Festival Utadada 2026: Melestarikan Budaya dan Mengangkat Ekonomi Lokal di Sigi
Desa Balane, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi – Semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap warisan leluhur mengemuka dalam perhelatan akbar Festival Utadada 2026 yang diselenggarakan di Desa Balane, Kecamatan Kinovaro. Acara ini tidak hanya menjadi ajang promosi kuliner khas masyarakat Kinovaro, yaitu Utadada Ayam, tetapi juga menegaskan komitmen Kabupaten Sigi dalam melestarikan budaya dan mengembangkan potensi pariwisata berbasis kearifan lokal. Ribuan warga memadati lokasi festival, antusias menyaksikan beragam atraksi budaya, mencicipi hidangan tradisional, hingga berpesta kuliner bersama 1.000 porsi Utadada Ayam yang tersaji.
Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, dalam pidato pembukaannya menekankan peran krusial budaya dan kuliner sebagai pilar utama pengembangan sektor pariwisata Kabupaten Sigi. Ia menggarisbawahi bahwa kekayaan budaya yang dimiliki daerah ini harus terus digali, dilestarikan, dan dipromosikan agar mampu mendongkrak citra Kabupaten Sigi di kancah nasional. “Begitu banyak budaya yang ada di daerah kita. Ini harus terus kita gali dan lestarikan karena menjadi salah satu penunjang utama sektor pariwisata Kabupaten Sigi. Melalui festival seperti ini, kita ingin memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner kita kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Bupati Rizal di hadapan ribuan warga dan para tamu undangan.
Utadada Ayam: Warisan Budaya yang Menjanjikan Potensi Ekonomi
Utadada Ayam, hidangan tradisional yang berasal dari Desa Balane dan Desa Porame, bukan sekadar makanan biasa. Ia merupakan cerminan dari nilai budaya yang kuat dan memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Bupati Rizal menilai bahwa pelestarian kuliner tradisional seperti Utadada Ayam memiliki dua dimensi penting. Pertama, sebagai upaya menjaga identitas budaya daerah agar tidak lekang oleh zaman. Kedua, sebagai sarana membuka peluang usaha yang berkelanjutan bagi masyarakat, terutama para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Utadada ayam merupakan warisan budaya yang harus kita pertahankan dan kembangkan. Ini menjadi ciri khas daerah kita yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi bagi masyarakat,” tegas Bupati Rizal. Keberadaan festival ini menjadi wadah strategis untuk memperkenalkan Utadada Ayam kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus mendorong tumbuhnya industri kuliner berbasis tradisi.
Agenda Festival Budaya dan Pariwisata yang Berkelanjutan
Lebih dari sekadar Festival Utadada, Pemerintah Kabupaten Sigi telah merancang serangkaian agenda festival budaya dan wisata yang akan digelar secara rutin di berbagai kecamatan. Langkah ini merupakan bagian integral dari strategi jangka panjang daerah dalam membangun sektor pariwisata yang berkelanjutan, yang berakar pada kekayaan budaya lokal.
Beberapa festival yang telah diagendakan meliputi:
* Festival Budaya Tomarabola di Kecamatan Marawola, dijadwalkan pada bulan Desember.
* Festival Nokilalaki, yang akan diselenggarakan pada bulan September.
* Festival Danau Lindu, sebuah perhelatan yang mengangkat keindahan dan keunikan Danau Lindu.
* Festival Ikan Mujair di Kecamatan Dolo, yang akan mempromosikan hasil perikanan lokal.
“Kita ingin setiap kecamatan memiliki identitas budaya dan wisata yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Festival-festival ini akan menjadi event tahunan yang memperkaya destinasi wisata Kabupaten Sigi,” jelas Bupati Rizal. Ia berharap setiap festival dapat dikemas secara unik, menonjolkan keunggulan budaya dan alam di masing-masing wilayah.
Mengintegrasikan Pariwisata dengan Destinasi Sejarah dan Budaya
Bupati Sigi juga menyoroti potensi pariwisata Kecamatan Kinovaro yang luar biasa, termasuk ikon wisata Tangga Seribu. Ia mengemukakan harapannya agar pelaksanaan festival-festival mendatang dapat diintegrasikan dengan lokasi-lokasi wisata yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan pengalaman yang lebih mendalam dan berkesan bagi para pengunjung, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar destinasi wisata.
Prestasi Nasional dan Apresiasi untuk Masyarakat
Di tengah gegap gempita Festival Utadada, Bupati Rizal juga menyampaikan kabar gembira mengenai capaian Pemerintah Kabupaten Sigi yang baru saja meraih penghargaan nasional dalam pengendalian inflasi daerah. Prestasi ini memberikan insentif sebesar Rp 3 miliar dari pemerintah pusat, yang merupakan bukti nyata dari kerja keras dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Prestasi ini merupakan hasil kerja bersama seluruh jajaran pemerintah daerah, Forkopimda, pelaku usaha, petani, dan masyarakat yang telah menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok di Kabupaten Sigi,” ungkap Bupati Rizal dengan bangga. Ia menekankan bahwa sinergi antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci keberhasilan dalam berbagai bidang pembangunan.
Pembukaan Festival Utadada 2026 turut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Sigi, Anggota DPRD Pasangkayu, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh adat, tokoh masyarakat, serta perwakilan berbagai komunitas budaya.
Menutup sambutannya, Bupati Rizal mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat persatuan dan memberikan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian budaya. Ia meyakini bahwa pelestarian budaya, pengembangan pariwisata, dan pemberdayaan UMKM adalah fondasi kuat untuk mewujudkan pembangunan daerah yang inklusif. “Melalui pelestarian budaya, pengembangan pariwisata, dan pemberdayaan UMKM, kita berharap dapat membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mengurangi angka kemiskinan di Kabupaten Sigi,” pungkasnya.
Festival Utadada 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung meriah hingga larut malam, menampilkan rangkaian tarian penyambutan, pertunjukan seni budaya yang memukau, sesi makan bersama 1.000 porsi Utadada Ayam, dan ditutup dengan konser musik. Acara ini diharapkan menjadi tonggak awal yang signifikan dalam upaya menjadikan Utadada sebagai salah satu ikon kuliner unggulan Kabupaten Sigi yang memiliki daya tarik di seluruh Indonesia.










Discussion about this post