Presiden AS Donald Trump Mengklaim Blokade Selat Hormuz Memberi Keuntungan Besar
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa blokade Selat Hormuz telah memberikan keuntungan besar bagi negaranya. Ia menilai bahwa imbas dari blokade tersebut memungkinkan AS untuk menyita kapal-kapal yang melanggar dan mengambil minyak secara gratis dari mereka.
“Kami mengambil alih (kapal) kargo dan mengambil alih minyak. (Ini) bisnis yang sangat menguntungkan. Siapa yang menyangka, kami seperti bajak laut. Namun, kami tidak sedang bermain-main,” ujar Trump dalam sebuah acara di Negara Bagian Florida pada Jumat (1/5/2026).
Trump Ingin Tetap Mempertahankan Blokade Selat Hormuz
Oleh karena itu, Trump menyatakan ingin tetap mempertahankan blokade di Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan agar Negeri Paman Sam bisa makin untung. Ia juga akan membiarkan jika Iran tidak mau menyepakati perdamaian dengan AS. Dengan begitu, ia bisa terus memblokade Selat Hormuz.
Trump pernah berjanji akan terus menutup Selat Hormuz sampai Iran menyepakati perdamaian dengan AS. “Selat Hormuz sudah menjadi senjata Iran selama bertahun-tahun dan mereka mengatakan akan menutupnya. Jadi, mereka menutupnya. Lalu, saya juga menutupnya untuk mereka. Mungkin, kami (AS dan Iran) tidak perlu membuat kesepakatan apa pun,” tambah Trump.
AS Memblokade Selat Hormuz untuk Menekan Iran

AS sendiri mulai memblokade Selat Hormuz pada 13 April. Langkah ini dilakukan untuk menekan Iran agar mau menyepakati perdamaian dengan mereka. Seorang pejabat AS mengatakan bahwa Trump saat ini juga berencana memperpanjang blokade di selat tersebut.
Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Selasa (28/4/2026), Trump saat ini sudah menginstruksikan para jajarannya agar bersiap melakukan operasi untuk memperpanjang blokade di Selat Hormuz. Angkatan laut AS dikabarkan juga sudah siap untuk mengeksekusi operasi tersebut.
Iran Juga Memblokade Selat Hormuz

Selain AS, blokade Selat Hormuz juga dilakukan oleh Iran. Iran sendiri mulai memblokade Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu. Saat itu, langkah ini dilakukan sebagai balasan atas serangan AS dan Israel di Ibu Kota Teheran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Pada 17 April, Iran sebetulnya sudah membuka kembali Selat Hormuz secara penuh sebagai balasan karena AS bersedia menyetujui gencatan senjata. Namun, sehari setelahnya, Iran memutuskan untuk menutup lagi selat tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes Iran karena AS tetap memblokade pelabuhan miliknya meski sudah ada gencatan senjata.
Sebetulnya, Iran kini sudah bersedia untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kesediaan itu tertuang dalam proposal perdamaian baru yang dikirim ke AS lewat Pakistan pada pekan lalu. Sayangnya, Trump tidak puas dengan proposal tersebut. Sebab, proposal itu tidak berbicara soal penghentian program senjata nuklir milik Iran. Trump lebih suka Iran menghentikan program senjata nuklirnya jika ingin berdamai dengan AS.
Perang Iran dan Blokade Selat Hormuz
Perang Iran dan blokade Selat Hormuz telah menyebabkan penurunan lalu lintas kapal sebesar 95 persen. Hal ini menjadi prioritas di proposal terbaru Iran, bukan nuklir. Trump juga telah berjanji untuk mengawal kapal sipil keluar dari Selat Hormuz.










Discussion about this post