Inflasi Bulanan DIY Mencapai 0,45 Persen pada Maret 2026
Inflasi bulanan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Maret 2026 mencapai angka 0,45 persen. Angka ini tercatat setelah momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 H yang berlangsung pada Februari hingga Maret. Kelompok pangan dan transportasi menjadi dua sektor utama yang memicu inflasi tersebut.
Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year) DIY tercatat sebesar 4,08 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 0,97 persen. Plt Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menyatakan bahwa tekanan harga masih relatif terkendali sepanjang kuartal pertama 2026.
Lima Komoditas Utama Penyumbang Inflasi
Endang mengungkapkan bahwa ada lima komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Maret 2026. BBM menjadi salah satu penyebab utamanya karena termasuk dalam komoditas dengan harga yang diatur pemerintah (administered price). Hal ini berdampak luas terhadap komponen inflasi lainnya.
Setelah BBM, komoditas daging ayam ras, emas perhiasan, bayam, dan tomat juga turut menjadi pendorong utama inflasi. Selain itu, kelompok transportasi juga memberikan tekanan inflasi akibat fluktuasi harga bahan bakar dan tarif angkutan.
Dinamika Inflasi Tahunan
Secara tahunan, tekanan inflasi lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan tarif listrik dan harga pangan. Kelompok pengeluaran dengan kontribusi terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Dari sisi komoditas, tarif listrik menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar, diikuti emas perhiasan yang terdampak tren harga global. Beras, daging ayam ras, dan buncis juga masuk dalam lima besar komoditas yang mendorong inflasi sepanjang tahun.
Perbedaan Dinamika Harga di Wilayah DIY
Perbandingan wilayah juga menentukan adanya perbedaan dinamika harga di DIY. Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi bulanan lebih tinggi sebesar 0,55 persen, dibandingkan Kota Yogyakarta sebesar 0,33 persen. Namun secara tahunan, Kota Yogyakarta mencatat inflasi lebih tinggi, yakni 4,19 persen, sementara Gunungkidul sebesar 3,98 persen.
“Gunungkidul lebih tinggi secara bulanan, Yogyakarta lebih tinggi secara tahunan. Dua wilayah ini yang menjadi cakupan pemantauan inflasi di DIY menunjukkan pola yang berbeda pada Maret 2026,” ujarnya.
Telur Ayam Ras yang Terkendali
Lebih lanjut, Endang menyoroti komoditas telur ayam ras yang biasanya menjadi pemicu inflasi menjelang Lebaran. Namun kali ini, harga telur ayam ras relatif terkendali. “Menarik sekali, telur ayam ras yang biasanya itu kalau lebaran ini kan biasanya banyak buat kue, kemudian permintaan juga tinggi, tapi sudah bisa diantisipasi dengan baik,” ujarnya.










Discussion about this post