bali.
DENPASAR – Pada hari Sabtu (1/8), berdasarkan kalender Bali, hari ini jatuh pada Saniscara Kliwon Krulut.
Hari ini juga bertepatan dengan Tumpek Krulut, sebuah perayaan yang memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Sejumlah pura dan merajan di Bali menggelar upacara piodalan atau Dewa Yadnya. Upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk permulaan proses pembersihan di setiap Parahyangan.
Menurut beberapa literatur, piodalan didefinisikan sebagai perayaan hari jadi tempat suci. Bagi masyarakat Bali, upacara ini menjadi kewajiban untuk membayar utang kepada Ida Hyang Widi Wasa serta seluruh manifestasinya yang berstana di Pura Kahyangan Desa.
Piodalan di Pura Kahyangan Desa biasanya dilaksanakan setiap enam bulan sekali, namun ada juga yang digelar setiap tahun. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan sejahtera.
Dalam lontar Sundari Gama tertulis bahwa siapa pun yang tidak memelihara dan menjalankan kewajibannya di Pura Puseh, akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sandang dan pangan. Namun, bagi krama yang tulus melaksanakan kewajibannya kepada Ida Hyang Widi Wasa, kehidupan akan berjalan rukun dan tenteram.
Berikut adalah jadwal dan lokasi piodalan di Bali pada hari Sabtu (1/8) saat Saniscara Kliwon Krulut:
- Pura Pasek Gelgel Banjar Tengah Buleleng
- Pura Dalem Pemuteran di Desa Jelantik Tojan – Klungkung
- Pura Pedarmaan Bhujangga Waisnawa di Besakih
- Pura Taman Sari Desa Gunungsari Penebel – Tabanan
- Pura Dalem Tarukan di Bebalang Bangli
- Pura Benua Kangin Besakih
- Pura Merajan Kanginan (Ida Betara Empu Beradah) di Besakih
Upacara piodalan tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan terhadap kekuatan spiritual yang dianggap sebagai sumber keberkahan dan kesejahteraan bagi masyarakat Bali. Melalui tradisi ini, masyarakat diingatkan untuk menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dan alam, serta menjaga kebersihan fisik dan spiritual.
Setiap tahun, masyarakat Bali melakukan piodalan untuk memohon perlindungan dan berkah dari Ida Hyang Widi Wasa. Prosesi piodalan biasanya diiringi oleh doa-doa, tarian, dan pembacaan teks suci yang dilakukan oleh para petugas keagamaan. Selain itu, masyarakat juga menyiapkan sesajen dan persembahan yang diletakkan di sekitar pura sebagai simbol penghormatan dan rasa syukur.
Tradisi piodalan ini juga menjadi bagian dari identitas budaya Bali yang harus dilestarikan. Dengan adanya upacara ini, generasi muda dapat lebih memahami nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang diwariskan oleh leluhur mereka.
Melalui piodalan, masyarakat Bali tidak hanya memperkuat ikatan spiritual, tetapi juga memperkuat kerukunan dan persatuan dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, upacara piodalan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keseimbangan hidup di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat.








Discussion about this post