Penanganan Anak Korban Daycare di Yogyakarta
Kondisi kesehatan dan perkembangan anak-anak yang menjadi korban dugaan penelantaran dan kekerasan di daycare Little Aresha, Yogyakarta, menunjukkan indikasi serius. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengungkapkan bahwa terdapat 17 anak dengan gangguan gizi dan 13 anak lainnya yang terindikasi gangguan perkembangan seperti ADHD, autisme, serta speech delay.
Tim gabungan dari enam Puskesmas telah dikerahkan untuk memeriksa sebanyak 131 anak yang terdata. Proses pemeriksaan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mendeteksi kondisi kesehatan secara menyeluruh. Hasil awal menunjukkan bahwa banyak anak mengalami masalah kesehatan dasar dan perkembangan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Temuan yang Mengkhawatirkan
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, menjelaskan bahwa hasil asesmen menunjukkan kondisi fisik dan psikis para anak dalam keadaan memprihatinkan. Dari 13 anak yang terindikasi gangguan perkembangan, beberapa menunjukkan gejala hiperaktif, kecenderungan ADHD, autisme, serta kesulitan dalam berkomunikasi.
Meski data awal menunjukkan jumlah yang cukup besar, Emma menegaskan bahwa temuan ini masih bersifat sementara. Diperlukan pemeriksaan klinis yang lebih komprehensif untuk memastikan diagnosis akhir. “Itu baru diagnosis sementara, harus diverifikasi lagi. Ada yang speech delay atau keterlambatan bicara itu tiga anak. Kemudian, ada yang kecenderungan ADHD dan autism. Nanti akan diperiksa lagi secara detail,” ujarnya.
Pendampingan Medis dan Psikologis
Untuk menangani kondisi tersebut, Dinkes Kota Yogyakarta sudah menginstruksikan Puskesmas di wilayah tempat tinggal masing-masing korban untuk melakukan pendampingan intensif. Setiap Puskesmas mengerahkan tim yang terdiri dari dokter, bidan, nutrisionis atau ahli gizi, dan psikolog klinis.
Anak-anak yang mengalami masalah gizi seperti berat badan kurang atau anemia akan diberikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). “Kalau yang masalah gizi, nanti dikembalikan ke Puskesmas wilayah masing-masing untuk didampingi nutrisionis. Jika berat badannya kurang, nanti diberikan PMT,” jelas Emma.
Proses Pemulihan yang Panjang
Kadinkes juga menekankan bahwa proses pemulihan tumbuh kembang anak-anak korban dugaan kekerasan dan penelantaran tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. “Ini prosesnya panjang, tidak seperti sakit diare yang diberi obat langsung sembuh. Psikolog nanti akan merencanakan terapinya. Paling tidak butuh waktu 6 bulan untuk kemudian kita evaluasi lagi perkembangannya,” tambahnya.
Waktu penyembuhan tiap anak diprediksi akan berbeda-beda, tergantung pada respons terhadap terapi dan tingkat keparahan gangguan yang dialami. Sampai sejauh ini, Dinkes terus melakukan pemetaan agar seluruh anak yang melapor ke UPT PPA mendapatkan akses pemeriksaan kesehatan yang layak.
Banyaknya Laporan Orang Tua Alumni Daycare
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta menerima total 187 laporan terkait kekerasan anak di Daycare Little Aresha. Laporan tersebut berasal dari para orang tua alumni daycare tersebut.
Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Retnaningtyas, menjelaskan bahwa dari 187 laporan tersebut, sebanyak 132 anak mendapatkan pendampingan untuk tumbuh kembang dan 130 orangtua mendapat pendampingan psikologi. Dalam pendampingan tersebut, pihaknya melibatkan dokter anak, nutrisionis, psikolog, hingga advokat.
“Jadi akan ada rujukan dari hasil tumbuh kembang, apakah harus ke dokter atau ke rumah sakit mana. Tetapi yang dirujuk itu tidak semua, puluhan,” terangnya.
Pendampingan Komprehensif
Selain itu, ratusan anak dan orang tua mulai mendapatkan pendampingan medis, psikologis, hingga bantuan hukum. Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan perlindungan dan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan adanya pendampingan yang komprehensif, diharapkan kondisi anak-anak dapat segera pulih dan kembali beraktivitas dengan optimal.










Discussion about this post