Pengalaman Spiritual Anggota Amirul Haji 2026 Saat Mencium Hajar Aswad
Mohammad Jusuf Hamka, yang dikenal dengan panggilan Babah Alun, mengalami pengalaman spiritual mendalam saat berhasil mencium Hajar Aswad di tengah kerumunan jamaah yang sangat padat di Masjidil Haram, Makkah. Peristiwa ini terjadi dalam konteks pelaksanaan ibadah haji tahun 2026, yang dipenuhi oleh jutaan jamaah dari berbagai belahan dunia.
Babah Alun menceritakan bagaimana ia dan teman-temannya harus bersabar sejak dini hari untuk bisa mendekati Hajar Aswad. Mereka tiba di area Masjidil Haram sekitar pukul 02.00 waktu setempat dengan tujuan melaksanakan salat Subuh dan berharap mendapat kesempatan untuk menyentuh batu suci tersebut.
“Saya bilang sama teman-teman, kita pakai ihram saja sambil salat Subuh di sana. Kalau Allah ridho, mudah-mudahan bisa mencium Hajar Aswad,” ujarnya dengan nada haru. Ia tidak menyangka bisa mendapatkan posisi pertama di depan Ka’bah, yang bagi dirinya menjadi anugerah besar. Namun, keinginan lebih besar datang setelah doa-doa itu terkabulkan.
“Saya bilang, ya Allah, kalau boleh kebaikannya ditambah, saya cuma minta bisa menyentuh Hajar Aswad,” katanya. Ia juga mengingat kembali pengalaman empat puluh dua tahun lalu, ketika kondisi Masjidil Haram masih relatif sepi dan memudahkan akses ke Hajar Aswad. Tahun ini, situasi berbeda karena jumlah jamaah yang sangat besar membuat peluang mendekati Hajar Aswad terasa sangat sulit.
Setelah salat Subuh dan salat jenazah, Babah Alun bersama rekan-rekannya mulai bergerak menuju area Hajar Aswad. Dalam situasi yang sangat padat, ia dibantu oleh beberapa sahabat dan jamaah Indonesia untuk perlahan masuk ke barisan depan.
“Digoncang ke kanan kiri oleh jamaah dari berbagai negara, badan mereka besar-besar. Tapi saya terus berdoa minta kekuatan,” tuturnya. Beberapa kali ia sempat terdorong mundur oleh desakan jamaah lain. Bahkan salah satu jamaah asing tanpa sengaja menyikut dadanya saat berebut kesempatan mendekati Hajar Aswad.
Namun, di tengah situasi yang sangat rumit, Babah Alun akhirnya berhasil menyentuh sekaligus mencium Hajar Aswad. Menurut pengakuannya, ia bahkan mendapat kesempatan dua kali masuk mendekati batu suci tersebut sebelum akhirnya memilih mundur karena kelelahan.
“Saya sudah tidak kuat melawan arus orang yang mau masuk. Keluar itu lebih berat daripada masuk,” katanya sambil tertawa. Setelah berhasil keluar dari kerumunan, ia baru menyadari bahwa kain ihram bagian atasnya hilang akibat desakan jamaah.
“Saya bilang, Alhamdulillah yang hilang cuma ihram, bukan nyawa,” ujarnya. Di balik kisah spiritual tersebut, Babah Alun juga memberikan apresiasi tinggi kepada petugas haji Indonesia yang dinilainya bekerja luar biasa membantu jamaah di Tanah Suci.
Ia secara khusus menyoroti keberadaan petugas dengan topi oranye yang mudah dikenali jamaah haji Indonesia saat membutuhkan bantuan. “Topi oranye itu eye-catching. Kalau jamaah bingung tinggal cari petugas pakai topi oranye,” katanya.
Menurutnya, para petugas haji bukan hanya menjalankan tugas negara, tetapi juga menjalankan misi kemanusiaan dan ibadah. “Kalian ini bukan cuma pasukan Indonesia, tapi pasukan Allah yang membantu tamu-tamu-Nya,” ujarnya kepada para petugas.
Ia pun mengajak seluruh petugas tetap menjaga keramahan dan semangat melayani jamaah sebagai cerminan nama baik Indonesia di mata dunia. “Jangan lelah membantu saudara-saudara kita. Tunjukkan adab dan keramahan bangsa Indonesia,” tegasnya.









Discussion about this post