Kabar meninggalnya dr. Myta Aprilia Azmy, seorang dokter internsip di Jambi, menimbulkan perhatian luas. Kejadian ini diduga terjadi karena beban kerja yang berlebihan. Salah satu tokoh yang menyampaikan tanggapannya adalah dr. Gia Pratama.
dr. Myta Aprilia Azmy, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri), sedang menjalani program internship di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi. Ia dikabarkan meninggal dunia pada Jumat (1/5/2026). Dugaan kuat mengarah pada kelelahan ekstrem akibat beban kerja yang berat. Bahkan, ia tetap dijadwalkan jaga malam meski sudah melaporkan adanya gejala sakit.
Akibatnya, kondisi dr. Myta memburuk hingga dirujuk ke RSMH Palembang sebelum akhirnya meninggal dunia. Kasus kematian ini menuai reaksi, termasuk dari dr. Gia Pratama. Ia menyampaikan pesan emosional dan kritik terbuka melalui akun Instagram pribadinya, Sabtu (2/5/2026).
Dalam unggahannya, dr. Gia menegaskan bahwa dokter internsip bukanlah tenaga kerja tanpa batas. Ia menekankan bahwa para dokter internsip adalah manusia yang sedang belajar mengabdi, namun tetap memiliki batasan fisik. Ia menyoroti bagaimana pengabdian seringkali dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan pribadi sang dokter.
”
Untuk teman-teman dokter internship, lelahmu valid. Sakitmu harus didengar. Keselamatanmu harus dijaga
,” tulis dr. Gia dalam unggahan yang dikutip pada Sabtu (2/5/2026).
Lebih lanjut, dr. Gia merinci poin-poin krusial yang seharusnya menjadi hak dasar bagi setiap dokter yang bertugas di wahana internsip maupun rumah sakit mana pun. Ia menegaskan bahwa:
- Teman-teman bukan tenaga kerja murah dan bukan mesin jaga.
- Jam kerja yang manusiawi.
- Supervisi yang layak.
- Lingkungan kerja yang aman.
- Penanganan medis saat sakit; semua itu adalah hak dasar.
Pernyataan ini seolah memvalidasi keresahan publik terkait kabar bahwa dr. Myta Aprilia diduga tetap diminta bekerja meski kondisi kesehatannya sedang menurun sebelum akhirnya kritis dan meninggal dunia. dr. Gia Pratama berharap tragedi yang menimpa dr. Myta tidak hanya menjadi berita viral yang kemudian terlupakan begitu saja. Ia mendorong agar peristiwa memilukan ini menjadi momentum perubahan nyata bagi kebijakan kesehatan nasional.
”
Semoga kepergian dr. Myta Aprilia menjadi duka yang menggerakkan. Bukan kabar yang ramai sehari lalu hilang ditelan lini masa
,” ungkapnya.
Di akhir pesannya, dr. Gia menyampaikan doa mendalam dan ucapan selamat jalan bagi sejawatnya tersebut.
”
Selamat jalan, dr. Myta Aprilia Azmi. Al-Fatihah
.” tutupnya.
Unggahan dr. Gia Pratama ini kini ramai dibagikan oleh ribuan netizen dan sejawat dokter lainnya sebagai bentuk solidaritas dan dukungan atas tuntutan investigasi transparan yang juga disuarakan oleh BEM KM FK Unsri serta Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Sebelumnya, dr. Myta Aprilia Azmy dikabarkan meninggal dunia diduga disebabkan oleh kelelahan ekstrem akibat beban kerja berlebih.










Discussion about this post