Kondisi Situs Candi Kayen yang Memprihatinkan
Situs Candi Kayen di Kabupaten Pati kini menghadapi kondisi yang memprihatinkan. Sebagai satu-satunya peninggalan bersejarah berbahan batu bata di wilayah tersebut, situs ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Namun, minimnya anggaran dan fasilitas perawatan membuat upaya pelestarian terhadap situs ini jauh dari kata optimal.
Juru pelihara Situs Candi Kayen, Nur Rohmat, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut terjadi sejak pengelolaan sepenuhnya berada di bawah Pemerintah Kabupaten Pati. Ia menyebut, bantuan yang dulu rutin diberikan kini tidak lagi tersedia. Dulu, pihak BP3 memberikan jatah tahunan berupa alat seperti sapu, pacul, sabit, hingga obat rumput. Namun, saat ini, semua itu sudah tidak ada lagi.
“Kami harus mencabuti rumput secara manual dengan tangan. Saya sudah beberapa kali mengajukan permohonan, tapi alasannya selalu tidak ada anggaran,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Awal Penemuan dan Penelitian Arkeologi
Situs Candi Kayen pertama kali ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 2009. Saat itu, warga sedang menggali pondasi untuk pembangunan musala di area persawahan. Pada waktu menggali pondasi, mereka menemukan susunan batu bata yang masih terstruktur.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan ditindaklanjuti oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3). Penanganan lebih lanjut dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta melalui proses kajian dan penelitian mendalam. Peninjauan resmi dilakukan pada Mei 2010, dilanjutkan dengan ekskavasi bertahap yang berlangsung hingga 2013.
Struktur Bangunan dan Nilai Historis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs ini terdiri dari dua bangunan utama, yakni candi induk dan candi perwara. Candi induk berukuran 6 x 6 meter dengan orientasi menghadap barat, sementara candi perwara berukuran 2 x 4 meter dan menghadap timur. Struktur bangunan menggunakan bata klasik dengan ukuran khas, yang mengindikasikan bahwa situs ini berasal dari abad ke-7 hingga ke-9 Masehi, masa Mataram Hindu sebelum era pembangunan Candi Borobudur.

Fasilitas Minim dan Ancaman Terhadap Pelestarian
Meski memiliki nilai penting dalam sejarah penyebaran budaya di jalur Pantura, kondisi Situs Candi Kayen saat ini jauh dari ideal. Sejumlah bagian bangunan seperti reruntuhan tubuh dan atap candi hanya disimpan di ruang penyimpanan sederhana yang bahkan mengalami kebocoran.
Selain keterbatasan fasilitas, kesejahteraan juru pelihara juga menjadi sorotan. Nur Rohmat hanya menerima honor sebesar Rp475.000 per bulan dari pemerintah daerah. Dalam praktiknya, ia bahkan harus mengeluarkan biaya pribadi untuk menunjang perawatan situs.

“Harapan saya, pemerintah punya pos anggaran khusus untuk pemeliharaan kebudayaan klasik seperti ini, karena ini satu-satunya yang tersisa di Pati,” pungkasnya.










Discussion about this post