Pergantian Pimpinan BGN: Perlukah Perombakan Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis?
Pergantian pucuk pimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru-baru ini terjadi menimbulkan pertanyaan penting: apakah pergantian ini cukup untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang masih membelit pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)? Para pengamat menyarankan agar pemerintah tidak hanya fokus pada pergantian figur, melainkan lebih mengedepankan pembenahan tata kelola dan manajemen program agar anggaran yang dikucurkan dapat tersalurkan secara lebih efektif dan tepat sasaran.
Para pakar berpendapat bahwa akar permasalahan dalam program MBG bukanlah semata-mata pada sosok pemimpin lembaga, melainkan lebih kepada pola pengelolaan program yang dinilai belum efisien selama ini. Pergeseran kepemimpinan, seperti yang terjadi dengan pencopotan Dadan Hindayana dan pengangkatan Nanik Suryati Dayang, tidak akan serta merta menyelesaikan masalah jika esensi dari sistem manajemen program tetap sama.
Efisiensi dan Efektivitas Anggaran: Kunci Utama
Salah satu poin krusial yang diangkat adalah belum optimalnya penerapan prinsip efisiensi biaya dan efektivitas anggaran oleh BGN. Akibatnya, tidak sedikit anggaran yang seharusnya langsung mendukung tujuan utama program, yaitu peningkatan gizi masyarakat, justru tergerus untuk berbagai keperluan lain yang dinilai kurang esensial.
Beberapa contoh pengeluaran yang sempat menjadi sorotan publik meliputi:
- Penggunaan jasa penyelenggara acara yang memakan biaya tidak sedikit.
- Pengadaan kendaraan operasional yang dinilai berlebihan.
- Berbagai kebutuhan pendukung lainnya yang belum tentu memberikan nilai tambah signifikan bagi program.
- Pemberian insentif kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dianggap terlalu besar dan berpotensi mengurangi porsi anggaran untuk kebutuhan gizi riil.
Oleh karena itu, dorongan kuat diberikan kepada pimpinan BGN yang baru untuk segera melakukan perombakan tata kelola secara menyeluruh. Setiap kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah nyata bagi pelaksanaan program harus dievaluasi secara ketat. Tujuannya jelas, agar anggaran negara, yang sejatinya adalah uang rakyat, dapat digunakan secara lebih bijak, efisien, dan terarah pada sasaran yang tepat.
Latar Belakang Pergantian Pimpinan BGN
Pergantian pimpinan BGN ini merupakan keputusan yang diambil oleh Presiden Prabowo Subianto. Dadan Hindayana diberhentikan dari jabatannya sebagai Kepala BGN pada tanggal Juni 2026. Posisi tersebut kemudian diisi oleh Nanik Suryati Dayang, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN. BGN memegang peranan sentral dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, yang merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo. Program ini dirancang untuk memberikan manfaat gizi bagi berbagai kelompok rentan, termasuk siswa sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (tengah) didampingi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari (kanan) dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kiri) memberikan keterangan pers di ruang sidang kabinet Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (2/6/2026). – (Bakom RI)
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, dalam pernyataannya menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan ini tidak akan mengganggu jalannya program MBG, bahkan diharapkan dapat memperkuat layanan yang diberikan. Beliau menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan monitoring dan evaluasi kinerja BGN selama kurang lebih 1,5 tahun.
Evaluasi Berkelanjutan dan Harapan untuk Pimpinan Baru
Presiden Prabowo Subianto, menurut Prasetyo Hadi, terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap seluruh kinerja kabinet, termasuk BGN. Evaluasi ini bersifat berkelanjutan dan mempertimbangkan berbagai masukan dari kementerian terkait, masyarakat, serta para penerima manfaat program. BGN dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung agenda pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan tata kelola yang kuat, koordinasi lintas sektor yang efektif, serta kepemimpinan yang mampu memastikan seluruh program berjalan sesuai sasaran, tepat waktu, dan berlandaskan prinsip akuntabilitas.
Dalam keputusan pergantian tersebut, tidak hanya Dadan Hindayana yang diberhentikan, tetapi juga Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya dari jabatan Wakil Kepala BGN. Pemerintah menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kerja keras mereka dalam membangun fondasi BGN.
Posisi strategis di BGN kini diisi oleh wajah-wajah baru:
- Kepala BGN: Nani S. Deyang
- Wakil Kepala BGN: Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono
Pemerintah berharap pimpinan baru BGN dapat segera melakukan konsolidasi internal, memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga lain, serta meningkatkan sinergi dengan pemerintah daerah di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Harapannya, kepemimpinan yang baru ini dapat mempercepat pelaksanaan program prioritas, meningkatkan kinerja, memperbaiki tata kelola organisasi, dan yang terpenting, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam upaya peningkatan kualitas gizi, kesehatan, dan sumber daya manusia Indonesia.
Penting untuk digarisbawahi bahwa seluruh program BGN akan tetap berjalan normal selama proses evaluasi berlangsung. Pelayanan kepada masyarakat tidak boleh terganggu, dan seluruh unit kerja di lingkungan BGN diminta untuk tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.
Mengenal Nanik S Deyang, Pemimpin Baru BGN
Nanik Sudaryati Deyang, yang kini memegang tampuk kepemimpinan BGN, bukanlah sosok asing di kancah publik. Dikenal luas sebagai jurnalis senior, Nanik S Deyang memulai kariernya di dunia pemberitaan sebelum terjun ke ranah politik dan pemerintahan. Lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968, ia mengawali jejaknya sebagai wartawati di Tabloid Bangkit, bagian dari Kompas Gramedia. Pengalamannya berlanjut di Kelompok Media Peluang (KMP), di mana ia sempat memegang posisi pemimpin media. Pengalaman panjang di dunia jurnalistik telah membentuknya menjadi sosok dengan kemampuan komunikasi publik yang mumpuni.
Nama Nanik mulai dikenal luas secara nasional ketika ia aktif dalam tim pendukung Prabowo Subianto. Pada Pemilihan Presiden 2019, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Setelah pemerintahan terbentuk, kariernya berlanjut di sektor pemerintahan. Ia dilantik sebagai Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) untuk periode 2024–2029, bekerja bersama Budiman Sudjatmiko.
Dalam perombakan Kabinet Merah Putih pada September 2025, Presiden Prabowo menunjuknya sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. Di BGN, ia bertanggung jawab atas aspek komunikasi publik serta pengawasan dan investigasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, Nanik juga mengemban amanah sebagai Ketua Pelaksana Harian Tim Koordinasi Program MBG.
Selama menjabat sebagai Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang dikenal sangat aktif melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa standar operasional prosedur (SOP) Program MBG dijalankan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindakan tegas ini diambil demi menjamin kualitas gizi bagi anak-anak Indonesia, serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B), terpenuhi secara optimal.
Nanik juga tidak ragu untuk menangguhkan sementara (suspend) SPPG yang terbukti tidak memenuhi SOP Program MBG. Berbagai sidak yang dilakukannya menunjukkan ketegasannya dalam menuntut mitra SPPG untuk menyediakan fasilitas yang layak, seperti tempat penginapan atau mess yang memadai di dapur MBG bagi kepala SPPG, pengawas keuangan, hingga pengawas gizi. Ketegasan ini diharapkan dapat mendorong perbaikan kualitas layanan dan efektivitas program secara keseluruhan.










Discussion about this post