klikkepri.com
No Result
View All Result
  • Login
SUBSCRIBE
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
    • Lokal
    • BP Batam
    • Batam
    • Anambas
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
    • Edukatif
    • Olahraga
    • Bisnis
    • Otomotif
    • Nasional
    • Lifestyle
    • Sepak Bola
    • Serba Serbi
    • Tech
    • Index
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
    • Lokal
    • BP Batam
    • Batam
    • Anambas
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Natuna
    • Tanjung Pinang
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
    • Kriminal
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
    • Edukatif
    • Olahraga
    • Bisnis
    • Otomotif
    • Nasional
    • Lifestyle
    • Sepak Bola
    • Serba Serbi
    • Tech
    • Index
No Result
View All Result
klikkepri.com
  • Breaking News
  • Trending
  • Berita Utama
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Opini
  • Teknologi
  • Travel
  • Lainnya
Home Opini

Benarkah Rakyat Tak Bisa Mimpikan Kekayaan? Atau Lelah Dengan Sistem yang Tidak Adil?

Redaksi by Redaksi
1 Juni 2026 - 19:50
Reading Time: 3 mins read
0
Benarkah Rakyat Tak Bisa Mimpikan Kekayaan? Atau Lelah Dengan Sistem yang Tidak Adil?

Kehidupan Layak, Bukan Mimpi Kaya Raya



Pagi ini, saya tertegun membaca satu baris kalimat dari penulis Kalis Mardiasih:

“Mengapa tidak semua orang kaya? Karena adanya distribusi nilai dalam sistem yang timpang dan tidak setara.”

Entah kenapa, kalimat itu seperti benang merah yang mengaitkan buku yang saya baca dengan hiruk-pikuk di podium paripurna DPR beberapa waktu lalu. Di sana, Presiden Prabowo Subianto menyatakan sebuah realitas pahit. Beliau menyebut bahwa rakyat Indonesia sebenarnya tidak bermimpi hidup kaya raya. Mereka hanya ingin hidup layak: punya pekerjaan pantas, rumah teduh, makanan bergizi, dan pendidikan yang bisa mengangkat derajat anak-anak mereka.

Sebagai mahasiswa dengan peminatan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dan analis SDM Aparatur di Instansi Pemerintahan, pidato itu bukan sekadar retorika politik di telinga saya. Itu adalah diagnosis singkat tentang bagaimana sistem telah sukses merekayasa harapan dan mengerdilkan impian rakyatnya sendiri.

“Realistis”: Bekas Luka dari Kelas Pekerja

Mari bayangkan bapak-ibu kita yang duduk lelah di rumah-rumah pinggiran kota. Saat mendengar kalimat “rakyat tidak bermimpi kaya raya”, perasaan mereka mungkin terbelah. Di satu sisi, itu sangat valid. Mereka tak pernah muluk-muluk bermimpi punya Lamborghini atau private jet. Bisa bayar SPP anak tepat waktu dan makan dengan lauk yang pantas saja sudah jadi bentuk kemewahan tersendiri. Anak tak perlu “kerja serabutan” karena kepepet ekonomi adalah doa harian mereka.

Namun di sisi lain, di balik kata “cukup layak” itu, ada kelelahan lurus generasi. Orang tua kita sudah terlalu lama direm oleh struktur kerja yang kejam. Gaji yang naiknya selembut siput tak pernah sepadan dengan harga beras yang meroket tajam. Untuk keluarga menengah ke bawah, bermimpi “kaya raya” itu tabu. Maka keluarlah nasihat andalan: “Yang realistis aja, Nak. Cari kerja yang tetap, nggak usah aneh-aneh.”

Sikap “realistis” ini sebenarnya adalah bekas luka. Mereka bukan tidak mau bermimpi besar, tapi pengalaman mengajarkan bahwa kerja keras bagai kuda seringkali tak sebanding dengan reward-nya. Akses untuk naik kelas selalu terhalang oleh koneksi, privilege, dan posisi sosial.

Kacamata Mahasiswa PSDM: Sistemnya Memang Perlu Dirombak

Sebagai mahasiswa yang setiap hari belajar soal SDM, saya dididik untuk memandang pekerja bukan cuma sebagai “sumber daya” atau sekrup mesin pabrik. Manusia punya aspirasi, kebutuhan, dan konteks sosial. Tulisan Kalis soal “distribusi nilai” sangat relate dengan bagaimana sebuah organisasi mendistribusikan peluang dan penghargaan. Jika konsep ini kita tarik ke level negara, kita akan sadar bahwa ketimpangan itu nyata. Distribusi nilai yang berantakan terjadi di struktur kerja kita, di sistem pendidikan kita, dan di kebijakan ketenagakerjaan kita.

Buy JNews
ADVERTISEMENT

Pidato Presiden soal “hidup layak” harusnya jadi momentum bersih-bersih sistem. Negara harus berani menyentuh akar masalahnya. Mulai dari upah yang adil dan sesuai produktivitas, peluang upskilling yang tidak cuma dikuasai segelintir elite, hingga perlindungan sosial yang solid. Ketakutan akan kemiskinan tidak boleh lagi menjadi sensor otomatis yang mematikan mimpi anak muda.

Batas Bawah, Bukan Garis Finish

Barangkali, tidak bermimpi kaya raya bukan berarti rakyat miskin ambisi. Ambisi itu hanya sedang pingsan karena terlalu sering dihantam kenyataan: dibayar murah, dipinggirkan, dan dibiarkan tanpa jaminan hari tua. Kemiskinan, pada akhirnya, bukan cuma perkara dompet yang tipis. Kemiskinan adalah hilangnya kesempatan, hilangnya suara, dan terampasnya hak untuk sekadar memimpikan hidup yang lebih baik.



Sebagai anak dari keluarga biasa-biasa saja, saya menaruh harapan besar. Saya ingin melihat negara melangkah lebih jauh. Jangan cuma memastikan rakyat “tidak perlu bermimpi kaya”. Ciptakanlah sistem di mana anak dari keluarga paling miskin sekalipun boleh bermimpi menjadi apa saja, tanpa harus ditertawakan dan dianggap naif. Semoga kelak, “hidup layak” bukan lagi dianggap sebagai garis finish pencapaian negara, melainkan sekadar batas bawah. Sebuah pijakan dasar agar kita semua bisa membangun kehidupan yang lebih manusiawi, adil, dan tentu saja, bermartabat.

ShareTweetSend
Redaksi

Redaksi

Related Posts

Rezeki Tak Pernah Putus! 8 Weton Ini Dikabarkan Selalu Makmur dan Kaya Seumur Hidup
Opini

Rezeki Tak Pernah Putus! 8 Weton Ini Dikabarkan Selalu Makmur dan Kaya Seumur Hidup

30 Juli 2026 - 23:55
Pesan di HUT Bhayangkara, Sujiwo: Kerja Baik Tetap Dihujat, Polisi Harus Sabar
Opini

Pesan di HUT Bhayangkara, Sujiwo: Kerja Baik Tetap Dihujat, Polisi Harus Sabar

20 Juli 2026 - 15:53
Patahan Generasi
Opini

Patahan Generasi

19 Juli 2026 - 10:59
Menggugat Kehadiran dan Peran Homeless Media
Opini

Menggugat Kehadiran dan Peran Homeless Media

9 Juli 2026 - 07:47
5 momen paling dinantikan di akhir Reborn Rookie
Opini

5 momen paling dinantikan di akhir Reborn Rookie

8 Juli 2026 - 07:42
9 zodiak beruntung, ramalan cinta 2 Juli, Cancer menghadapi tekanan hubungan
Opini

9 zodiak beruntung, ramalan cinta 2 Juli, Cancer menghadapi tekanan hubungan

8 Juli 2026 - 02:53
Next Post
Marc Jacobs Beauty hadirkan koleksi makeup berwarna-warni

Marc Jacobs Beauty hadirkan koleksi makeup berwarna-warni

Abu Janda Dilaporkan ke Bareskrim Akibat Tuduhan Barbar dan Intoleran

Abu Janda Dilaporkan ke Bareskrim Akibat Tuduhan Barbar dan Intoleran

Discussion about this post

klikkepri.com

Klik Kepri Merupakan Portal Berita yang menyajikan informasi Indeks berita terkini dan terbaru hari ini dari peristiwa, kecelakaan, kriminal, hukum, berita unik, Politik, dan liputan khusus di Indonesia

Copyright© 2026 | Klikkepri.com

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Regional
  • Teknologi
  • Batam
  • Anambas
  • Bintan
  • Lingga
  • Natuna
  • Tanjung Pinang
  • Karimun
  • Disclamer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Subscription
  • Category
    • Lifestyle
    • Health
    • Travel
    • Opini
    • Tech
    • World
  • Landing Page
  • Buy JNews
  • Support Forum
  • Pre-sale Question
  • Contact Us

Copyright© 2026 | Klikkepri.com