Ratusan warga mengiringi pemakaman Hamri Noor, pendakwah yang akrab disapa Ustaz Hamdi, di Tempat Pemakaman Muslim Gang 7, Kelurahan Baru, Tenggarong, Kamis (15/10/2026) dini hari. Ia dimakamkan tepat di sebelah dua putranya, Ahmad Ali Maulidy dan Husin Taufiqurrohman, yang sehari sebelumnya lebih dulu dikebumikan di lokasi yang sama. Kepergian Hamri terjadi setelah ia menjalani perawatan intensif akibat luka bakar lebih dari 75 persen, usai kebakaran di Jalan Kartini, Gang Karya, Kelurahan Loa Ipuh, Selasa (13/10/2026) malam.
Jenazah Hamri dibawa dari RSUD AM Parikesit, Tenggarong Seberang, dengan ambulans dan tiba di rumah duka di Jalan H. Djafar Seman sekitar pukul 00.00 Wita. Dari sana, prosesi pemakaman dilanjutkan dengan iring-iringan yang diwarnai lantunan sholawat dan tahlil menuju kompleks pemakaman muslim. Suasana duka terasa pekat karena keluarga baru saja kehilangan tiga anggota sekaligus dalam rentang waktu yang sangat singkat.
Musibah yang menimpa keluarga ini berawal ketika api melahap rumah mereka pada Selasa malam. Dalam peristiwa itu, dua anak Hamri, Ali yang berusia 7 tahun dan Husin yang berusia 3 tahun, meninggal dunia. Hamri disebut sempat berupaya menyelamatkan keduanya dari kobaran api, namun justru mengalami luka bakar parah yang akhirnya merenggut nyawanya pada Rabu (14/10/2026) malam.
Di tengah duka tersebut, warga mengenang Hamri bukan hanya sebagai korban tragedi, melainkan juga sebagai sosok yang lama berkhidmat dalam dakwah dan kegiatan sosial. Ahmad Fauzi Abdurrahman, sepupu almarhum, mengatakan Hamri dikenal dekat dengan tetangga, anak muda, hingga orang-orang yang sebelumnya belum terbiasa datang ke majelis taklim. Menurutnya, almarhum punya cara bergaul yang hangat sehingga banyak kalangan merasa diterima.
Fauzi menyebut majelis At-Taufiq yang diasuh Hamri rutin diisi zikir, selawat, dan maulid. Kegiatan itu menjadi ruang berkumpul bagi anak-anak muda maupun ibu-ibu di lingkungan sekitar. Tradisi pengajian di rumah Hamri, kata dia, sudah berlangsung sejak lama. Bahkan sebelum Fauzi datang ke Tenggarong pada 2016, kegiatan serupa telah berjalan setiap Selasa sore dan menjadi bagian dari kehidupan warga setempat.
Ia juga mengingat bahwa pada Selasa sore sebelum kebakaran terjadi, Hamri masih memimpin majelis seperti biasa. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat warga belajar dan bersilaturahmi itu kemudian berubah menjadi puing setelah dilalap api. Di luar aktivitas majelis, Hamri juga mengajar di PPKP Ribathul Khair, khususnya pada bidang kepesantrenan, yang menunjukkan keterlibatannya dalam pendidikan keagamaan. Fauzi menilai ketekunan itu menjadi bukti kesungguhan Hamri dalam membagikan ilmu dan menjaga hubungan dengan masyarakat. Hamri meninggalkan seorang anak perempuan dan tiga anak laki-laki; Ali dan Husin merupakan anak ketiga serta keempat. Kini, pengajian yang dulu rutin terdengar di rumahnya tinggal menjadi kenangan bagi para jamaah yang pernah hadir.










Discussion about this post