Perjalanan Intelektual: Dari Kesombongan Menuju Kesadaran Diri
Dalam dunia pencarian ilmu, sering kali kita dihadapkan pada sebuah fenomena menarik yang digambarkan melalui sebuah ungkapan Arab bijak: “Ilmu itu tiga jengkal. Barang siapa baru mempelajari satu jengkal, ia menjadi sombong. Barang siapa mempelajari dua jengkal, ia menjadi rendah hati. Dan barang siapa mempelajari tiga jengkal, ia menyadari bahwa dirinya belum mempelajari apa pun.” Ungkapan ini bukan sekadar tentang ukuran kuantitas pengetahuan, melainkan sebuah peta perjalanan sikap seorang pembelajar seiring bertambahnya pemahaman.
Fase Pertama: Sombong karena Pengetahuan Terbatas
Tahap awal dalam perjalanan intelektual sering kali ditandai dengan rasa percaya diri yang berlebihan. Seseorang yang baru saja menguasai sedikit pengetahuan cenderung merasa telah mengetahui segalanya. Mereka mudah mengkritik orang lain, gemar terlibat dalam perdebatan tanpa dasar yang kuat, dan selalu ingin dianggap paling benar. Pengetahuan yang minim ini seringkali dilihat melalui lensa yang sempit, namun dikira telah mencakup seluruh cakrawala. Inilah yang digambarkan sebagai “satu jengkal ilmu” yang melahirkan kesombongan.
Kesombongan dalam konteks ini bukanlah buah dari banyaknya ilmu, melainkan justru karena terbatasnya pemahaman. Orang dengan pengetahuan yang masih dangkal belum sepenuhnya menyadari betapa luas dan dalamnya lautan ilmu yang belum terjamah. Ibarat pepatah Indonesia, “Tong kosong nyaring bunyinya,” mereka lebih banyak berbicara dan mengklaim daripada benar-benar memahami kedalaman subjek.
Fase Kedua: Kerendahan Hati karena Kesadaran Kompleksitas
Namun, perjalanan intelektual terus berlanjut. Ketika seseorang mulai melangkah lebih jauh, membaca lebih banyak buku, berdiskusi dengan beragam individu, dan terpapar pada berbagai perspektif, pandangannya mulai berubah. Mereka mulai menyadari bahwa berbagai persoalan tidak sesederhana yang awalnya dibayangkan. Banyak hal ternyata memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks dan berlapis.
Kesadaran akan kompleksitas inilah yang kemudian menumbuhkan kerendahan hati. Sikap menghakimi secara gegabah mulai berkurang, kesimpulan terburu-buru ditinggalkan, dan kemampuan untuk mendengarkan lebih banyak daripada berbicara mulai berkembang. Inilah makna dari “dua jengkal ilmu” yang melahirkan sikap rendah hati. Mereka mulai mengadopsi prinsip “ilmu padi, makin berisi makin merunduk,” sebuah metafora yang menggambarkan kebijaksanaan dalam mengakui bahwa semakin banyak yang diketahui, semakin besar pula kesadaran akan hal yang belum diketahui.
Fase Ketiga: Kesadaran akan Keterbatasan Diri sebagai Puncak Kebijaksanaan
Tahap tertinggi dalam ungkapan bijak ini dicapai ketika seseorang telah menempuh perjalanan ilmu yang panjang dan mendalam. Mereka telah banyak membaca, melakukan penelitian, mengajar, dan terlibat dalam dialog yang tak terhitung jumlahnya. Namun, justru pada titik inilah mereka menyadari bahwa apa yang telah mereka kuasai hanyalah setetes air jika dibandingkan dengan samudra ilmu Allah Swt.
Kesadaran ini tercermin dalam sikap para ulama besar sepanjang sejarah. Imam Malik, misalnya, pernah menolak menjawab sebagian besar dari 40 pertanyaan yang diajukan kepadanya, dengan alasan “Lā adrī” (Saya tidak tahu). Bagi mereka yang diakui keilmuannya, pengakuan atas keterbatasan diri bukanlah sebuah kelemahan, melainkan puncak dari kebijaksanaan. Integritas ilmiah seringkali ditunjukkan bukan dengan banyaknya jawaban yang diberikan, melainkan dengan keberanian untuk mengakui batas-batas pengetahuan yang dimiliki.
Al-Qur’an sendiri mengingatkan kita akan keterbatasan pengetahuan manusia:
وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا.
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)
Ayat ini menegaskan bahwa sehebat apa pun pencapaian manusia dalam bidang ilmu pengetahuan, semuanya tetaplah sangat terbatas jika dibandingkan dengan ilmu Allah yang maha luas dan tak bertepi.
Relevansi di Era Digital
Di era digital saat ini, pesan bijak ini menjadi semakin relevan. Kemudahan akses terhadap informasi seringkali memberikan ilusi bahwa seseorang telah menjadi ahli hanya dengan membaca beberapa artikel atau menonton beberapa video. Padahal, informasi bukanlah ilmu, dan ilmu bukanlah kebijaksanaan. Kebijaksanaan sejati lahir ketika ilmu terinternalisasi, membentuk karakter, menumbuhkan kerendahan hati, dan memicu dorongan untuk terus belajar tanpa henti.
Oleh karena itu, ukuran keberhasilan dalam menuntut ilmu bukanlah seberapa banyak gelar yang disandang, seberapa banyak buku yang telah dibaca, atau seberapa sering pendapat kita diikuti oleh orang lain. Ukuran yang lebih penting adalah apakah ilmu yang diperoleh telah membuat kita menjadi pribadi yang lebih rendah hati, lebih bijaksana, dan lebih sadar akan keterbatasan diri.
Semakin seseorang mendekati hakikat ilmu, semakin jauh ia terlepas dari belenggu kesombongan. Ini karena ia memahami bahwa di atas setiap orang yang berilmu, selalu ada yang lebih berilmu. Sebagaimana firman Allah:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ.
“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan masih ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)
Perjalanan menuntut ilmu sesungguhnya bukan hanya tentang mengisi akal dengan berbagai pengetahuan, tetapi juga merupakan perjalanan untuk menundukkan ego. Orang yang benar-benar berilmu bukanlah mereka yang merasa telah mencapai puncak, melainkan mereka yang terus berjalan dengan penuh kerendahan hati, seraya menyadari bahwa semakin luas pengetahuan yang mereka miliki, semakin luas pula samudra ilmu yang belum terjangkau. Puncak ilmu bukanlah kesombongan, melainkan kerendahan hati (tawadhu’). Dan puncak kebijaksanaan adalah kesadaran mendalam bahwa kita harus terus belajar sepanjang hayat.









Discussion about this post