Pentingnya Ketahanan Gizi dalam Pembangunan Kesehatan ASEAN
Peningkatan ketahanan gizi menjadi fokus utama bagi pemerintah dan sektor swasta di kawasan ASEAN. Hal ini berkaitan dengan upaya memperkuat kesehatan preventif yang dapat memberikan dampak positif jangka panjang terhadap masyarakat dan ekonomi kawasan. Dalam laporan kesehatan terbaru yang diterbitkan oleh EU-ASEAN Business Council (EU-ABC), disampaikan bahwa pendekatan kebijakan berbasis siklus kehidupan (life-course approach) sangat penting untuk memperkuat ketahanan kesehatan dan ekonomi di kawasan ini.
Laporan tersebut menyoroti tiga pilar utama yang perlu diperhatikan, yaitu:
-
Ketahanan gizi
Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang cukup dan seimbang merupakan fondasi utama bagi kesehatan masyarakat. Dengan memastikan akses yang merata terhadap makanan bergizi, masyarakat akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kesehatan. -
Penerapan gaya hidup sehat
Mendorong pola hidup yang sehat melalui edukasi, kebijakan, dan inisiatif masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Ini mencakup aktivitas fisik, pengurangan konsumsi makanan tidak sehat, serta peningkatan kesadaran akan kesehatan mental. -
Penguatan praktik perawatan mandiri (self-care)
Memberdayakan individu untuk menjaga kesehatan mereka sendiri adalah langkah penting dalam membangun sistem kesehatan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Kesehatan preventif dipandang sebagai investasi strategis yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mengurangi beban pembiayaan kesehatan, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, serta memperkuat daya saing ekonomi ASEAN dalam jangka panjang.
Indonesia Menjadi Contoh Positif
Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat melalui berbagai program. Salah satunya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat. Program ini membuktikan bahwa inisiatif besar-besaran dapat memberikan dampak nyata pada peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Chris Humphrey, Direktur Eksekutif EU-ASEAN Business Council, menyampaikan bahwa upaya Indonesia dalam meningkatkan gizi dan kesehatan masyarakat, termasuk dalam penurunan stunting, menunjukkan bahwa prioritas yang ditetapkan sudah tepat. Namun, ia menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memastikan implementasi berbagai program tersebut dapat berjalan secara efektif dalam skala luas.
Ia juga mendorong adanya kolaborasi kuat antara pemerintah dan dunia usaha. “Kolaborasi antara pemerintah, sektor industri, akademisi, dan masyarakat sipil dapat membantu memperkuat ketahanan gizi, meningkatkan kesehatan masyarakat, serta membangun ketahanan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.
Rekomendasi dari Laporan ASEAN
Laporan kesehatan ASEAN yang disusun oleh EU-ABC memuat 29 rekomendasi utama mengenai bagaimana pemerintah dan sektor industri dapat bekerja sama untuk meningkatkan hasil gizi masyarakat, memperkuat upaya kesehatan preventif, serta membangun sistem konsumsi yang lebih berkelanjutan dan sirkular. Rekomendasi ini didasarkan pada pengalaman dari Eropa maupun kawasan ASEAN.
Dalam momentum seperti sekarang, kebijakan berbasis bukti, inovasi, serta kolaborasi lintas sektor sangat penting dalam menghadapi tantangan yang masih berlangsung, seperti stunting, defisiensi mikronutrien, obesitas, dan pola konsumsi yang kurang sehat.
Pendekatan Berbasis Siklus Hidup
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, Sri Ridha Hasanah, menekankan bahwa kemajuan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui kemitraan jangka panjang dan pendekatan kesehatan berbasis siklus hidup. Ia menambahkan, perlu ada komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan pilihan hidup sehat menjadi lebih mudah diakses, terjangkau, dan diterapkan oleh seluruh masyarakat.
“Jika kita memiliki tujuan kesehatan masyarakat yang sama, maka selalu ada ruang untuk berkolaborasi. Kami tidak memandang pertumbuhan ekonomi dan kesehatan masyarakat sebagai dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat yang lebih baik,” ujar Sri.










Discussion about this post