelah pendaratan darurat, pelaku diserahkan Arab Saudi kepada tim pengamanan UEA untuk pemeriksaan lanjutan. Jaksa Agung UEA Hamad Saif Al Shamsi menyatakan penyidik kini memusatkan perhatian pada unsur terorisme dan menelusuri apakah ada pihak lain yang turut terlibat dalam insiden yang memicu ketegangan baru di kawasan tersebut.









Discussion about this post