Penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, tengah menjadi sasaran seruan boikot di dua negara, Indonesia dan Yordania. Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta konser Bocelli dibatalkan, sementara di Yordania aktivis pro-Palestina mendesak penyelenggara mencabut undangan tampil sang penyanyi. Penolakan ini berkaitan dengan tudingan bahwa Bocelli pernah menunjukkan dukungan kepada Israel dan terlibat dalam kegiatan penggalangan dana untuk militer Israel.
Di Yordania, konser Bocelli dijadwalkan berlangsung di Petra Cultural Village pada 27 November 2026 sebagai bagian dari tur dunianya. Kelompok anti-normalisasi Et’harrak meminta Friends of Jordan Festivals, yang menggelar acara itu bersama Dewan Pariwisata Yordania, untuk membatalkan pertunjukan tersebut. Mereka juga menyerukan masyarakat agar tidak membeli tiket maupun datang ke lokasi konser. Bagi kelompok ini, kehadiran artis yang memiliki hubungan dengan Israel dianggap sebagai bentuk normalisasi budaya.
Gelombang penolakan di Yordania muncul di tengah kemarahan publik atas perang Israel di Gaza dan rangkaian serangan di kawasan tersebut. Dalam beberapa waktu terakhir, aksi protes dan kampanye boikot di negara itu juga menyasar bisnis, seniman, dan figur publik yang dinilai punya kedekatan dengan Israel. Surat kabar Israel Haaretz melaporkan seruan boikot itu dan menyebutnya sebagai respons atas penampilan Bocelli di Israel serta keterlibatannya dalam acara yang mendukung militer Israel.
Di Indonesia, MUI menyoroti rencana dua konser Bocelli yang sudah masuk kalender pertunjukan tahun depan. Jadwal pertama adalah 31 Oktober 2026 di Taman Lumbini, Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Setelah itu, Bocelli direncanakan tampil pada 3 November 2026 di JIExpo New Hall Jakarta. Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, meminta seluruh rencana itu dihentikan demi menunjukkan keberpihakan pada kemanusiaan dan solidaritas untuk Palestina.
Sudarnoto menegaskan bahwa sikap MUI sejalan dengan posisi Indonesia yang sejak lama menolak penjajahan. Ia juga menyampaikan keberatan atas dugaan dukungan dari pihak-pihak pemerintah terhadap kedatangan Bocelli. Menurutnya, pertimbangan ekonomi dari sebuah konser tidak boleh mengalahkan prinsip politik luar negeri Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina. Ia mengingatkan agar pemerintah menaruh perhatian pada aspirasi masyarakat sebelum mengambil keputusan terkait acara tersebut.
MUI juga menyinggung riwayat Bocelli yang disebut pernah ikut dalam kegiatan penggalangan dana untuk Israel Defense Forces di Los Angeles pada 2010. Selain itu, Bocelli dikabarkan pernah tampil di Tel Aviv pada 2022 di depan lebih dari 20.000 penonton, lalu keesokan harinya mengunjungi Yerusalem yang diduduki Israel bersama keluarganya. Dalam kunjungan itu, ia disebut berkeliling ke Tembok Buraq, Gereja Makam Suci, dan sejumlah situs di Kota Tua, serta bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. MUI menegaskan, dukungan terhadap kekuatan militer yang dianggap terkait kejahatan kemanusiaan tidak dapat diterima, seraya mengapresiasi langkah pemerintah jika akhirnya membatalkan konser tersebut.










Discussion about this post