Pemerintah Kota Pekanbaru Periksa Distributor Minyak Goreng
Pemerintah Kota Pekanbaru telah menggelar pertemuan dengan para distributor minyak goreng pada 27 April 2026 untuk menelusuri lonjakan harga yang terjadi di pasar. Sepekan setelahnya, harga minyak goreng bersubsidi Minyakita masih bertahan tinggi di beberapa pasar di kota tersebut, bahkan melebihi Rp20 ribu per liter.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan, keterbatasan pasokan menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga. Yuni, seorang pedagang eceran di Pasar Selasa, Simpang Baru, Pekanbaru, mengungkapkan bahwa pasokan yang ia terima tidak stabil dan jauh dari jumlah yang diminta oleh konsumen.
“Kami hanya menerima 15 karton kemarin, dan itu pun dalam dua kali pengantaran. Kami meminta 30 karton, tetapi hanya diberi 15. Barangnya tidak pasti kapan masuk, tergantung dari panggilan dari distributor,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Dari jumlah tersebut, komposisi barang juga tidak seimbang. Minyak kemasan dua liter lebih banyak dibanding satu liter, meskipun kemasan satu liter lebih diminati oleh pembeli. Dalam seminggu terakhir, stok yang tersisa hanya dua karton berukuran dua liter.
Keterbatasan stok ini langsung memengaruhi harga jual. Untuk kemasan satu liter, Yuni kini menjual di kisaran Rp20 ribu, naik dari sebelumnya Rp18 ribu. Sementara kemasan dua liter dijual Rp42 ribu, dari harga lama Rp35 ribu hingga Rp38 ribu.
“Kami hanya ikut harga pasar saja. Semua minyak naik, bukan hanya Minyakita, merek lain juga,” katanya.
Ia juga menyebutkan bahwa kenaikan harga sudah terjadi selama hampir sebulan terakhir, dipicu oleh meningkatnya biaya distribusi dan bahan pendukung seperti plastik, serta kenaikan harga bahan bakar.
Kenaikan harga ini turut berdampak pada daya beli masyarakat. Menurut Yuni, jumlah pembeli mengalami penurunan sejak harga minyak goreng naik. Padahal sebelumnya, dalam sebulan ia bisa menjual hingga 30 dus, bahkan sering ada pembeli yang membeli dalam jumlah besar.
Di sisi lain, hasil inspeksi mendadak yang dilakukan Satgas Saber Harga Pangan Kota Pekanbaru ke sejumlah gudang distributor di Pergudangan Avian, Jalan Siak II (30/4/2026), tidak menemukan adanya praktik penimbunan.
Staf Ahli Wali Kota Pekanbaru Bidang Perekonomian dan Pembangunan Abdul Jamal menyampaikan bahwa pengecekan dilakukan untuk memastikan penyebab kelangkaan Minyakita yang memicu kenaikan harga di pasaran.
“Dari pabrikan, disebutkan harga sesuai dengan ketentuan. Makanya kita turun melakukan pengecekan,” ucapnya.
Ia menegaskan secara umum minyak goreng tidak langka karena produk lain masih tersedia. Namun, khusus Minyakita memang mengalami kenaikan harga yang signifikan.
Sementara itu, Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Pekanbaru, Dinal Husna, mengungkapkan bahwa kekosongan stok terjadi di tingkat distributor. Menurutnya, para distributor mengaku belum mendapatkan alokasi dari produsen, salah satunya Wilmar Nabati Indonesia, yang saat ini memprioritaskan penyaluran Minyakita untuk kebutuhan Perum Bulog.
Kondisi ini turut diperkuat dalam rapat koordinasi yang digelar Pemko Pekanbaru bersama distributor dan produsen. Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa alokasi Minyakita untuk pasar umum berkurang karena sebagian besar produksi dialihkan untuk program bantuan pangan dan stabilisasi pasokan.
Pemerintah kota pun berencana menyurati kementerian terkait guna meminta tambahan alokasi Minyakita untuk Pekanbaru, agar distribusi di tingkat masyarakat kembali normal.
“Jadi, kita akan menyurati kementerian terkait melalui Disperindag, supaya untuk di Kota Pekanbaru ditambah alokasi Minyakita,” jelas Dinal.
Meski demikian, Pemko tetap mengimbau para pedagang untuk menjual Minyakita sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter, meskipun pasokan yang diterima terbatas.










Discussion about this post