Perkembangan Indeks Dolar AS dan Dampaknya terhadap Rupiah
Indeks dolar Amerika Serikat (DXY) menunjukkan potensi penguatan setelah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Pada Jumat (8/5/2026), indeks dolar berada pada level 97,84, mengalami penurunan sebesar 0,32% dalam seminggu terakhir dan mengalami koreksi sebesar 0,49% secara year to date (ytd). Meskipun demikian, analis memprediksi bahwa dolar AS bisa kembali menguat dalam waktu dekat.
Brahmantya Himawan, analis PT Finex Bisnis Solusi Future, menjelaskan bahwa pasca serangan AS ke fasilitas militer Iran, dolar justru memiliki peluang untuk kembali menguat. Harapan perdamaian yang sempat muncul mulai memudar setelah terjadi baku tembak di Selat Hormuz, sehingga pasar kembali masuk ke mode risk-off dan mencari aset aman seperti dolar AS.
“Selain faktor safe haven, dolar juga didukung oleh statusnya sebagai petrodollar. Ketika risiko energi global meningkat, kebutuhan transaksi berbasis dolar AS ikut naik,” ujarnya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan DXY
Beberapa sentimen utama yang mempengaruhi indeks dolar (DXY) ke depan antara lain:
-
Perkembangan konflik AS-Iran
Selama tensi geopolitik tinggi, permintaan terhadap dolar cenderung tetap kuat. Kekhawatiran terhadap eskalasi konflik dapat memicu peningkatan permintaan terhadap aset aman. -
Data ekonomi AS, terutama tenaga kerja seperti Nonfarm Payrolls
Jika data ekonomi AS tetap solid, tekanan kepada Federal Reserve untuk memangkas suku bunga akan berkurang. Hal ini positif bagi dolar AS. -
Harga minyak
Semakin tinggi harga energi, semakin kuat peran dolar dalam perdagangan global karena sebagian besar transaksi energi masih berbasis dolar AS.
Brahmantya memproyeksikan bahwa indeks dolar (DXY) akan bergerak di kisaran 99–102 pada kuartal II–2026, dengan bias menguat jika konflik berlanjut dan data ekonomi AS tetap solid.
Prediksi Pergerakan Rupiah
Sementara itu, rupiah berpotensi berada di kisaran Rp 17.300–Rp17.800 per dolar AS pada kuartal II–2026. Tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi dolar yang menguat, kenaikan harga energi, dan potensi arus keluar modal dari emerging market saat sentimen pasar cenderung defensif.
“Ketika geopolitik memanas dan harga energi naik, dolar hampir selalu kembali menjadi pusat perhatian pasar. Selama konflik belum benar-benar reda, dolar AS masih punya ruang untuk menguat dan menekan seluruh mata uang lainnya termasuk rupiah,” jelas Brahmantya.
Pandangan dari Analis Lain
Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, menambahkan bahwa fokus utama saat ini adalah respons Iran terhadap proposal perdamaian. Pembukaan Selat Hormuz menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan. Sentimen ke depan tentunya akan dipengaruhi oleh harga minyak yang tinggi, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Menurut Lukman, indeks dolar belum bisa diperkirakan saat ini karena situasi masih sangat dinamis. Namun, apabila harga minyak terus bertahan tinggi, ekonomi AS yang paling kuat di antara mata uang utama dunia, dan The Fed akan bisa lebih agresif, sehingga DXY diperkirakan akan lebih tinggi.
“Rupiah juga sama, sangat terbebani harga minyak yang tinggi,” tambah Lukman.
Proyeksi Rupiah di Kuartal II–2026
Apabila tidak ada perubahan signifikan, Lukman memperkirakan rupiah bisa mencapai Rp 18.000 per dolar AS pada kuartal II–2026. Sebaliknya, jika harga minyak mentah turun ke US$ 70–US$ 80 per barel, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa kembali ke Rp 16.500 per dolar AS.










Discussion about this post