Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan kontestasi politik di Michigan dengan menuduh calon senator Partai Demokrat, Abdul El-Sayed, terkait Ikhwanul Muslimin. Serangan itu disampaikan pada Kamis, 15 Oktober 2026, saat Trump menghadiri jamuan makan siang di Rose Garden, Gedung Putih, menjelang pemilihan sela AS. Tuduhan tersebut langsung memicu debat baru karena Trump tidak menampilkan bukti yang menguatkan klaimnya, sementara El-Sayed menolak keras tudingan itu dan menyebutnya sebagai upaya menyerang identitas keagamaannya.
Dalam pernyataannya, Trump mengaku yakin sepenuhnya bahwa El-Sayed memiliki kaitan dengan organisasi Islam asal Mesir tersebut. Ia bahkan mempertanyakan apakah politikus Demokrat itu pantas duduk di Komite Intelijen Senat bila terpilih nanti. Trump juga melontarkan serangan pribadi dengan menyebut El-Sayed sebagai penipu dan mengatakan ingin datang ke Michigan untuk membongkar apa yang ia klaim sebagai kebohongan sang calon senator. Pernyataan itu dikutip Fox News pada hari yang sama, sementara Forbes melaporkan Trump berbicara tanpa menunjukkan bukti atas tuduhannya.
El-Sayed, yang bernama lengkap Abdulrahman Mohamed El-Sayed, berulang kali membantah tuduhan tersebut. Politikus berusia 42 tahun itu menegaskan bahwa ia tidak pernah menjadi anggota Ikhwanul Muslimin dan tidak memiliki hubungan organisasi dengan kelompok itu. Dalam wawancara dengan NBC News yang dikutip The Washington Post, ia menjelaskan bahwa dirinya dibesarkan di Amerika Serikat setelah orang tuanya yang berasal dari Mesir bercerai ketika ia masih berusia tiga tahun. Setelah perceraian itu, ibunya pindah dari Michigan, sedangkan El-Sayed tumbuh bersama ayahnya dan ibu tirinya di pinggiran Detroit.
Kontroversi ini kembali mencuat setelah unggahan lama saudara tirinya, Eman Abdelhadi, beredar di media sosial. Dalam unggahan yang dibahas Fox News, Abdelhadi menulis pada 2012 tentang percakapannya dengan sang ibu dan menyebut bahwa ibunya pernah terlibat dalam aktivitas Ikhwanul Muslimin saat masih kuliah pada awal 1970-an. Ia juga menulis bahwa keluarganya memiliki riwayat hubungan dengan organisasi itu, meski sekaligus mengkritik arah politiknya. Unggahan tersebut kemudian dipakai lawan-lawan politik El-Sayed sebagai amunisi serangan.
Salah satu yang ikut mengangkat isu itu adalah Mike Rogers, mantan anggota DPR AS dari Partai Republik yang menjadi rival El-Sayed dalam pemilihan Senat Michigan. Menurut laporan Forbes pada Kamis, 15 Oktober 2026, Rogers menekan El-Sayed agar memberi penjelasan kepada warga Michigan mengenai dugaan hubungan keluarganya dengan organisasi yang telah ditetapkan sebagai kelompok teror oleh pemerintah AS. Melalui akun X, Rogers menulis bahwa publik berhak mengetahui soal kejujuran seorang calon pejabat. Ia juga mempromosikan iklan kampanyenya yang menyorot isu tersebut.
Meski begitu, keberadaan unggahan saudara tiri tidak otomatis membuktikan El-Sayed pernah menjadi bagian dari Ikhwanul Muslimin. Forbes menyebut tuduhan Trump belum memiliki dasar pembuktian yang memadai. El-Sayed pun menolak penggunaan cerita keluarga sebagai alat untuk mengaitkan dirinya dengan organisasi di Mesir. Ia menegaskan riwayat hidupnya sepenuhnya berakar di Michigan: lahir di Rochester Hills pada 1984, kuliah di University of Michigan, lalu berkarier di bidang kesehatan masyarakat sebelum masuk politik.
Isu ini sebenarnya bukan hal baru dalam perjalanan politiknya. Forbes melaporkan bahwa El-Sayed sudah menghadapi tuduhan serupa saat mencalonkan diri sebagai gubernur Michigan pada 2018. Kini, dengan pemilihan Senat semakin dekat, perdebatan lama itu kembali dipakai untuk menguji batas antara kritik politik, tuduhan tanpa bukti, dan pertanyaan tentang latar belakang keluarga seorang kandidat.









Discussion about this post