JAKARTA — PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance), sebuah perusahaan pembiayaan, berhasil mencatatkan laba tahun berjalan periode 2025 sebesar Rp90,88 miliar. Angka ini mengalami penurunan sebesar 12,53% dibandingkan laba pada periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp103,90 miliar.
Dari laporan keuangan BRI Finance yang diterbitkan di Harian Bisnis Indonesia edisi Senin (6/4/2026), terlihat bahwa total pendapatan anak usaha Bank BRI ini juga mengalami kontraksi sebesar 12,76% YoY menjadi Rp1,23 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp1,41 triliun.
Berikut rincian pendapatan BRI Finance pada periode tersebut:
- Pendapatan pembiayaan investasi sebesar Rp175,91 miliar
- Pendapatan pembiayaan modal kerja senilai Rp13,30 miliar
- Pendapatan pembiayaan multiguna sebesar Rp546,57 miliar
- Pendapatan sewa operasi senilai Rp375,74 miliar
- Pendapatan bunga sebesar Rp11 miliar
- Keuntungan atas penjualan aset sewa operasi sebesar Rp46,11 miliar
- Pendapatan komisi mencapai Rp943 juta
- Pendapatan lain-lain sebesar Rp62,57 miliar
Di sisi lain, total beban BRI Finance tercatat sebesar Rp1,11 triliun, turun 12,59% YoY dari Rp1,27 triliun. Beban terbesar berasal dari:
- Beban pendanaan mencapai Rp335,30 miliar
- Beban depresiasi dan amortisasi senilai Rp293,58 miliar
- Beban gaji dan tunjangan senilai Rp198,96 miliar
Sementara itu, total ekuitas BRI Finance hingga 31 Desember 2025 tumbuh 6,33% YoY menjadi Rp1,51 triliun. Pada periode yang sama di 2024, ekuitas BRI Finance tercatat sebesar Rp1,42 triliun.
Adapun, total liabilitas BRI Finance mengalami kontraksi sebesar 37,6% YoY menjadi Rp3,90 triliun dari yang sebelumnya sebesar Rp6,25 triliun. Hal ini menyebabkan total liabilitas dan ekuitas BRI Finance pada 2025 mencapai Rp5,41 triliun.
Lebih lanjut, aset BRI Finance tercatat sebesar Rp5,41 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 29,46% YoY dari sebelumnya sebesar Rp7,67 triliun.
Dengan penurunan pendapatan dan penurunan aset, BRI Finance harus memperkuat strategi pengelolaan keuangan untuk menjaga kinerja di masa depan. Penurunan laba dan pendapatan ini bisa menjadi indikator penting bagi investor dan pihak terkait dalam mengevaluasi kinerja perusahaan secara keseluruhan.










Discussion about this post