Rano Karno Akhirnya Memiliki Kampung Halaman di Bonjol, Pasaman
Aktor sekaligus politisi Rano Karno mengungkapkan bahwa dirinya adalah orang Betawi dan tidak memiliki kampung halaman. Selama ini, ia jarang pulang kampung atau mudik saat momen Lebaran Idul Fitri. Namun, kini Rano Karno memiliki kampung halaman di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat. Tempat tersebut merupakan rumah peninggalan dari mendiang ayahnya.
“Saya anak Betawi, nggak pernah pulang kampung. Sekarang saya punya kampung di Bonjol, Pasaman,” kata Rano Karno dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya.
Menurut Rano Karno, ia hanya mendengar cerita dari ayahnya bahwa dirinya berasal dari kampung Jambak, Bonjol, Kabupaten Pasaman. Menurut cerita ayahnya, almarhum lahir dan besar di sana sebelum akhirnya merantau ke Ibu Kota.
“Saya tidak pernah pulang kampung ke kampung Jambak, saya hanya mendengar dari almarhum bapak saya. Keluarga bapak kami keluarga kecil. Bapak saya cuma 2 bersaudara, Sukarno M. Noor dan Ismed M. Noor,” ujar Rano Karno.
Pada suatu kesempatan, Rano Karno diajak untuk terlibat dalam acara pembukaan cabang sebuah bank di Kota Padang. Ia menyetujuinya dengan syarat harus diajak ke kampung halaman mendiang ayahnya.
Rano Karno mengaku tidak tahu pasti lokasi rumah mendiang ayahnya. Dia hanya mendapat cerita bahwa rumah ayahnya terletak di kampung Jambak, Bonjol, Pasaman. Pihak bank menyetujui persyaratan tersebut.
“Singkat kata, nggak jauh mau masuk Pasaman, saya suruh tanya kampung Jambak dimana. Langsung dijawab (oleh warga) itu rumah Sukarno,” kata Rano Karno.
Ia mengaku ingin membangun kembali rumah peninggalan mendiang ayahnya yang sudah hancur dan hanya tinggal fondasinya supaya bisa memiliki kampung halaman.
“Minta izin pak bupati, kalau saya punya uang, insya Allah saya bangun rumah ayah saya di sini, siapa tahu tiap tahun bisa pulang kampung,” ujar Rano Karno.
Proses Pencarian Kampung Halaman
Proses pencarian kampung halaman Rano Karno berawal dari cerita-cerita yang ia dengar dari ayahnya. Meski tidak pernah berkunjung ke kampung Jambak, ia tetap merasa memiliki ikatan emosional dengan tempat tersebut.
Selama ini, Rano Karno merasa sebagai orang Betawi yang tidak memiliki kampung halaman. Namun, kini ia merasa memiliki tempat yang bisa disebut sebagai kampung halamannya sendiri. Ini menjadi langkah penting bagi dirinya untuk lebih mengenal asal-usul keluarganya.
Kehadiran kampung halaman di Bonjol juga memberikan makna tersendiri bagi Rano Karno. Ia berharap bisa menjaga warisan keluarganya dengan membangun kembali rumah ayahnya yang sudah rusak.
Harapan untuk Masa Depan
Rano Karno menyatakan niatnya untuk membangun rumah ayahnya jika memiliki dana yang cukup. Ia berharap dapat melaksanakan rencana tersebut dengan dukungan pemerintah setempat.
“Kalau saya punya uang, insya Allah saya bangun rumah ayah saya di sini, siapa tahu tiap tahun bisa pulang kampung,” ujarnya.
Ini bukan hanya tentang membangun rumah, tetapi juga tentang menghidupkan kembali kenangan dan sejarah keluarga. Dengan adanya rumah tersebut, Rano Karno berharap bisa lebih dekat dengan akar keluarganya dan memiliki tempat yang bisa disebut sebagai kampung halamannya.
Kesimpulan
Kisah Rano Karno tentang menemukan kampung halaman di Bonjol, Pasaman, mengajarkan kita betapa pentingnya mengenal asal usul dan warisan keluarga. Bagi Rano Karno, kampung halaman ini bukan hanya sekadar tempat, tetapi juga simbol identitas dan kebanggaan.
Dengan rencana membangun kembali rumah ayahnya, Rano Karno menunjukkan komitmennya untuk menjaga warisan keluarga. Semoga impian ini dapat terwujud dan menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin mengenal lebih dalam tentang akar keluarganya.










Discussion about this post