Manchester City menjadi sorotan setelah memanfaatkan sejumlah figur utamanya untuk mempromosikan proyek hunian mewah senilai 3 miliar pound sterling di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, hanya beberapa hari setelah klub itu dinyatakan bersalah oleh komisi independen Liga Primer Inggris dalam kasus dugaan manipulasi keuangan. Langkah tersebut memicu kritik karena dinilai tak peka terhadap situasi yang sedang membelit juara Inggris itu.
Acara peluncuran proyek bernama Manchester City Yas Residences digelar besar-besaran di Stadion Etihad, Manchester. Lebih dari 4.000 undangan dari kalangan penting, perantara, dan pejabat pemerintah hadir dalam acara yang juga diisi pertunjukan kembang api dan tarian. Video promosi proyek diputar di hadapan para tamu, dengan Erling Haaland dan Pep Guardiola tampil sebagai dua wajah paling menonjol.
Haaland, penyerang asal Norwegia yang baru saja mencetak gol dalam kemenangan 3-0 atas Liverpool, muncul dalam video tersebut sambil mengumumkan bahwa ia telah membeli properti di proyek itu. Dalam pernyataannya, ia menyebut dirinya dan ayahnya akan tinggal berdekatan di Abu Dhabi. Setelah video itu, ayah Haaland, Alf-Inge Haaland yang berusia 53 tahun, naik ke panggung sebagai bagian dari rangkaian acara.
Laporan yang beredar menyebut Haaland membeli vila lima kamar tidur dengan nilai setidaknya 1,9 juta pound sterling. Sebagai pemilik properti, ia dan ayahnya juga disebut berhak atas visa tinggal selama 10 tahun di Uni Emirat Arab. Selain Haaland, video promosi itu juga menampilkan Phil Foden, Nico O’Reilly, Mateo Kovacic, serta mantan striker Omar Marmoush.
Pep Guardiola ikut tampil sebagai duta resmi proyek. Pelatih asal Spanyol itu menyatakan bahwa tempat tersebut seperti “rumah kedua” baginya. Kehadiran Guardiola dan para pemain ini membuat promosi proyek semakin erat dikaitkan dengan identitas Manchester City, meski momen peluncurannya berbarengan dengan tekanan besar yang tengah dihadapi klub di luar lapangan.
Komisi independen Liga Primer Inggris sebelumnya menyimpulkan bahwa Manchester City bersalah karena diduga menggelembungkan pendapatan secara artifisial hampir 900 juta pound sterling pada periode 2009 hingga 2018. Periode itu terjadi tak lama setelah Abu Dhabi United Group milik Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan mengambil alih klub. Dalam laporannya, komisi tersebut berulang kali menyebut adanya kontrak dan perjanjian yang dianggap fiktif. City sudah mengetahui hasil awal putusan itu sejak Juli dan mengajukan banding dengan menyatakan memiliki bukti yang membantah tuduhan tersebut.
Di tengah kontroversi itu, klub juga bergerak agresif di bursa transfer musim panas dengan mendatangkan tujuh pemain inti dan menghabiskan lebih dari 450 juta pound sterling. Sejumlah pengamat menilai promosi proyek hunian di Abu Dhabi justru mempertegas kesan bahwa klub tidak terganggu oleh putusan tersebut. Kritik tajam datang dari penulis olahraga John Paul O’Neill dan mantan pemain Chelsea serta Charlton, Mickey Ambrose, yang sama-sama menilai langkah itu tidak pantas dilakukan saat klub sedang menghadapi skandal besar.










Discussion about this post