Kehidupan Seorang Peternak Muda di Papua
Di tengah hawa dingin dan aroma tanah basah yang menyambut pagi di Kampung Dukom, Distrik Yiginua, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, seorang pemuda berusia muda tampak sibuk menjalani rutinitas harian. Di dalam bangunan sederhana dengan ukuran 3×5 meter, Frengki Kogoya terlihat aktif membersihkan sisa pakan ayam dan menyiapkan air minum untuk ratusan pasang mata ayam pedaging yang mengawasinya.
Frengki adalah seorang Sarjana Peternakan dari Universitas Kanjuruhan Malang. Daripada mencari kenyamanan di kota besar atau memburu seragam cokelat ASN, ia justru memilih pulang ke kampung halaman untuk menjadi peternak. Keputusan ini bukanlah sesuatu yang mudah, karena di saat banyak anak muda Papua menggantungkan harapan pada seleksi CPNS atau bantuan sosial, Frengki memilih jalur yang berbeda—jalur yang sunyi, penuh tantangan, tetapi juga menjanjikan kemandirian.
Awal Perjuangan yang Penuh Tantangan
Keputusan Frengki untuk merintis usaha tidak lahir dari gelimang modal. Justru, kisah ini dimulai dari sebuah kegagalan. Seperti kebanyakan pemuda Papua, Frengki pernah mencoba mengikuti tes CPNS, tetapi gagal. Dari kegagalan itu, ia mulai berpikir bahwa mungkin ia bisa menciptakan pekerjaan sendiri.
Agustus 2025 menjadi titik awal perjuangannya. Dengan tabungan pas-pasan sebesar Rp 3 juta, Frengki bertolak ke Wamena dan menukarkan uang tersebut dengan 30 ekor anak ayam pedaging beserta pakan seadanya. Langkah awalnya tidak mudah. Ketika tiang-tiang kandang bambunya berdiri, nada sumbang dan cemoohan warga sekitar mulai bermunculan.
Banyak warga meragukan eksperimennya. Dalam benak masyarakat setempat, ayam pedaging dianggap sebagai unggas yang rentan dan hanya bisa hidup di daerah pesisir yang panas. Menyuruh ayam tumbuh di dinginnya Lanny Jaya dianggap sebagai tindakan sia-sia.
Keberhasilan yang Mengubah Pandangan Warga
Namun, ilmu peternakan yang ia pelajari di Pulau Jawa tak mengkhianati hasil. Dengan ketelatenan tinggi, menjaga kehangatan kandang, mengatur sirkulasi udara, serta memastikan pakan selalu tersedia—ayam-ayamnya justru tumbuh gemuk dan sehat. Keraguan warga perlahan luluh berganti rasa kagum.
Kini, dari yang semula hanya 30 ekor, populasi ayam di kandangnya terus berkembang. Usai panen pertama, ia membeli 50 ekor, lalu naik lagi menjadi 100 ekor. Hingga hari ini, Frengki belum mengambil sepeser pun uang hasil penjualan untuk kepentingan pribadinya. Seluruh keuntungan diputar kembali demi mengejar mimpi yang lebih besar.
Menjual Ayam dengan Cara yang Berbeda
Di Lanny Jaya, Frengki menjual ayamnya dalam kondisi hidup agar konsumen mendapatkan daging yang benar-benar segar. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 100.000 untuk bobot 1,2 kg hingga Rp 150.000 untuk ayam berbobot 2 kg.
Tantangan terberatnya justru bukan soal pakan atau penyakit, melainkan budaya kekeluargaan yang sangat kental. Tidak jarang kerabat dekat datang minta ayam secara cuma-cuma. Namun, di sinilah mental profesionalismenya diuji.
“Kami sudah sepakat dengan keluarga. Ini usaha baru dibangun. Kalau keluarga mau ayam, silakan membeli. Sebab kalau semua diberikan gratis, usaha ini tidak akan pernah berkembang,” tegasnya.
Merubah Pola Hidup dan Membuka Masa Depan
Bagi Frengki, kandang ayam berukuran 3×5 meter itu tak hanya memberi income, tapi juga merombak gaya hidupnya secara drastis. Ia tak lagi punya waktu untuk sekadar nongkrong atau berjalan-jalan tanpa tujuan.
“Ayam pedaging ini sensitif sekali. Makan tidak boleh habis, air tidak boleh kosong. Jadi waktu saya habis untuk fokus di sini,” ujarnya.
Mimpinya tak berhenti di Kampung Dukom. Ia membayangkan suatu hari nanti memiliki peternakan berkapasitas 2.000 ekor, sehingga Kabupaten Lanny Jaya tak perlu lagi bergantung pada pasokan ayam beku dari luar daerah.
Pesan untuk Para Sarjana Muda
Di akhir perbincangan, pemuda ini menyelipkan pesan mendalam untuk para sarjana muda di tanah Papua Pegunungan. “Jangan hanya fokus menjadi PNS. Kita punya tanah yang luas, kita punya potensi luar biasa. Ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah harus dipakai untuk membangun daerah sendiri. Yang penting, beranilah untuk memulai,” katanya.
Dari balik kandang bersederhana di Yiginua, Frengki Kogoya telah membuktikan: masa depan Papua yang cerah tidak hanya diketik di balik meja kantor pemerintahan, tetapi juga dicangkul dan dirawat oleh tangan-tangan anak muda yang berani berkarya.









Discussion about this post