Selebgram Aron Ashab kembali jadi perhatian publik setelah mengaku menjadi korban penculikan, penyekapan, dan penyiksaan selama berbulan-bulan di sebuah tempat di Tasikmalaya yang ia sebut sebagai pesantren. Pengakuan itu ia sampaikan lewat Instagram pada Jumat, 16 Oktober 2026, setelah hampir setahun jarang muncul di media sosial. Di sisi lain, pihak bernama A Dede membantah tuduhan tersebut dan menyebut Aron justru pernah tinggal di pesantren. Perbedaan versi ini membuat sejumlah klaim yang disampaikan Aron belum bisa dipastikan kebenarannya.
Dalam unggahannya, Aron yang kini berusia 33 tahun menulis bahwa dirinya tidak menghilang tanpa alasan, melainkan berada dalam kondisi yang ia sebut seperti dipenjara. Ia mengaku ditangkap secara paksa, dikurung, dan mengalami kekerasan fisik. Aron juga menyebut peristiwa itu membuat kondisi mentalnya jatuh sebelum akhirnya memilih berbicara ke publik. Ia bahkan memberi sinyal akan membuka identitas pihak-pihak yang menurutnya terlibat.
Aron, yang bernama lengkap Mohammad Haeran Ashab, lahir di Jakarta pada 15 Agustus 1993. Ia dikenal sebagai selebriti internet, YouTuber, penyanyi, dan aktor, dengan latar keluarga dokter. Ayahnya adalah dr Gatami Ashab, SpA, sementara ibunya bernama Secha Hanny. Aron merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, menempuh pendidikan di SMP Labschool Jakarta, SMA Negeri 8 Jakarta, lalu kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Pengakuan Aron langsung memicu respons dari A Dede, sosok yang mengaku sebagai pemilik tempat yang disebut Aron sebagai lokasi penyekapan. Melalui komentar yang kemudian dibagikan ulang oleh Aron, A Dede menolak tuduhan penculikan dan penyiksaan. Ia menilai Aron jangan sembarangan bicara dan mengancam akan menempuh jalur hukum bila pernyataannya dianggap tidak sesuai fakta. Dalam komentarnya, A Dede juga menuding Aron mencari simpati publik, meski tudingan itu belum dapat diverifikasi.
A Dede menambahkan bahwa Aron sempat mondok di pesantren dan berharap pengalaman itu membuat sang selebgram menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, Aron tidak berhenti di situ. Ia balik mempertanyakan sebutan pesantren untuk tempat tersebut. Menurut dia, aktivitas yang ia alami tidak mencerminkan pendidikan agama, melainkan aturan yang ia anggap berlebihan, termasuk kewajiban ibadah dalam jumlah tertentu dan hukuman fisik bila tidak mampu mengikuti ketentuan.
Aron juga mengaku dirinya dan orang lain ditempatkan di ruang bawah tanah dan tidak bebas keluar selama berbulan-bulan, bahkan ia menyebut ada yang sampai bertahun-tahun. Dalam pernyataannya, ia turut mengaitkan tempat itu dengan kematian kakaknya. Klaim itu masih berada pada tahap pengakuan satu pihak dan membutuhkan verifikasi lebih lanjut. Hingga kini, narasi dari Aron dan bantahan dari pihak yang dituding masih saling berlawanan, sehingga publik belum mendapat gambaran utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi.










Discussion about this post