Musim Durian di Desa Tuik: Kunci Kebahagiaan Ekonomi Masyarakat
Di Desa Tuik, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, musim durian bukan hanya sekadar momen panen. Bagi ratusan keluarga di desa ini, musim durian menjadi waktu yang sangat berharga. Saat itu, tabungan bertambah, utang bisa dilunasi, aset baru dibeli, bahkan impian untuk berangkat ke Tanah Suci mulai terwujud.
Di bawah rimbunnya pohon-pohon durian yang telah tumbuh puluhan tahun, keberkahan tersebut benar-benar terasa. Banyak warga yang membeli sepeda motor, menambah luas lahan, hingga menabung untuk ibadah umrah dan haji. Semua berasal dari buah berduri yang hanya berbuah satu hingga dua bulan dalam setahun.
Desa Tuik yang dihuni sekitar 230 kepala keluarga memang dikenal sebagai salah satu sentra durian lokal di Bangka Barat. Hampir setiap sudut desa memiliki pohon durian yang menjadi sumber penghasilan tambahan masyarakat.
Peran Pohon Durian dalam Kehidupan Masyarakat
Kepala Desa Tuik, Sudrajat, menjelaskan bahwa sebagian besar warga memiliki pohon durian. “Di Desa Tuik ini, hampir rata-rata warga punya batang durian, sekitar 65 persen itu ada batang durian,” katanya saat diwawancara.
Menurutnya, dampak ekonomi dari musim durian sangat terasa. Jika pada hari-hari biasa masyarakat mengandalkan sawit, lada, karet atau pekerjaan lainnya, maka ketika durian berbuah, perputaran uang di desa meningkat drastis. Bahkan hasil penjualan durian mampu mengubah kondisi ekonomi keluarga.
“Di musim durian seperti ini, banyak warga Desa Tuik yang mengalami peningkatan perekonomian. Bahkan kata kades, ada warga yang bisa membeli motor, beli tanah dan berangkat umroh,” katanya.
Bagi Sudrajat, potensi ekonomi durian lokal Desa Tuik sesungguhnya jauh lebih besar daripada yang selama ini diketahui masyarakat. Sayangnya, sebagian besar durian lokal belum memiliki identitas atau nama varietas sehingga belum mampu dipasarkan sebagai durian premium.
“Memang sebagian besar di Desa Tuik ini masyarakat belum memberi nama duriannya. Biasanya nanti diberi nama kalau pas ada lomba atau kontes durian,” jelasnya.
Padahal, kualitas rasa durian Desa Tuik dinilai tidak kalah dibandingkan varietas premium yang sudah terkenal.
Cerita Sukses dari Warga Desa Tuik
Salah satu contoh keberhasilan warga Desa Tuik adalah Jumadi. Pria berusia lebih dari 60 tahun itu tampak memunguti satu per satu durian yang baru jatuh dari pohonnya. Ia menyusuri rerumputan, membuka tumpukan daun kering, lalu membawa buah-buah itu ke pondok kecil di tengah kebun.
Rutinitas tersebut dilakukan hampir setiap hari selama musim durian berlangsung. Pagi mencari durian, sore kembali mengecek apakah ada buah yang kembali jatuh. Pekerjaan lain seperti mengurus kebun sawit, lada maupun karet untuk sementara ditinggalkan.
“Nyari durian lah sehari-harinya, kadang pagi, terus pulang. Sore kadang-kadang pergi lagi kalau ada yang jatuh. Musim durian ini paling cuma sebulan dua bulan, jadi ngurus ini dulu lah, yang lain nanti dulu lah.”
Kebun milik Jumadi bukanlah perkebunan modern. Ia memiliki sekitar 40 batang durian lokal yang tersebar di dua lokasi berbeda. Sebagian merupakan warisan orang tuanya yang telah berumur sekitar 40 tahun, sementara sebagian lagi ditanam sendiri sekitar 10 tahun lalu.
“Yang umur 40 tahun itu warisan dari orang tua, kalau yang 10 tahun itu saya nanam sendiri,” jelasnya.
Meski jumlah pohonnya tidak banyak, pohon-pohon tua itulah yang menjadi sumber rezeki terbesar keluarganya. Hasil penjualan durian bahkan berhasil mengantarkan Jumadi, istrinya, dan seorang anak mereka menunaikan ibadah umrah beberapa tahun lalu.
“Kalau enggak salah ada lah sekitar 3 atau 5 tahun lalu. Memang benar itu dari jual durian,” kata Jumadi.
Saat itu biaya umrah mencapai sekitar Rp27,5 juta per orang. Artinya, keluarga tersebut membutuhkan dana lebih dari Rp80 juta. Sebagian besar biaya tersebut berasal dari hasil satu musim panen durian.
“Enggak semua juga, ada lah sekitar 10 persennya dari uang lain,” ujarnya.
Kini, Jumadi dan istrinya juga telah mendaftarkan diri untuk berangkat haji sekitar tiga tahun mendatang. Separuh biaya keberangkatan juga berasal dari tabungan hasil penjualan durian.










Discussion about this post