Federasi sepak bola dari sejumlah negara Eropa mendesak FIFA untuk meninjau ulang format jeda internasional yang kini berdurasi tiga minggu. Mereka menilai skema baru yang mulai diterapkan pada musim 2026/27 itu membawa beban lebih besar bagi pemain, terutama karena jumlah pertandingan tim nasional dalam satu periode bertambah dan risiko cedera ikut meningkat.
Perubahan tersebut membuat jeda internasional September dan Oktober digabung menjadi satu slot panjang. Jika sebelumnya kalender akhir tahun dibagi ke dalam tiga periode terpisah pada September, Oktober, dan November, kini tim nasional bisa memainkan empat laga dalam satu international break. Jumlah itu dua kali lebih banyak dibanding model lama, sehingga agenda klub dan negara menjadi makin padat.
FIFA memakai ruang waktu yang lebih panjang itu untuk menggelar FIFA ASEAN Cup 2026. Andai turnamen antarnegara Asia Tenggara itu masih memakai pola jeda internasional lama, penyelenggara harus membaginya ke dua periode terpisah. Dalam format baru inilah Timnas Indonesia mendapat keuntungan karena bisa memanggil kekuatan terbaiknya untuk tampil penuh di ajang tersebut.
Di bawah asuhan John Herdman, Indonesia memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Tim Garuda akhirnya keluar sebagai juara setelah menundukkan Thailand pada laga final. Keberhasilan itu menjadi salah satu contoh bagaimana format baru memberi ruang lebih besar bagi turnamen tim nasional, terutama untuk kompetisi regional seperti FIFA ASEAN Cup 2026.
Namun, di Eropa, responsnya jauh berbeda. The Guardian melaporkan bahwa banyak federasi di benua itu menilai jeda tiga minggu justru menambah masalah, bukan solusi. Kekhawatiran utama mereka adalah kondisi fisik pemain yang makin rentan terganggu karena harus menjalani lebih banyak pertandingan dalam rentang waktu yang lebih rapat.
Sejumlah nama besar disebut terdampak oleh padatnya agenda internasional, mulai dari Kylian Mbappe, Alex Scott, Cody Gakpo, Alexander Isak, hingga Brian Brobbey. Dalam laporan yang dikutip media Inggris tersebut, federasi-federasi Eropa meminta FIFA mengembalikan format lama yang hanya berdurasi dua minggu. The Guardian juga menuliskan bahwa faktor beban bermain, cedera, dan aspek finansial menjadi sumber keberatan utama. Meski dorongan itu cukup kuat, peluang perubahan dinilai kecil karena hubungan FIFA dan banyak federasi Eropa yang tergabung dalam UEFA sedang memanas. Laporan yang sama menyebut hasil desakan ini kemungkinan sangat dipengaruhi oleh pergantian kepemimpinan di FIFA, sementara Gianni Infantino masih berupaya meraih masa jabatan keempatnya pada kongres bulan Maret mendatang.










Discussion about this post