Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak tawaran Iran yang mengusulkan kesepakatan damai selama tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz. Penolakan itu ia sampaikan kepada wartawan di Gedung Putih, Washington D.C., pada Sabtu (26/9/2026), sesaat sebelum berangkat ke Tennessee untuk menghadiri agenda kampanye. Di balik penolakan tersebut, Teheran sebelumnya menawarkan pembukaan jalur pelayaran strategis itu sebagai langkah awal untuk memulai lagi pembicaraan nuklir dengan Washington.
Trump mengatakan dirinya tidak menerima skema yang diajukan Iran dan menilai langkah Teheran muncul karena posisi mereka sedang terdesak dalam konflik kawasan. Ia juga mengisyaratkan bahwa keinginan untuk bernegosiasi bukan hal yang asing baginya, karena menurut dia perundingan adalah bagian yang wajar dalam hubungan internasional. Namun, sikap Trump terhadap program nuklir Iran tetap keras. Ia disebut meragukan Teheran akan benar-benar memenuhi tuntutan untuk membongkar fasilitas dan kemampuan nuklirnya.
Menurut laporan yang dikutip TRT World dan The Wall Street Journal, Trump bahkan sempat memberi tahu para pembantunya bahwa ia memperkirakan serangan terhadap Iran bisa kembali terjadi setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang. Sehari sebelumnya, pada Jumat (25/9/2026) malam, ia juga memancing perhatian publik lewat unggahan di Truth Social yang menampilkan peta Selat Hormuz dengan nama baru, “Trump Strait”.
Usulan dari Iran sendiri disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi di sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York. Rencana itu dibawa ke Washington melalui perantara Qatar. Dalam skema yang diajukan, tenggat tujuh hari akan dimulai segera setelah Amerika menerima proposal tersebut: empat hingga lima hari pertama digunakan untuk langkah awal, hari keenam Selat Hormuz dibuka, lalu hari ketujuh pembicaraan nuklir dimulai.
Imbalan yang diminta Teheran tidak kecil. Iran menginginkan AS menghentikan blokade laut atas pelabuhan-pelabuhannya, memulihkan keringanan sanksi untuk ekspor minyak, serta melepaskan aset Iran yang dibekukan senilai sekitar 12 miliar dolar AS atau setara Rp214,9 triliun dengan kurs Rp17.909. Teheran juga meminta adanya gencatan senjata yang mencakup Lebanon dan Yaman. Jalur pelayaran alternatif yang ditawarkan itu nantinya akan beroperasi di area yang sebagian besar melewati perairan Iran.
Sebelum penolakan Trump mencuat, Araghchi sudah menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan. “Pilihan sekarang berada di tangan Amerika Serikat. Iran tidak menerima paksaan, ancaman, atau intimidasi, dan Iran tidak akan menyerahkan hak-hak kedaulatannya di bawah tekanan,” ujarnya di New York. Pada Sabtu malam, ia kembali mengatakan bahwa Teheran sudah melihat reaksi awal Trump di media, tetapi belum menerima jawaban resmi melalui mediator.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menegaskan negaranya tidak pernah meninggalkan jalur diplomasi, meski kehilangan kepercayaan kepada Amerika Serikat akibat pengalaman sebelumnya. Di sisi lain, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam, Hossein Mohebi, menyatakan pasukannya tak akan menghentikan tekanan terhadap AS sampai tujuh syarat Iran dipenuhi. Konflik yang berjalan sejak 28 Februari 2026 itu telah menewaskan ribuan orang, melemahkan kemampuan militer konvensional Iran, dan mengganggu arus minyak dunia sehingga biaya hidup global ikut terdorong naik.
Sumber: www.idntimes.com










Discussion about this post