Presiden Prabowo Subianto mengundang para menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih ke Istana Bogor, Jumat malam, 16 Oktober. Pertemuan itu digelar di tengah beragam persoalan nasional, mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan, antrean BBM di Bali, hingga gangguan listrik di Batam. Seusai rapat, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyebut pembahasan juga menyinggung dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka.
Maruarar mengatakan suasana pertemuan menekankan pentingnya kebersamaan antarpemangku kebijakan. Ia menyebut Presiden ingin menjaga soliditas kabinet dalam menjalankan agenda pemerintahan. Menurut dia, diskusi malam itu tidak hanya soal urusan domestik, tetapi juga arah hubungan Indonesia dengan negara lain.
Dalam keterangannya, Maruarar menyoroti diplomasi Indonesia yang menurutnya berjalan baik dengan sejumlah mitra utama. Ia menyebut hubungan dengan Amerika Serikat, Rusia, dan Cina berada dalam jalur yang positif, termasuk relasi dengan negara-negara Timur Tengah. Ia juga mengaitkan hal itu dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi dasar sikap Indonesia di forum internasional.
“Persahabatan dengan Rusia berjalan baik, sesuai politik bebas aktif. Dengan Rusia, Amerika, Cina, maupun negara-negara Timur Tengah berjalan baik,” kata Maruarar usai rapat, dikutip dari Antara. Ia menambahkan bahwa kerja sama dan komunikasi dengan berbagai pihak menjadi bagian penting dari pemerintahan Prabowo.
Sejumlah pejabat tampak hadir dalam pertemuan tersebut. Di antaranya Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman, Wakil Menteri Perumahan Fahri Hamzah, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, serta Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak. Hadir pula Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti dan Wakil Menteri Pertahanan Yusuf Jauhari.
Sebelum rapat berlangsung, Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi sudah lebih dulu memberi gambaran bahwa pertemuan akan berfokus pada pemantauan pelaksanaan program Asta Cita di kementerian masing-masing. Ia menyebut evaluasi itu dilakukan sesuai tugas dan fungsi tiap lembaga, meski tidak merinci agenda pembahasan secara detail. “Tentang monitoring dan pengendalian implementasi program-program Asta Cita di masing-masing kementerian, sesuai tugas pokok fungsinya,” ujar Viva kepada awak media, Jumat (16/10).
Latar pertemuan ini menjadi penting karena pemerintah sedang menghadapi sejumlah pekerjaan rumah yang menuntut koordinasi cepat. Selain penanganan kebakaran hutan dan lahan yang belum tuntas, pemerintah juga disorot karena persoalan distribusi BBM di Bali dan pemadaman listrik di Batam. Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada wacana lembaga pengelola indeks global MSCI yang tengah menimbang penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market akibat kekhawatiran soal investability dan tata kelola.










Discussion about this post