Investor asing terus mengurangi kepemilikan di pasar saham Indonesia sepanjang 2026. Hingga penutupan perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, nilai jual bersih asing sudah mencapai Rp 84,99 triliun. Angka ini bukan hanya besar, tetapi juga melampaui catatan keluar dana pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020 yang sebesar Rp 53,84 triliun, serta krisis 2008 yang berada di level Rp 50,17 triliun.
Perpindahan dana itu tidak sepenuhnya hilang dari pasar keuangan, melainkan bergeser ke instrumen dan negara lain yang dinilai lebih menarik. Berdasarkan data Bloomberg, pasar ekuitas Amerika Serikat menyerap arus masuk dana asing sebesar US$ 452,79 miliar dalam periode 1 Januari sampai 31 Juli 2026. China juga mencatat masuknya dana senilai US$ 166,06 miliar hingga 30 Juni 2026, sedangkan Jepang memperoleh aliran masuk US$ 96,44 miliar per 2 Oktober 2026.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Nico Demus, menilai investor global cenderung menempatkan uang di negara yang menawarkan fondasi ekonomi kuat, aturan yang jelas, dan situasi politik yang relatif tenang. Ia mengatakan pasar saham Indonesia masih masuk radar, tetapi ada sejumlah hal yang perlu dibenahi, terutama pada sisi regulasi dan stabilitas politik.
Menurut Nico, sebagian dana asing juga mengarah ke Vietnam, Korea Selatan, dan Taiwan. Vietnam dianggap menarik karena kemudahan berbisnis dan kebijakan yang ramah bagi investor. Adapun Korea Selatan dan Taiwan dinilai punya daya tarik dari sektor teknologi dan semikonduktor, dua tema yang sedang diburu pasar global.
Pengamat pasar modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, melihat keluarnya dana asing tahun ini sebagai gabungan faktor luar negeri dan penilaian spesifik terhadap pasar Indonesia. Ia menilai Indonesia kalah bersaing karena investor saat ini memiliki lebih banyak pilihan. Taiwan dan Korea Selatan, misalnya, sedang diuntungkan tema kecerdasan buatan dan teknologi, sementara Vietnam menawarkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta reformasi akses bagi investor asing. Di sisi lain, pasar saham Indonesia masih sangat bergantung pada saham bank dan komoditas.
Meski demikian, arus dana di kawasan Asia tidak bergerak satu arah. Vietnam justru mencatat outflow asing sebesar US$ 4,29 miliar per 9 Oktober 2026, sementara Taiwan mengalami keluarnya dana senilai US$ 36,97 miliar. Di pasar obligasi, Korea Selatan justru menarik masuk dana asing sebesar US$ 40,53 miliar sejak awal tahun sampai 8 Oktober 2026. Indonesia juga masih kebagian aliran dana ke pasar surat utang, dengan net inflow US$ 1,86 miliar pada periode yang sama.
Budi menilai kembalinya investor asing ke saham Indonesia akan bergantung pada empat hal utama: stabilitas rupiah, pelemahan dolar AS atau imbal hasil US Treasury, revisi naik laba emiten, serta kebijakan fiskal yang mendukung masyarakat. Sementara itu, Nico memperkirakan pemulihan arus masuk ke saham Indonesia belum akan besar dalam waktu dekat karena fondasi pasar dinilai belum kuat dan ketidakpastian politik masih membayangi. Ia menyarankan investor yang belum siap menghadapi volatilitas untuk mempertimbangkan obligasi ritel, terlebih pemerintah menawarkan SBR015 dengan kupon 6,75% untuk tenor dua tahun dan 6,85% untuk tenor empat tahun. Data Pefindo juga menunjukkan yield obligasi pemerintah tenor tiga tahun berada di sekitar 6,95% per 30 September 2026, naik 33,5% dibanding September 2025.










Discussion about this post