BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) tetap melihat saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) menarik untuk dikoleksi. Dalam riset yang dirilis pada Senin (12/10/2026), perusahaan sekuritas itu mempertahankan rekomendasi beli dan menaikkan target harga ADRO menjadi Rp3.300 per saham. Penyesuaian tersebut mengikuti perubahan asumsi harga batu bara metalurgi yang kemudian mengerek proyeksi laba perseroan.
BRIDS menilai saham ADRO saat ini masih diperdagangkan lebih rendah dibandingkan kelompok emiten sejenis. Berdasarkan hitungan analis Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta Azhari, valuasi ADRO berada di level 6,4 kali price to earnings ratio atau P/E untuk 2027, sekitar 13% di bawah rata-rata pembanding. Menurut mereka, selisih itu juga sudah merefleksikan kekhawatiran pasar atas penerapan Kepmen 365/2026.
Revisi pandangan BRIDS terutama dipengaruhi kenaikan asumsi harga batu bara kokas. Untuk 2026, proyeksi harga dinaikkan menjadi US$230 per ton dari sebelumnya US$170 per ton. Estimasi untuk 2027 juga dinaikkan ke US$220 per ton, sedangkan 2028 menjadi US$200 per ton. Dengan asumsi baru itu, laba ADRO diperkirakan naik 4,3% pada 2026, 2,6% pada 2027, dan 2,9% pada 2028.
“Kami mempertahankan rating Buy dan menaikkan target harga [TP] menjadi Rp3.300,” tulis Erindra dan Kafi. Mereka menjelaskan, penguatan harga batu bara metalurgi selama sembilan bulan pertama 2026 banyak ditopang gangguan pasokan dari China dan Mongolia. BRIDS memperkirakan dukungan harga masih berlanjut pada kuartal IV/2026, sebelum kondisi pasar kembali lebih normal pada 2027 ketika pasokan membaik.
Meski harga komoditas menguat, anak usaha ADRO, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), belum sepenuhnya bisa menangkap momentum tersebut pada Agustus 2026 karena skema penjualan mengikuti indeks dengan jeda waktu. Dari sisi pengiriman, BRIDS memperkirakan volume batu bara metalurgi ADMR pada kuartal III/2026 hanya berada di rentang 500.000 ton sampai 700.000 ton, karena kondisi Sungai Barito belum sepenuhnya mendukung aktivitas tongkang. Atas dasar itu, estimasi penjualan ADMR sepanjang 2026 dipertahankan di 6 juta ton, lebih rendah dari target awal manajemen sebesar 6,3 juta ton.
BRIDS masih melihat peluang perbaikan pada akhir tahun. Analis memperkirakan proses mengejar kekurangan penjualan dapat terjadi pada kuartal IV/2026 jika kondisi Sungai Barito kembali normal. Sementara itu, manajemen ADRO menyampaikan penjualan batu bara metalurgi ADMR telah mencapai 3,13 juta ton pada semester I/2026. Corporate Communication ADRO Karina Novianti mengatakan perseroan terus mengoptimalkan operasi dan menjaga disiplin biaya agar target tahunan tetap tercapai. “Perusahaan terus memantau kondisi pasar dan kinerja operasional untuk mencapai target yang telah ditetapkan hingga akhir tahun,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Minggu (11/10/2026).
Karina juga menyebut penjualan ke pasar domestik menyumbang 43% dari total penjualan batu bara metalurgi ADMR selama semester I/2026. Ke depan, penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2027 akan mengikuti jadwal yang berlaku, sembari perseroan tetap mencermati dinamika harga komoditas dan menjaga efisiensi. Di luar batu bara metalurgi, kenaikan operasional smelter aluminium dipandang menjadi salah satu penopang kinerja ADRO pada paruh kedua 2026. Sebelumnya, Sucor Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target Rp3.800 per saham setelah ADRO membukukan laba bersih US$309 juta pada semester I/2026, naik 77% secara tahunan, dengan pendapatan US$999 juta yang tumbuh 17%.









Discussion about this post